LITERASI DIGITAL ASN BARU DAN KESIAPAN
TRANSFORMASI DIGITAL SEKTOR PUBLIK: STUDI EMPIRIS PADA LEMBAGA RISET PEMERINTAH
Sutrisno Heru Sukoco*
Albertus Nur Cahya Nugraha**
Naily Kamaliah***
Imam Widodo****
Alpha Fadila Juliana Rahman*****
*Diektorat Pengembangan Kompetensi, BRIN, Indonesia
**Diektorat Pengembangan Kompetensi, BRIN, Indonesia
***Diektorat Pengembangan Kompetensi, BRIN, Indonesia
****Diektorat Pengembangan Kompetensi, BRIN, Indonesia
*****Diektorat Pengembangan Kompetensi, BRIN, Indonesia
*E-mail:
sutrisnoherusukoco@gmail.com
**E-mail: cahyo.nugrah4@gmail.com
***E-mail: naily1809@gmail.com
****E-mail: imamwidodo30@gmail.kom
*****E-mail: alphafadila@gmail.com
Abstract
Digital transformation in the public
sector requires civil servants to possess adequate digital literacy to support
technology-driven governance and organizational innovation. Despite its
importance, empirical evidence on digital literacy among newly recruited civil
servants, particularly within government research institutions, remains
limited. This study investigates the level and interrelationships of digital
literacy among new civil servants at the National Research and Innovation
Agency of Indonesia (BRIN) as an initial indicator of organizational readiness
for digital transformation. A quantitative survey employing a census approach
was conducted among newly recruited civil servants. Digital literacy was
assessed using four dimensions adapted from the National Digital Literacy
Movement (GNLD) framework and aligned with the Indonesian Digital Society Index
(IMDI), namely Digital Skills, Digital Safety, Digital Ethics, and Digital
Culture. Descriptive statistics and Pearson correlation analysis were applied
to evaluate literacy levels and the relationships among dimensions. The results
indicate that respondents demonstrate relatively high levels of digital
literacy across all dimensions. However, Digital Safety shows comparatively
lower scores and greater variability than the other dimensions. Correlation
analysis reveals significant positive relationships among all dimensions,
suggesting that digital literacy functions as an interconnected
multidimensional construct. This study contributes empirical evidence at the
micro-organizational level by providing a baseline assessment of digital
literacy among newly recruited civil servants in a government research
institution. The findings offer practical insights for developing targeted
capacity-building programs and strengthening digital governance policies to
support sustainable public-sector digital transformation.
Keywords: digital
literacy; new civil servants; public sector digital transformation; CABE
framework; IMDI
Abstrak
Transformasi digital di sektor publik menuntut
aparatur sipil negara (ASN)
memiliki literasi digital
yang memadai sebagai fondasi
penguatan sumber daya manusia
dan tata kelola pemerintahan
berbasis teknologi. Meskipun
demikian, kajian empiris mengenai literasi digital ASN
pada tingkat organisasi, khususnya pegawai baru di lembaga penelitian pemerintah, masih relatif terbatas.
Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat literasi digital Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Badan
Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai gambaran awal kesiapan sumber daya
manusia dalam mendukung
transformasi digital sektor publik.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
metode survei sensus. Pengukuran
literasi digital mengacu pada empat
pilar utama, yaitu Digital
Skills, Digital Safety, Digital Ethics, dan Digital Culture yang diadaptasi dari kerangka Gerakan Nasional Literasi
Digital (GNLD) serta selaras
dengan dimensi literasi
digital pada Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan korelasi Pearson.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa CPNS BRIN memiliki tingkat literasi digital yang tergolong tinggi pada seluruh dimensi yang diukur. Namun
demikian, aspek Digital Safety memperoleh skor paling
rendah dan menunjukkan variasi respons yang lebih besar dibandingkan
dimensi lainnya. Analisis korelasi
juga mengindikasikan adanya hubungan positif dan signifikan antar dimensi literasi digital. Temuan ini menegaskan bahwa literasi digital merupakan konstruk multidimensional yang saling
berkaitan serta memberikan dasar empiris
bagi pengembangan kebijakan peningkatan kapasitas
digital ASN, khususnya dalam penguatan aspek keamanan digital untuk mendukung
transformasi digital sektor publik
yang berkelanjutan.
Kata Kunci: literasi digital; ASN baru;
transformasi digital sektor publik;
CABE framework; IMDI
PENDAHULUAN
Seiring
meningkatnya tuntutan masyarakat
terhadap pelayanan publik
yang efektif, transparan, dan akuntabel,
transformasi digital telah menjadi agenda strategis
di sektor layanan publik di berbagai negara,
termasuk di Indonesia. Perkembangan ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam praktik pemerintahan dari e-government, yang berfokus
pada digitalisasi proses administrasi,
menuju digital government yang berfokus pada transformasi organisasi,
tata kelola kolaboratif, serta pengalaman pengguna yang lebih terintegrasi dan berorientasi pada warga (Aminah
& Saksono, 2021). Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa pemanfaatan teknologi digital di lingkungan
pemerintahan tidak hanya berorientasi
pada peningkatkan efisiensi
birokrasi, tetapi mencakup
upaya memperkuat transparansi,
akuntabilitas, dan pencegahan
korupsi melalui keterbukaan
data dan informasi (Abdul-Salam
et al., 2024; Setyarto et al., 2025). Berkaitan dengan hal tersebut, ketersediaan sumber
daya manusia aparatur yang berkualitas dan kompeten menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan
transformasi digital di sektor publik.
Studi-studi terdahulu menegaskan bahwa penguatan literasi dan kompetensi digital aparatur
sipil negara (ASN) merupakan
prasyarat utama bagi pencapaian agenda transformasi digital nasional,
sekaligus berperan dalam mengurangi kesenjangan layanan digital antarwilayah dan antarkelompok sosial (Cordella
et al., 2024; Hoan, 2024). Di sisi lain,
transformasi digital di sektor publik
menghadapi tantangan yang
tidak hanya dihambat oleh keterbatasan
infrastuktur teknologi, melainkan
oleh tantangan non teknis yang bersifat organisatoris dan kultural
termasuk resistensi terhadap
perubahan, kapasitas sumber daya yang belum memadai, serta lemahnya strategi manajemen perubahan (Dukić
et al., 2016; Espina-Romero, 2025). Mengingat
kompleksitas tantangan
tersebut, peningkatan literasi
digital ASN perlu dipahami sebagai upaya sistemik yang melibatkan peningkatan kompetensi individu, dukungan
organisasi, serta kepemimpinan dan komitmen
kebijakan yang berkelanjutan (Zhan
& Xie, 2025).
