PENGEMBANGAN DAN VALIDASI MEDIA INTERAKTIF DONBO SEBAGAI MEDIA EDUKASI SEKSUAL BAGI ANAK USIA DINI

 

Zahra Muthmainnah*

Miska Zahira**

Arya Sentana Krisnadiharja***

Ardi Kumara****

Yuliana Dwi Asworo*****

*MAN 10 Jakarta Barat, Indonesia

**MAN 10 Jakarta Barat, Indonesia

***MAN 10 Jakarta Barat, Indonesia

****Universitas Negeri Jakarta, Indonesia

*****MAN 10 Jakarta Barat, Indonesia

*E-mail: zahramuthmainnah98@gmail.com

**E-mail: miiskaamiis@gmail.com

***E-mail: aryakrisnadiharja@gmail.com

****E-mail: ardikumara01@gmail.com

*****E-mail: yulianaasworo@gmail.com

 

Abstract

Sexual violence against children remains a serious issue, necessitating educational efforts that instill an understanding of body safety and personal boundaries from an early age. However, the availability of learning media specifically designed to help parents introduce these concepts to children is still limited. This study aims to develop and evaluate the interactive DONBO media as a means of educating children about body safety and personal boundaries from an early age to support the prevention of sexual violence. The study used a qualitative descriptive method involving two groups of informants: a user group consisting of six parents and six children, and an expert group consisting of a psychologist and an educational technology expert. Data were collected through interviews and expert validation to assess the suitability of the material, ease of use, and educational value of the developed media. The results showed that the interactive DONBO media was deemed feasible and appropriate for use as a learning tool to introduce body parts, body functions, and the concept of personal boundaries to young children. The interactive and child-friendly design helps improve communication between parents and children in understanding private body parts and the importance of protecting oneself from inappropriate touch. This study contributes by presenting innovative educational media that supports efforts to prevent sexual violence by strengthening body safety education from an early age. Further research is recommended to test the effectiveness of DONBO media on a wider sample using an experimental design.    

Keywords: physical safety education; child sexual violence; DONBO interactive media; descriptive qualitative; prevention of sexual violence.

Abstrak

Kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi permasalahan yang memerlukan perhatian serius, sehingga diperlukan upaya edukatif yang mampu menanamkan pemahaman tentang keselamatan tubuh dan batasan diri sejak usia dini. Namun, ketersediaan media pembelajaran yang dirancang khusus untuk membantu orang tua mengenalkan konsep tersebut kepada anak masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi media interaktif DONBO sebagai sarana edukasi keselamatan tubuh bagi anak usia dini untuk mendukung pencegahan kekerasan seksual. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melibatkan dua kelompok informan, yaitu kelompok pengguna yang terdiri atas enam orang tua dan enam anak, serta kelompok ahli yang terdiri atas seorang psikolog dan seorang ahli teknologi pendidikan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan validasi ahli untuk menilai kesesuaian materi, kemudahan penggunaan, serta nilai edukatif media yang dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media interaktif DONBO dinilai layak dan sesuai digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk mengenalkan bagian tubuh, fungsi tubuh, serta konsep batasan pribadi kepada anak usia dini. Desain yang interaktif dan ramah anak membantu meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak dalam memahami bagian tubuh yang bersifat pribadi serta pentingnya menjaga diri dari sentuhan yang tidak pantas. Penelitian ini berkontribusi dengan menghadirkan media edukasi inovatif yang mendukung upaya pencegahan kekerasan seksual melalui penguatan pendidikan keselamatan tubuh sejak dini. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji efektivitas media DONBO pada sampel yang lebih luas dengan menggunakan desain eksperimen.

Kata Kunci: edukasi keselamatan tubuh; kekerasan seksual anak; media interaktif DONBO; deskriptif kualitatif; pencegahan kekerasan seksual


 


PENDAHULUAN

Kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi salah satu permasalahan serius yang mengancam tumbuh kembang anak di Indonesia (Kayowuan Lewoleba & Helmi Fahrozi, 2020). Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa gangguan fisik, tetapi juga trauma psikologis, penurunan kepercayaan diri, serta berbagai masalah perkembangan sosial dan emosional yang dapat berlangsung hingga dewasa (Batian, 2024), Tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak menunjukkan bahwa upaya pencegahan perlu dilakukan secara lebih sistematis melalui keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat (Sampurna & ., 2016).