Salah
satu permasalahan utama yang masih dihadapi adalah ketimpangan antara ketersediaan teknologi
digital dan kemampuan aparatur
dalam memanfaatkannya secara efektif, aman, dan etis. Di banyak negara berkembang, adopsi
teknologi digital dalam tata kelola pemerintahan sering kali melampaui
kesiapan kompetensi aparaturnya, sehingga
berpotensi menimbulkan risiko keamanan, penurunan kualitas layanan, dan kegagalan penerapan kebijakan
digital (Hoan,
2024; Setyawan et al., 2025). Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi
digital sektor publik tidak
dapat diselesaikan hanya melalui investasi
infrastruktur, melainkan
harus disertai penguatan literasi
digital aparatur sebagai penggerak
utama.
Dalam
konteks Indonesia, tantangan
literasi digital direspons
melalui berbagai kebijakan dan instrumen pengukuran, salah satunya adalah Indeks Masyarakat Digital
Indonesia (IMDI), yang digunakan untuk memetakan kapasitas digital masyarakat,
termasuk aparatur negara. Merujuk
pada pilar literasi digital, IMDI menekankan
literasi digital dasar, keamanan
digital, dan etika digital sebagai kompetensi esensial untuk partisipasi yang produktif
dan bertanggung jawab dalam
ekosistem digital. Sejalan dengan tersebut, berbagai studi merekomendasikan pengembangan kerangka
penilaian kapasitas digital yang mengintegrasikan dimensi teknologi, organisasi,
dan manusia, serta penjabaran pengukuran literasi digital ke indikator kompetensi spesifik agar area kekuatan dan kelemahan dapat diidentifikasi secara lebih presisi
(Espina-Romero,
2025; Setyawan et al., 2025).
Di tingkat nasional, Gerakan
Nasional Literasi Digital (GNLD) yang diprakarsai oleh Siberkreasi merumuskan empat pilar literasi digital Cakap, Aman, Budaya, dan Etika (CABE) yang berfungsi
sebagai acuan utama dalam
pengembangan modul pelatihan literasi
digital. Meskipun hasil pengukuran
Indeks Literasi Digital Indonesia menunjukkan
pencapaian pada kategori
sedang, temuan menunjukkan masih adanya banyak ruang
perbaikan yang signifikan, termasuk di kalangan aparatur negara.
Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji literasi digital dalam konteks transformasi digital sektor
publik, kajian yang secara
khusus memotret ASN baru
pada tingkat mikro-organisasi
masih terbatas. Istilah ASN
baru merujuk pada Calon
Pegawai Negeri Sipil (CPNS) BRIN peserta Pelatihan
Dasar yang berada pada fase
awal karier birokrasi dan baru memasuki lingkungan
kerja organisasi. Studi yang ada
lebih banyak menempatkan literasi digital sebagai isu
kebijakan, kesiapan teknologi, atau kompetensi aparatur
secara umum, sehingga belum
memberikan gambaran empiris
tentang kondisi awal ASN pada fase
masuk birokrasi. Padahal, ASN baru
merupakan titik penting pembentukan kebiasaan kerja
digital, kepatuhan keamanan
informasi, dan etika penggunaan
data. Kesenjangan tersebut semakin
penting karena belum banyak
penelitian yang mengintegrasikan
kerangka empat pilar literasi digital Gerakan Nasional Literasi
Digital (GNLD) dengan dimensi literasi
digital dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) sebagai dasar pengukuran pada kelompok ASN baru.
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengisi kekosongan empiris
melalui pengukuran terstruktur
terhadap literasi digital
ASN baru sebagai baseline kesiapan transformasi
digital organisasi publik (Maulana
& Dečman, 2025).
BRIN
dipilih sebagai konteks penelitian
karena merupakan institusi
riset nasional yang memiliki
peran strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan
dan inovasi, lingkup kerja bekerja
dalam ekosistem berbasis
data, pemanfaatan platform digital, dan pengelolaan
informasi ilmiah. Karakter organisasi riset membuat literasi
digital ASN baru tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga dengan keamanan data, etika pemanfaatan
informasi, interoperabilitas kerja, dan budaya kolaborasi digital. Karena
itu, ASN baru BRIN merupakan
kelompok strategis untuk dibaca sebagai indikator
awal kesiapan sumber daya manusia
dalam mendukung transformasi digital sektor publik. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyediaan baseline
empiris literasi digital
ASN baru pada institusi riset pemerintah dengan mengintegrasikan kerangka
GNLD-CABE dan IMDI dalam satu pendekatan
pengukuran. Penelitian ini tidak dimaksudkan
untuk menghasilkan teori baru, melainkan memperkuat
pemahaman literasi digital aparatur sebagai konstruk
multidimensional yang saling terkait sebagaimana dikembangkan dalam kajian literasi digital pegawai
dan organisasi (Çetindamar
& Abedin, 2020; Çetindamar et al., 2024; Rumata & Nugraha, 2020).
Secara praktis, hasil penelitian
dapat digunakan untuk menentukan prioritas program
pengembangan kapasitas ASN, terutama pada aspek keamanan digital dan kecakapan
digital.
Berdasarkan
fokus tersebut, rumusan masalah penelitian
ini adalah: (1) bagaimana tingkat literasi
digital ASN baru BRIN berdasarkan empat
pilar CABE?; (2) aspek literasi
digital apa yang menjadi kekuatan
dan area prioritas perbaikan?; dan (3) bagaimana keterkaitan antarpilar literasi digital ASN baru serta implikasinya terhadap kesiapan transformasi digital sektor
publik?
METODE
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tambahan pertanyaan terbuka
sebagai sumber informasi pendukung. Pendekatan kuantitatif dipilih karena literasi digital dipandang sebagai konstruk multidimensi yang dapat ukur melalui indikator operasional
dan dianalisis secara statistik, terutama
dalam konteks organisasi sektor publik (Na-Nan
et al., 2019; Rumata & Nugraha, 2020). Pertanyaan terbuka digunakan secara terbatas sebagai informasi pendukung
untuk menangkap konteks, tantangan lapangan, dan kebutuhan
praktis yang tidak sepenuhnya
tergambarkan melalui data numerik.
Desain
penelitian yang digunakan
adalah survei potong lintang (cross-sectional
survey) yang umum diterapkan
dalam studi literasi
digital di sektor publik.
Desain ini memungkinkan pemetaan kondisi kompetensi
digital pada satu titik
waktu tertentu, sehingga
cocok untuk tujuan penelitian yang bersifat deskriptif dan eksploratif (Hoan,
2024; Rumata & Nugraha, 2020). Selain itu, pendekatan ini relevan untuk menilai literasi
digital sebagai kesiapan awal (baseline) ASN baru
dalam menghadapi transformasi digital organisasi publik (Dukić
et al., 2016).
Penelitian dilaksanakan pada periode 21 Juli
hingga 31 Oktober 2025 di lingkungan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sampel penelitian ditentukan melalui metode sensus
terhadap seluruh peserta
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang memenuhi kriteria penelitian. Seluruh peserta berjumlah 59 orang dan
seluruhnya berpartisipasi dalam pengisian kuesioner, sehingga tingkat respon mencapai 100%. Pemilihan ASN baru
didasarkan pada pertimbangan
posisi strategis sebagai calon agen
perubahan dalam transformasi digital sektor publik melalui adopsi praktik kerja digital dan kolaborasi
lintas unit (Maulana
& Dečman, 2025). Gumanti
& Uluputty (2023) dalam tulisannya menyatakan bahwa ASN pada fase awal karier cenderung memiliki akses dan paparan
teknologi yang lebih intensif dibandingkan
generasi senior, meskipun
belum tentu diikuti pemahaman mendalam tentang keamanan digital.
Pengumpulan
data dilakukan melalui kuesioner terstruktur
menggunakan Google Form yang disebar secara anonim untuk meminimalkan social
desirability bias, khususnya pada aspek kepatuhan, etika, dan keamanan digital (Irina, 2020). Metode kuesioner dipilih karena merupakan metode yang
paling lazim digunakan dalam
pengukuran literasi digital
serta memungkinkan pengolahan data yang efisien dan dapat direplikasi (Na-Nan
et al., 2019; Setyawan et al., 2025). Persetujuan
partisipasi (informed consent) diperoleh di
awal kuesioner, seluruh data dilaporkan secara agregat untuk menjaga anonimitas dan digunakan semata-mata untuk kepentingan ilmiah.
Instrumen
dirancang berdasarkan kerangka
Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) dengan empat pilar literasi digital
CABE, (Cakap, Aman, Budaya,
Etika) yang selaras dengan Indeks Masyarakat Digital
Indonesia (IMDI) dan kerangka teoretis
literasi digital sektor publik yang memandang literasi digital sebagai konstruk
multidimensi (Rumata
& Nugraha, 2020). Kuesioner terdiri
atas 30 butir pernyataan yang merepresentasikan
empat pilar literasi
digital, yaitu Etika Digital (8 butir),
Budaya Digital (7 butir), Keamanan Digital (8 butir), dan Kecakapan Digital (7 butir) yang mengukur persepsi dan praktik literasi digital dalam konteks
kerja maupun kehidupan sehari-hari.
Pengukuran menggunakan
skala Likert lima poin (1 = sangat tidak setuju hingga
5 = sangat setuju), sesuai standar penelitian literasi digital (Na-Nan
et al., 2019; Nikou et al., 2022). Validitas isi instrumen dilakukan melalui penelaahan kesesuaian butir dengan indikator
empat pilar CABE dan dimensi
Literasi Digital IMDI, kemudian
diperkuat melalui expert judgement oleh pihak yang memahami bidang literasi digital, kediklatan ASN, dan metodologi survei. Masukan hasil penelaahan digunakan untuk memperjelas redaksi butir, mengurangi tumpang tindih indikator, dan
memastikan keterukuran setiap pernyataan. Empat butir tambahan mengukur persepsi terhadap Mata
Pelatihan Agenda 3 tentang Smart ASN, mengacu pada pentingnya menghubungkan
kompetensi dengan transfer pelatihan ke lingkungan
kerja (Shukla
et al., 2023).
Analisis
kuantitatif dilakukan dengan
menghitung skor rerata tiap
pilar dan indeks komposit
sebagai rerata dari keempat pilar CABE, memungkinkan perbandingan
proporsional antardimensi (Rumata
& Nugraha, 2020). Skor dikategorikan
ke dalam tiga tingkatan: tinggi (≥4), menengah (3 hingga <4), dan rendah
(<3), mengacu pada praktik klasifikasi yang berlaku dalam pengukuran literasi digital nasional. Uji reliabilitas internal dilakukan menggunakan koefisien Cronbach’s
alpha untuk tiap pilar. Mengingat keterbatasan
ukuran sampel, uji reliabilitas
dipandang sebagai langkah metodologis paling layak dari
pada analisis faktor lanjutan (Kraiwanit
& Terdpaopong, 2024). Hubungan antarpilar literasi digital dianalisis menggunakan korelasi Pearson untuk menguji hipotesis keterkaitan antardimensi literasi digital
sebagai konstruk multidimensi
yang saling terkait (Hoan,
2024; Setyawan et al., 2025).
Jawaban
atas pertanyaan terbuka dianalisis
secara eksploratif melalui pengelompokan
kata kunci untuk mengidentifikasi tema tantangan dan kebutuhan literasi digital di tempat kerja. Data
terbuka tidak diposisikan
sebagai analisis kualitatif utama, melainkan sebagai pelengkap untuk
menafsirkan hasil kuantitatif.
Untuk peningkatan kredibilitas
temuan tematik pada penelitian lanjutan, disarankan penerapan double coding secara manual (Khan
et al., 2021).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bagian
ini menyajikan temuan empiris mengenai persepsi dan praktik literasi digital ASN baru di Badan Riset dan Inovasi
Nasional (BRIN). Pembahasan disusun untuk menjawab tiga rumusan masalah penelitian, yaitu tingkat literasi digital ASN baru, kekuatan dan area prioritas perbaikan pada setiap pilar, serta
keterkaitan antarpilar literasi digital dan implikasinya
terhadap kesiapan transformasi digital sektor publik. Pertanyaan terbuka digunakan sebagai
informasi pendukung untuk memperjelas
konteks temuan kuantitatif, bukan sebagai analisis kualitatif utama.
Secara
umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital ASN baru berada pada kategori tinggi (≥4)
secara agregat. Indeks literasi
digital komposit berbasis
pilar CABE mencapai rerata
4,62 pada skala 1–5, mendekati batas atas skala pengukuran.
Hampir seluruh responden termasuk dalam kategori tinggi, sebagaimana divisualisasikan pada Gambar 1. Temuan
ini sejalan dengan pandangan
bahwa generasi awal birokrasi memiliki paparan
teknologi yang lebih intensif dan kesiapan awal yang relatif baik untuk bekerja dalam lingkungan
digital, sebagaimana ditemukan pada studi literasi digital di kalangan mahasiswa dan kelompok usia
produktif awal (Hidayatullah
et al., 2024; Nuryadi & Widiatmaka, 2023). Namun demikian, studi terkait administrasi publik menegaskan bahwa skor agregat yang tinggi tidak serta-merta mencerminkan kesiapan organisasi
secara menyeluruh, karena literasi digital aparatur merupakan konstruk multidimensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan,
dan perilaku yang perlu diinstitusionalisasikan dalam
praktik kerja (Çetindamar & Abedin, 2020; Rumata & Nugraha,
2020).