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak masih mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi ini diperparah oleh kemudahan akses terhadap konten digital yang tidak sesuai usia, rendahnya literasi digital keluarga, serta keterbatasan pemahaman anak mengenai batasan tubuh dan perlindungan diri (Kayowuan Lewoleba & Helmi Fahrozi, 2020). Banyak anak belum mampu mengenali bagian tubuh yang bersifat pribadi maupun memahami tindakan yang termasuk perilaku tidak pantas, sehingga rentan menjadi korban kekerasan seksual (Azzahra, 2020; Budiman & Wibowo, 2024).

Salah satu strategi preventif yang direkomendasikan adalah pemberian edukasi seksualitas sejak usia dini melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak (Arika & Ichsan, 2022). Edukasi seksualitas pada anak usia dini tidak berfokus pada aspek reproduksi semata, tetapi mencakup pengenalan tubuh, batasan pribadi, hak atas tubuh, serta kemampuan melindungi diri dari sentuhan yang tidak diinginkan (Dewi et al., 2025). Namun demikian, pelaksanaan edukasi seksualitas masih menghadapi berbagai hambatan. Sebagian orang tua menganggap topik tersebut sebagai sesuatu yang tabu, sementara sebagian lainnya mengalami kesulitan dalam memilih metode dan media yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak (Tampubolon et al., 2019).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif mampu meningkatkan keterlibatan anak dan mempermudah penyampaian materi yang bersifat sensitive (Hardiyantari & Fatmawati, 2021; Novita et al., 2023; Sari et al., 2021). Media yang menggabungkan unsur visual, audio dan aktivitas interaktif dapat membantu anak memahami konsep secara lebih konkret sesuai karakteristik perkembangan kognitif pada usia dini (Jafnihirda et al., 2023). Meskipun demikian, media edukasi yang secara khusus dirancang untuk membantu orang tua mengenalkan konsep keselamatan tubuh (body safety) kepada anak usia 6–7 tahun masih relatif terbatas.

Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini hadir untuk menunjukkan peran penggunaan media interaktif DONBO dalam mengedukasi pendidikan seksual bagi anak usia dini serta apakah melalui media interaktif dapat memberikan pemahaman batasan privasi tubuh pada anak usia dini. Adapun Modul DONBO (Don't Touch Book) adalah media interaktif yang dirancang untuk mendukung edukasi keselamatan tubuh dan pencegahan kekerasan seksual pada anak usia dini. Modul ini dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik perkembangan kognitif anak pada tahap praoperasional, sehingga materi disajikan melalui ilustrasi visual, audio, dan aktivitas interaktif yang mudah dipahami. Selain ditujukan bagi anak, modul ini juga dilengkapi panduan penggunaan bagi orang tua sebagai fasilitator utama dalam proses pembelajaran.

Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan media interaktif berbasis body safety education yang tidak hanya berfokus pada anak sebagai pengguna utama, tetapi juga memfasilitasi interaksi edukatif antara orang tua dan anak dalam membangun pemahaman mengenai tubuh, batasan pribadi, serta perlindungan diri dari risiko kekerasan seksual. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis dalam mendukung upaya pencegahan kekerasan seksual sejak usia dini melalui pendekatan edukatif yang ramah anak dan berbasis keluarga.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami fenomena secara mendalam berdasarkan data yang diperoleh di lapangan. Pendekatan tersebut digunakan untuk menggambarkan kebutuhan edukasi seksual pada anak usia dini serta implementasi modul DONBO sebagai media pembelajaran. Penelitian deskriptif kualitatif berfokus pada penyajian deskripsi yang komprehensif mengenai suatu fenomena berdasarkan pengalaman dan pandangan partisipan (Safarudin et al., 2023). Tahapan penelitian meliputi:

1.    Identifikasi kebutuhan

Mengidentifikasi kebutuhan edukasi seksual anak usia dini dan menetapkan tujuan, pada tahap ini peneliti mengkonsultasikan materi edukasi yang dibutuhkan oleh anak dengan rentang usia 6 hingga 7 tahun.

2.    Perancangan media dan Materi

Menentukan struktur, format, metode penyampaian dan konten edukasi seksual yang akurat, relevan, dan sesuai usia yang diwakili oleh Gambar 1.

Gambar 1 Bona dan Boni

 

3.    Implementasi dan Pengujian Awal

Membuat prototipe dan melakukan pengujian awal pada 6 anak dengan rentang usia 5 hingga 6 tahun seperti pada Gambar 2.