Gambar 1. Distribusi
Tingkat Literasi Digital ASN Baru (Indeks CABE)
Profil Indeks Literasi
Digital ASN Baru
Penghitungan
indeks literasi digital komposit
menunjukkan bahwa ASN baru BRIN memiliki tingkat literasi digital yang tinggi, dengan proporsi dominan pada kategori tinggi dan proporsi sangat kecil pada kategori menengah (Gambar 1). Dari total 59 responden, 56 responden (94,92%) berada pada kategori tinggi dan 3 responden (5,08%) pada kategori
menengah, sementara tidak ditemukan responden pada kategori rendah.
Capaian ini
relatif lebih tinggi dibandingkan skor rata-rata Indeks Literasi
Digital Indonesia yang dilaporkan secara nasional dan masih berada pada kategori menengah. Perbedaan capaian
tersebut perlu dipahami secara kontekstual,
mengingat responden penelitian
merupakan ASN baru pada
institusi riset pemerintah yang umumnya memiliki latar belakang pendidikan
tinggi serta tingkat paparan dan intensitas penggunaan teknologi digital yang lebih besar dibandingkan populasi masyarakat umum.
Dominasi
responden pada kategori tinggi
menunjukkan bahwa ASN baru BRIN memiliki kesiapan awal
yang baik dalam mendukung transformasi digital organisasi. Kondisi tersebut dapat
dikaitkan dengan karakteristik
responden sebagai ASN baru pada institusi riset
pemerintah yang relatif dekat dengan penggunaan teknologi digital, pengelolaan
data, komunikasi daring, dan kolaborasi berbasis sistem informasi. Temuan ini sejalan dengan penelitian Maulana dan Dečman (2025) yang menunjukkan bahwa generasi muda pada seuah birokrasi berpotensi mendorong transformasi
digital melalui praktik kerja digital dan kolaborasi lintas unit. Namun, penelitian ini memberikan kontribusi yang lebih spesifik karena menyajikan bukti empiris pada
level mikro-organisasi, yaitu
ASN baru di lembaga riset
pemerintah. Meskipun demikian, skor yang tinggi perlu ditafsirkan secara
hati-hati karena instrumen berbasis
penilaian diri dapat memunculkan
kecenderungan skor terkonsentrasi
pada kategori tinggi, sebagaimana juga dicatat oleh Rumata dan Nugraha (2020). Oleh karena itu, skor komposit dalam penelitian ini lebih tepat dimaknai sebagai indikator kesiapan awal, bukan sebagai
bukti kematangan operasional
seluruh aspek literasi digital.
Statistik Deskriptif dan Reliabilitas per Pilar Literasi
Digital
Analisis
statistik deskriptif per pilar menunjukkan
variasi capaian literasi digital ASN baru (lihat
Tabel 1 dan Gambar 2). Pilar Etika Digital mencatat rerata tertinggi (M = 4,76), diikuti oleh Budaya Digital (M =
4,642) dan Kecakapan Digital (M = 4,637). Tingginya skor Etika Digital mengindikasikan
kesadaran normatif yang
kuat terkait tanggung jawab,
kepatuhan regulasi, dan etika berinteraksi di ruang
digital. Temuan ini sejalan
dengan penelitian sebelumnya yang menekankan
pentingnya etika digital
dalam menjaga kualitas layanan
publik, mencegah penyalahgunaan informasi, serta
membangun kepercayaan publik
terhadap pemerintahan
digital (Setyarto et al., 2025; Sutalhis & Novaria, 2024a).
Tabel
1.
Statistik deskriptif skor pilar
|
Variabel |
Mean |
SD |
Min |
Max |
|
Etika |
4.758 |
0.292 |
3.750 |
5.000 |
|
Budaya |
4.642 |
0.342 |
4.000 |
5.000 |
|
Keamanan |
4.451 |
0.476 |
3.375 |
5.000 |
|
Kecakapan |
4.637 |
0.396 |
3.571 |
5.000 |
|
Indeks CABE |
4.622 |
0.316 |
3.884 |
5.000 |
Pilar Budaya Digital juga menunjukkan
skor tinggi dan relatif homogen, yang mencerminkan
persepsi positif terhadap nilai
kolaborasi, keterbukaan,
dan komunikasi konstruktif di lingkungan
kerja digital. Temuan ini selaras
dengan Ghozi dan Shodiq (2025) yang menempatkan nilai BerAKHLAK sebagai budaya kerja ASN dalam pelayanan publik,
khususnya pada unsur adaptif dan kolaboratif. Dalam konteks BRIN, skor budaya digital
yang tinggi menunjukkan bahwa ASN baru telah memiliki modal sosial untuk bekerja secara terbuka, berbagi informasi, dan berinteraksi secara produktif
melalui media digital. Namun, capaian ini tetap perlu
diterjemahkan ke dalam praktik
organisasi, misalnya
melalui standar komunikasi digital, tata kelola kolaborasi lintas unit, dan pembiasaan penggunaan kanal kerja resmi. Dalam perspektif
transformasi organisasi, budaya
digital dipandang sebagai faktor
kunci yang memengaruhi penerimaan teknologi dan inovasi oleh pegawai, di samping ketersediaan
infrastruktur dan sistem
informasi (Dukić et al., 2016; Zhan & Xie, 2025). Temuan
ini memperkuat argumen bahwa literasi digital aparatur bukan hanya bersifat kompetensi individu, melainkan terwujud dalam norma
dan praktik kolektif organisasi.
Berbeda dengan pilar
lainnya, Keamanan Digital menunjukkan
rerata terendah (M = 4,451)
sekaligus simpangan baku terbesar (SD = 0,476), meskipun masih berada dalam kategori tinggi. Variasi ini mengindikasikan adanya ketidakteraturan
pemahaman maupun praktik keamanan digital di antara ASN baru. Pola tersebut konsisten
dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan
bahwa kesadaran risiko dan penerapan praktik keamanan digital sering
kali tertinggal dibandingkan
keterampilan operasional
digital (Gumanti & Uluputty, 2023; Irina, 2020). Temuan
ini juga sejalan dengan literatur
yang menempatkan keamanan
digital sebagai dimensi yang relatif
lebih lemah dibandingkan kecakapan teknis, meskipun
keduanya saling terkait dalam kerangka
kompetensi digital sektor publik
(Setyawan et al., 2025; Sutalhis & Novaria, 2024b). Tingginya
nilai reliabilitas internal
pada pilar ini (α > 0,80; lihat Tabel 2) menegaskan
bahwa variasi tersebut mencerminkan perbedaan nyata perilaku responden, bukan kelemahan instrumen.

Gambar 2. Rerata Skor Literasi Digital ASN Baru per Pilar
Dalam
perspektif teoretis, posisi
keamanan digital sebagai pilar dengan capaian relatif paling rendah mencerminkan adanya ketimpangan antara penguasaan keterampilan operasional digital dan internalisasi
praktik protektif di kalangan ASN baru. Temuan ini menguatkan literatur yang menyatakan bahwa generasi dengan tingkat paparan
teknologi yang tinggi tidak secara otomatis memiliki kesadaran risiko digital yang memadai, terutama dalam konteks organisasi publik yang diatur oleh prosedur dan regulasi formal (Gumanti & Uluputty, 2023; Irina, 2020). Dengan demikian, keamanan digital perlu dipahami
bukan semata sebagai aspek teknis, melainkan sebagai praktik organisasional yang menuntut pembiasaan, penguatan tata kelola,
dan dukungan lingkungan
kerja.
Temuan mengenai keterkaitan positif antarpilar literasi digital tidak
dimaknai sebagai pembentukan
teori baru, melainkan sebagai penguatan empiris
terhadap kerangka literasi digital aparatur sebagai
konstruk multidimensional yang saling
terkait. Hasil ini memperlihatkan bahwa
kecakapan teknis, keamanan
digital, etika digital, dan budaya
digital tidak berdiri sendiri, tetapi
saling berhubungan dalam membentuk kesiapan aparatur pada fase awal karier. Dengan
demikian, kontribusi teoretis penelitian
ini bersifat konfirmatif dan kontekstual,
yaitu memperluas penerapan pendekatan socio-technical
dan capability-oriented pada konteks ASN baru di institusi riset pemerintah (Çetindamar et al., 2024; Çetindamar & Abedin, 2020).
Tabel
2.
Reliabilitas internal (Cronbach’s alpha)
|
Skala |
Alpha |
|
|
Etika |
0.787 |
|
|
Budaya |
0.745 |
|
|
Keamanan |
0.854 |
|
|
Kecakapan |
0.840 |
|
|
(Evaluasi pelatihan) P1–P4 |
0.799 |
|
Pilar Kecakapan Digital mencatat rerata tinggi dengan reliabilitas sangat baik, menandakan
penguasaan keterampilan
dasar penggunaan perangkat
dan aplikasi digital. Temuan ini sejalan
dengan literatur yang mengaitkan
kecakapan digital dengan kesiapan kerja dan keterlibatan pegawai di lingkungan
digital (Chan et al., 2021; Nikou et al., 2022; Nuranita &
Restendi, 2022). Namun, keberadaan
sebagian kecil responden pada kategori
menengah menunjukkan perlunya penguatan kompetensi lanjutan, khususnya
dalam pemecahan masalah teknis dan analisis data,
agar keterampilan operasional
dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti (Dingelstad et al., 2022).
Profil keterkaitan capaian keempat pilar tersebut secara visual ditampilkan
melalui Radar Chart CABE (Gambar 3), yang memperlihatkan
bentuk profil literasi
digital yang relatif seimbang
dengan sedikit pelemahan pada pilar Keamanan Digital.

Gambar 3. Radar Chart Profil Literasi Digital CABE
Keterkaitan Antarpilar Literasi Digital
Analisis
korelasi Pearson menunjukkan
hubungan positif dengan kekuatan sedang hingga kuat antara seluruh pilar literasi digital (Tabel 3 dan Gambar 4).
Hasil
analisis ini mengonfirmasi hipotesis
penelitian yang menyatakan adanya hubungan signifikan dan positif antara keempat pilar literasi digital
ASN baru. Korelasi terkuat ditemukan antara Kecakapan Digital dan Keamanan
Digital (r = 0,676), yang mengindikasikan bahwa peningkatan keterampilan teknis cenderung diikuti oleh kesadaran dan praktik keamanan digital yang
lebih baik. Temuan ini sejalan
dengan kerangka kompetensi digital internasional seperti DigComp,
yang menempatkan keamanan
sebagai domain yang terintegrasi dengan penggunaan
teknologi dan pemecahan masalah (Setyawan et al., 2025).
Gambar
4.
Korelasi Pearson Antar Pilar Literasi
Digital
Tabel
3. Matriks
Korelasi Pearson Antar Pilar Literasi
Digital
|
Pilar Literasi Digital |
Statistik |
Etika Digital |
Budaya Digital |
Keamanan Digital |
Kecakapan Digital |
|
|
Etika Digital |
Pearson
Correlation |
1 |
,571** |
,599** |
,460** |
|
|
Sig.
(2-tailed) |
|
0 |
0 |
0 |
||
|
Keterangan |
59 |
Signifikan berkorelasi |
59 |
59 |
||
|
Budaya Digital |
Pearson
Correlation |
,571** |
1 |
,647** |
,573** |
|
|
Sig.
(2-tailed) |
0 |
|
0 |
0 |
||
|
Keterangan |
59 |
59 |
Signifikan berkorelasi |
59 |
||
|
Keamanan Digital |
Pearson
Correlation |
,599** |
,647** |
1 |
,676** |
|
|
Sig. (2-tailed) |
0 |
0 |
|
0 |
||
|
Keterangan |
59 |
59 |
59 |
Signifikan berkorelasi |
||
|
Kecakapan Digital |
Pearson
Correlation |
,460** |
,573** |
,676** |
1 |
|
|
Sig.
(2-tailed) |
0 |
0 |
0 |
|
||
|
Keterangan |
59 |
Berkorelasi |
Signifikan berkorelasi |
59 |
||
|
**
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). |
|
|||||
Hubungan
positif juga ditemukan antara Budaya
Digital dan Keamanan Digital (r = 0,647) serta antara Etika Digital dan Keamanan Digital (r = 0,600). Hubungan-hubungan ini menegaskan bahwa keamanan digital tidak hanya bergantung
pada kemampuan teknis individual, tetapi
juga dipengaruhi oleh nilai,
norma, dan budaya organisasi.
Literatur administrasi publik menekankan bahwa keberhasilan transformasi
digital sangat ditentukan oleh kesiapan individu, dukungan
organisasi, serta tata kelola yang mendorong perilaku aman dan bertanggung jawab (Cordella et al., 2024; Dukić et al., 2016). Dengan demikian, temuan ini mendukung pendekatan pengembangan literasi
digital perlu dirancang secara terpadu,
bukan terfragmentasi.
Area Prioritas Perbaikan Literasi Digital
Analisis
butir dengan skor terendah
(lihat ringkasan pada Tabel 4) memberikan gambaran area prioritas intervensi kebijakan dan program pengembangan kapasitas.
Pada pilar Keamanan Digital, aspek terlemah berkaitan dengan kemampuan
melaporkan konten atau akun
mencurigakan serta kebiasaan pencadangan data secara
berkala. Hal ini menunjukkan bahwa
tantangan utama terletak pada kesiapan respons terhadap
insiden keamanan dan pembentukan rutinitas perlindungan data, sebagaimana
ditemukan dalam studi keamanan
digital aparatur di Indonesia (Gumanti & Uluputty, 2023; Saragih, 2025). Pada pilar Kecakapan Digital, kelemahan relatif ditemukan pada kemampuan troubleshooting
teknis dasar dan pembuatan konten digital. Hal ini mengisyaratkan perlunya
pengembangan kompetensi problem solving dan kreasi konten untuk mendukung kolaborasi dan inovasi (Dingelstad et al., 2022; Nikou et al., 2022). Pada pilar Etika
Digital, kebutuhan penguatan pada pemahaman
regulasi dan literasi
informasi kritis penting untuk menghadapi
misinformasi dan penyalahgunaan
data (Sutalhis & Novaria, 2024b). Sementara pada
pilar Budaya Digital, isu inklusivitas dan aksesibilitas menyoroti pentingnya sensitivitas terhadap keberagaman serta penerapan norma komunikasi formal dalam ruang digital.
Tabel
4. Ringkasan Butir Literasi Digital dengan
Skor Rerata Terendah
|
Pilar |
Kode Butir |
Deskripsi Ringkas Butir |
Rerata |
Kategori |
|
Keamanan Digital |
S6 |
Mengetahui cara melaporkan konten atau akun
mencurigakan/melanggar hukum |
4,14 |
Tinggi |
|
Kecakapan Digital |
K6 |
Mampu memecahkan masalah teknis dasar pada
perangkat/aplikasi digital |
4,22 |
Tinggi |
|
Keamanan Digital |
S7 |
Melakukan pencadangan (backup) data kerja secara
berkala |
4,32 |
Tinggi |
|
Etika Digital |
E7 |
Memahami dan menerapkan regulasi digital (mis. UU
ITE) |
4,34 |
Tinggi |
|
Keamanan Digital |
S1 |
Menggunakan kata sandi kuat dan berbeda untuk akun
penting |
4,34 |
Tinggi |
|
Keamanan Digital |
S4 |
Memperbarui sistem operasi dan aplikasi secara
berkala |
4,36 |
Tinggi |
|
Keamanan Digital |
S2 |
Mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA) pada akun
penting |
4,39 |
Tinggi |
|
Budaya Digital |
C5 |
Memperhatikan aspek inklusivitas dan aksesibilitas
digital |
4,44 |
Tinggi |
Evaluasi Pelatihan dan Temuan
Kualitatif
Hasil
evaluasi terhadap materi pelatihan Agenda 3 Latsar tentang Smart ASN menunjukkan
persepsi yang sangat positif, dengan skor rerata
evaluasi berada pada kategori
tinggi (lihat Tabel 5). Tingginya
permintaan pelatihan lanjutan mengindikasikan kesadaran bahwa literasi digital adalah kompetensi dinamis yang memerlukan pembaruan berkelanjutan. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menekankan bahwa efektivitas transfer pelatihan ke praktik
kerja sangat dipengaruhi oleh kesesuaian
materi, dukungan organisasi,
dan kesempatan penerapan dalam lingkungan
kerja (Shukla et al., 2023).
Analisis
jawaban terbuka memperkuat temuan kuantitatif dengan menyoroti tantangan struktural dan organisasional,
seperti keterbatasan lisensi
perangkat lunak, akses data, keamanan digital, dan
infrastruktur. Literatur menunjukkan bahwa kesiapan
transformasi digital organisasi publik
sangat bergantung pada ketersediaan
enabling environment, termasuk infrastruktur, dukungan teknis, dan kebijakan organisasi
yang konsisten (Kraiwanit & Terdpaopong, 2024; Zhan & Xie, 2025). Dengan demikian, temuan kualitatif menegaskan bahwa penguatan literasi digital
ASN perlu disertai intervensi
organisasi yang mendukung,
agar kompetensi individu dapat dikonversi
menjadi kinerja dan inovasi
layanan publik yang berkelanjutan.
Tabel
5. Statistik
Deskriptif Evaluasi Pelatihan Agenda 3 Latsar (Smart
ASN)
|
Aspek Evaluasi Pelatihan Smart ASN |
Rerata |
Simpangan Baku |
Kategori |
|
Manfaat materi pelatihan bagi pemahaman literasi
digital |
4,61 |
0,53 |
Tinggi |
|
Relevansi studi kasus dengan tugas dan konteks kerja |
4,54 |
0,56 |
Tinggi |
|
Kesiapan menerapkan literasi digital pascapelatihan |
4,58 |
0,50 |
Tinggi |
|
Kebutuhan pelatihan lanjutan literasi digital |
4,56 |
0,49 |
Tinggi |
|
Rerata total evaluasi pelatihan |
4,57 |
0,52 |
Tinggi |
Implikasi Temuan terhadap Transformasi Digital Organisasi Publik
Implikasi teoretis penelitian ini terletak pada penguatan, bukan pembentukan,
teori literasi digital.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa literasi digital ASN baru dapat dipahami
sebagai kapasitas awal yang multidimensional dan belum sepenuhnya
terinstitusionalisasi dalam praktik
kerja organisasi. Temuan
ini mendukung kerangka yang
menempatkan literasi
digital pegawai sebagai kapasitas organisasional yang
berkembang melalui interaksi antara kompetensi
individu, tata kelola, prosedur
kerja, dan budaya organisasi
(Cordella et al., 2024; Dukić et al., 2016).
Lebih
lanjut, dengan berfokus pada ASN baru
di institusi riset pemerintah, penelitian ini memperluas cakupan kajian literasi digital sektor publik yang selama ini didominasi pendekatan makro dan normatif.
Secara konseptual, temuan
ini menunjukkan bahwa fase awal karier aparatur merupakan periode strategis dalam pembentukan praktik literasi digital yang berkelanjutan,
sehingga intervensi pada
tahap ini berpotensi memberikan dampak
jangka panjang bagi kesiapan transformasi digital organisasi publik.
KESIMPULAN
Penelitian ini
bertujuan menjawab tiga rumusan masalah, yaitu tingkat literasi digital ASN baru di BRIN, kekuatan dan kelemahan pada masing-masing pilar literasi
digital, serta keterkaitan antarpilar literasi digital dalam
mendukung kesiapan transformasi digital sektor publik. Dalam penelitian ini, ASN baru merujuk pada CPNS BRIN yang berada
pada fase awal karier birokrasi dan mengikuti Pelatihan Dasar CPNS, sehingga dapat dipandang sebagai kelompok strategis
dalam pembentukan kebiasaan
kerja digital, etika penggunaan
teknologi, dan praktik keamanan
informasi di lingkungan organisasi
publik.
Menjawab
rumusan masalah pertama, hasil penelitian
menunjukkan bahwa ASN baru di BRIN memiliki tingkat literasi digital yang relatif tinggi pada empat pilar CABE, yaitu kecakapan digital, keamanan
digital, etika digital, dan budaya
digital. Temuan ini mengindikasikan
bahwa ASN baru memiliki modal awal yang memadai
untuk mendukung agenda transformasi digital sektor publik, khususnya dalam konteks lembaga riset pemerintah yang banyak
bertumpu pada penggunaan
teknologi digital, pengelolaan data, komunikasi daring,
dan kolaborasi berbasis sistem informasi. Dengan demikian, literasi
digital ASN baru dapat diposisikan sebagai salah satu
indikator awal kesiapan sumber daya manusia aparatur dalam menghadapi tuntutan transformasi digital organisasi.
Menjawab
rumusan masalah kedua, kekuatan
utama literasi digital ASN baru tampak pada etika digital, budaya digital,
dan kecakapan digital. Tingginya
skor etika digital menunjukkan
adanya kesadaran normatif terhadap tanggung jawab, kepatuhan, dan perilaku etis di ruang digital. Skor budaya
digital yang tinggi mencerminkan
kesiapan awal untuk bekerja secara kolaboratif dan adaptif dalam lingkungan digital.
Sementara itu, kecakapan digital yang relatif tinggi menunjukkan bahwa ASN baru telah memiliki kemampuan dasar dalam menggunakan
perangkat, aplikasi, dan media digital. Namun
demikian, keamanan digital menjadi area prioritas perbaikan karena memperoleh rerata terendah dan variasi respons terbesar dibandingkan pilar
lainnya. Temuan ini menunjukkan
bahwa penguasaan teknologi
digital belum sepenuhnya diikuti
oleh pembiasaan praktik keamanan digital yang merata,
seperti perlindungan akun, pencadangan
data, pelaporan konten mencurigakan,
dan penerapan perilaku aman
dalam bekerja secara digital.
Menjawab
rumusan masalah ketiga, hasil korelasi
menunjukkan bahwa seluruh
pilar literasi digital memiliki
hubungan positif dan signifikan. Temuan
ini menegaskan bahwa literasi digital ASN baru merupakan konstruk
multidimensional yang saling berkaitan, bukan sekadar
kumpulan keterampilan
teknis yang berdiri sendiri. Dengan demikian, penelitian ini tidak dimaksudkan
untuk menghasilkan teori baru,
melainkan memperkuat pemahaman teoretis bahwa literasi digital aparatur perlu dipahami sebagai
kapasitas yang terbentuk melalui keterkaitan
antara kecakapan teknis, kesadaran keamanan, etika penggunaan teknologi, dan budaya kerja digital. Oleh karena
itu, pengembangan literasi digital ASN sebaiknya dilakukan secara
terintegrasi, tidak hanya melalui pelatihan penggunaan
teknologi, tetapi juga melalui penguatan tata kelola, etika digital, budaya kolaborasi, dan prosedur keamanan informasi.
Secara
praktis, hasil penelitian
ini memberikan dasar empiris bagi penyusunan
program pengembangan kapasitas ASN yang lebih terarah,
terutama dalam memperkuat keamanan digital, pemecahan
masalah teknis dasar, dan pembiasaan praktik kerja digital yang aman.
Bagi organisasi, hasil penelitian
ini dapat digunakan sebagai
baseline untuk merancang pelatihan lanjutan, menyusun kebijakan tata kelola
digital, serta mengintegrasikan
literasi digital ke dalam program pengembangan
kompetensi ASN sejak fase awal karier.
Dengan demikian, penguatan literasi digital tidak
hanya diarahkan pada peningkatan
kemampuan individu, tetapi
juga pada pembentukan budaya
kerja digital yang aman, etis,
kolaboratif, dan berkelanjutan.
Sebagai
keterbatasan, penelitian
ini hanya dilakukan pada satu
institusi riset pemerintah dan menggunakan desain potong lintang, sehingga generalisasi temuan perlu dilakukan secara
hati-hati. Selain itu, pengukuran literasi
digital berbasis penilaian diri responden berpotensi menghasilkan kecenderungan
skor tinggi. Penelitian
selanjutnya disarankan melibatkan
berbagai instansi
pemerintah, menggunakan desain
longitudinal, serta menguji
pengaruh faktor organisasi, kepemimpinan, budaya kerja, dan dukungan teknologi
terhadap perkembangan literasi
digital aparatur. Pendekatan
tersebut diperlukan agar pemahaman
mengenai literasi digital
ASN tidak hanya menggambarkan kesiapan awal individu,
tetapi juga menjelaskan bagaimana literasi
digital berkembang dan terinstitusionalisasi dalam praktik kerja organisasi publik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul-Salam, A.,
Adam, I. O., Alhassan, M. D., Umar, A. G., & Nterful, J. (2024). Examining
the Linkages Between Digitalisation, Public Service Delivery and Corruption in
Ghana. Transforming Government People Process and Policy, 18(2),
241–256. https://doi.org/10.1108/tg-01-2023-0002
Aminah,
S., & Saksono, H. (2021). Digital Transformation of the Government: A Case
Study in Indonesia. Jurnal Komunikasi Malaysian Journal of Communication,
37(2), 272–288. https://doi.org/10.17576/jkmjc-2021-3702-17
Çetindamar,
D., & Abedin, B. (2020). Understanding the Role of Employees in Digital
Transformation: Conceptualization of Digital Literacy of Employees as a
Multi-Dimensional Organizational Affordance. Journal of Enterprise
Information Management, 34(6), 1649–1672.
https://doi.org/10.1108/jeim-01-2020-0010
Çetindamar,
D., Abedin, B., Gerdsri, N., & Shirahada, K. (2024). Editorial Overview of
Digital Literacy of Employees and Organizational Transformation and Innovation.
Ieee Transactions on Engineering Management, 71, 7832–7836.
https://doi.org/10.1109/tem.2023.3322182
Chan,
A. J., Hooi, L. W., & Ngui, K. S. (2021). Do Digital Literacies Matter in
Employee Engagement in Digitalised Workplace? Journal of Asia Business
Studies, 15(3), 523–540. https://doi.org/10.1108/jabs-08-2020-0318
Cordella,
A., Gualdi, F., & Laar, M. v. d. (2024). Digital Skills Within the Public
Sector: A Missing Link to Achieve the Sustainable Development Goals (SDGs). Information
Polity, 29(1), 13–33. https://doi.org/10.3233/ip-230008
Dingelstad,
J., Borst, R. T., & Meijer, A. (2022). Hybrid Data Competencies for
Municipal Civil Servants: An Empirical Analysis of the Required Competencies
for Data-Driven Decision-Making. Public Personnel Management, 51(4),
458–490. https://doi.org/10.1177/00910260221111744
Dukić,
D., Đukić, G., & Bertović, N. (2016). Public Administration
Employees’ Readiness and Acceptance of E-Government. Information Development,
33(5), 525–539. https://doi.org/10.1177/0266666916671773
Espina-Romero,
L. (2025). Digital Transformation of the State: A Multivariable Model Applied
to the Public Sector in Lima, Peru. Administrative Sciences, 15(9),
365. https://doi.org/10.3390/admsci15090365
Ghozi, A.
A., & Shodiq, J. (2025). Core value BerAKHLAK Aparatur Sipil Negara sebagai
nilai-nilai budaya kerja dalam pelayanan publik. Wawasan: Jurnal Kediklatan
Balai Diklat Keagamaan Jakarta, 6(1), 1–15. https://doi.org/10.53800/kvht8708
Gumanti,
Z. N., & Uluputty, I. (2023). Digital Literacy of the State Civil Apparatus
in the Administrative Services Unit (ULA) of the Ministry of Home Affairs. Indonesian
Journal of Librarianship, 91–106. https://doi.org/10.33701/ijolib.v4i1.3315
Hidayatullah,
A., Patria, M., & Septanto, H. (2024). Analisis Tingkat Literasi Digital
Skill di Kalangan Mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Explore: Jurnal
Sistem Informasi Dan Telematika, 15(1), 104.
https://doi.org/10.36448/jsit.v15i1.3626
Hoan,
D. M. (2024). Developing Digital Literacy
for Vietnamese Civil Servants. Journal of Ecohumanism, 3(3),
1396–1407. https://doi.org/10.62754/joe.v3i3.3601
Irina,
N. O. (2020). Research of the Informational Needs of State and Municipal
Employees in the University Environment. International Journal of Media and
Information Literacy, 5(2).
https://doi.org/10.13187/ijmil.2020.2.134
Khan,
I., Khan, N., Jazim, F., Al‐Mamary, Y. H., Abdulrab, M., & Al‐Ghurbani, A. M.
(2021). The Effect of External Factors in Use of Technology Among Ha’il
University Academic Faculty: Evidence From Saudi Arabia. Journal of Applied
Research in Higher Education, 14(4), 1319–1339.
https://doi.org/10.1108/jarhe-04-2021-0140
Kraiwanit,
T., & Terdpaopong, K. (2024). Digital Transformation Model: The Study of
the Governmental Agency in a Developing Country. Journal of Governance and
Regulation, 13(1, special Issue), 458–470.
https://doi.org/10.22495/jgrv13i1siart18
Maulana,
R. Y., & Dečman, M. (2025). The Collaborative Digital Transformation
Model—The Case of Indonesian Youth. Journal of Public Affairs, 25(4).
https://doi.org/10.1002/pa.70077
Na-Nan,
K., Roopleam, T., & Wongsuwan, N. (2019). Validation of a Digital
Intelligence Quotient Questionnaire for Employee of Small and Medium-Sized Thai
Enterprises Using Exploratory and Confirmatory Factor Analysis. Kybernetes,
49(5), 1465–1483. https://doi.org/10.1108/k-01-2019-0053
Nikou,
S., Reuver, M. d., & Kanafi, M. M. (2022). Workplace Literacy Skills—How
Information and Digital Literacy Affect Adoption of Digital Technology. Journal
of Documentation, 78(7), 371–391.
https://doi.org/10.1108/jd-12-2021-0241
Nuranita,
R., & Restendi, D. (2022). Urgensi literasi digital bagi widyaiswara.
Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta, 2(1), 92–99.
https://doi.org/10.53800/wawasan.v2i1.74
Nuryadi,
M. H., & Widiatmaka, P. (2023). Strengthening civic literacy among students
through digital literacy in society 5.0. Journal of Education and Learning
(EduLearn), 17(2), 215–220.
https://doi.org/10.11591/edulearn.v17i2.20746
Rumata,
V. M., & Nugraha, D. A. (2020). Rendahnya Tingkat Perilaku Digital ASN
Kementerian Kominfo: Survei Literasi Digital Pada Instansi Pemerintah. Jurnal
Studi Komunikasi (Indonesian Journal of Communications Studies), 4(2),
467. https://doi.org/10.25139/jsk.v4i2.2230
Saragih,
H. (2025). The Role of Digital Transformation in Enhancing Performance and
Security of Technology Infrastructure in Public Institutions. Edelweiss
Applied Science and Technology, 9(6), 679–686.
https://doi.org/10.55214/25768484.v9i6.7865
Setyarto,
D. B., Alimuddin, A., Mulyaningsih, M., & Judijanto, L. (2025). The Role of
E-Government in Increasing Transparency and Accountability of Public
Administration in the Digital Era. Edelweiss Applied Science and Technology,
9(2), 1771–1783. https://doi.org/10.55214/25768484.v9i2.4908
Setyawan,
Y. F., Gumilar, A., Apriliani, I., & Bhaskoro, F. (2025). Nexus Between
Digital Competency Level and Performance Level of State Civil Apparatus. Journal
La Sociale, 6(2), 293–308.
https://doi.org/10.37899/journal-la-sociale.v6i2.1832
Shukla,
A., Dash, S. S., & Kumar, A. (2023). Factors Affecting Transfer of Online
Training: A Systematic Literature Review and Proposed Taxonomy. Human
Resource Development Quarterly, 35(3), 363–390.
https://doi.org/10.1002/hrdq.21518
Sutalhis,
M., & Novaria, E. (2024a). Literasi Digital Dan Pelayanan Publik Yang Baik.
Academia Jurnal Inovasi Riset Akademik, 4(1), 17–23.
https://doi.org/10.51878/academia.v4i1.2812
Sutalhis,
M., & Novaria, E. (2024b). Literasi Digital Dan Pelayanan Publik Yang Baik.
Academia Jurnal Inovasi Riset Akademik, 4(1), 17–23.
https://doi.org/10.51878/academia.v4i1.2812
Zhan,
X., & Xie, S. (2025). Linking Workplace Digitalization to Work Engagement:
Evidence From China Public Sector Organizations. Frontiers in Psychology,
16. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1455250