Gambar 2 Modul DONBO

 

4.    Evaluasi

Mendistribusikan modul DONBO seperti Gambar 3, menyediakan pelatihan, dan memonitor efektivitasnya.

 

Gambar 3 Wawancara

 

Dalam penelitian ini, subjek penelitian dipilih melalui teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2019), pengambilan sampel purposive didasarkan pada pertimbangan atau standar yang telah ditetapkan sebelumnya oleh penelitian. Kriteria informan yang relevan sebagai berikut:

1.    Seorang ahli media edukasi yang memiliki kemampuan dalam mendesain, mengembangkan, dan mengevaluasi serta menjadi validator.

2.    Seorang psikolog yang memiliki pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak.

3.    Enam anak-anak dengan rentang usia 6-7 tahun yang mendapat pengalaman dalam menerima pendidikan seksual.

4.    Enam orang tua yang mempunyai anak dengan rentang usia 6-7 tahun.

 

Peneliti menggunakan wawancara dengan pendekatan wawancara semi terstruktur untuk pengambilan data. Sugiyono (2019) menggambarkan wawancara sebagai teknik pengumpulan data dimana peneliti meminta pendapat secara lisan dari informan. Jenis wawancara semi terstruktur menggunakan pertanyaan terbuka, tetapi memiliki batasan pada tema dan alur wawancara, kecepatan wawancara dapat diprediksi, fleksibel tetapi terkontrol. Peneliti mengumpulkan data dengan mewawancarai para informan pada bulan September hingga bulan Oktober tahun 2024 di kediaman masing-masing informan.

Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model tahapan interaktif dengan 4 tahap yang saling berkesinambungan (Miles et al., 2014) meliputi:

1.    Pengumpulan data melalui wawancara dan dicatat dalam bentuk catatan deskripsi dan refleksi. (pengambilan data menggunakan metode apa)

2.    Kondensasi data yang dilakukan setelah mengumpulkan data wawancara, dengan menyederhanakan dan mengabstraksi hasil, mengurangi data yang umum.

3.    Penyajian data yang disajikan dalam bentuk tabel agar pembaca lebih mudah memahaminya.

4.    Penarikan Kesimpulan untuk memastikan bahwa kesimpulan yang dibuat valid dan kokoh dengan melakukan pemeriksaan ulang.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan dua kelompok informan, yaitu masyarakat umum dan ahli. Kelompok masyarakat umum terdiri atas anak usia 6–7 tahun dan orang tua, sedangkan kelompok ahli terdiri atas psikolog yang memiliki pemahaman mengenai perkembangan anak serta ahli media edukasi yang memiliki kompetensi dalam merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi media pembelajaran sekaligus bertindak sebagai validator. Peneliti mewawancarai delapan informan dari kelompok masyarakat umum. Namun, pada wawancara informan ke-6 telah mencapai saturasi data, yaitu kondisi ketika informasi yang diperoleh cenderung berulang dan tidak ditemukan temuan baru yang signifikan.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa anak-anak memerlukan media edukasi yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan tahap perkembangannya untuk mengenal anggota tubuh, memahami batasan tubuh pribadi, serta mengetahui cara melindungi diri dari tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual. Orang tua juga menyampaikan perlunya media yang dapat membantu mereka menyampaikan materi pendidikan seksual kepada anak dengan bahasa yang sederhana dan nyaman. Sementara itu, ahli menegaskan pentingnya penggunaan media yang interaktif, sesuai usia anak, serta mampu memfasilitasi komunikasi antara orang tua dan anak terkait pendidikan seksual.

Data yang diperoleh melalui wawancara dari berbagai kelompok informan tersebut digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian mengenai peran media edukasi DONBO dalam mengedukasi anak usia dini terkait pendidikan seksual sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual, sekaligus sebagai media interaktif yang mendukung komunikasi dan proses pembelajaran antara ibu dan anak. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media edukasi DONBO berpotensi membantu anak mengenali bagian tubuh pribadi, mampu memahami batasan sentuhan yang aman dan tidak aman, serta meningkatkan keterlibatan orang tua dalam memberikan pendidikan seksual sejak dini.

Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan dan mengonfirmasi informasi yang diperoleh dari kelompok masyarakat umum dan kelompok ahli. Teknik ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kepercayaan dan kebenaran data penelitian kualitatif melalui penggabungan berbagai sumber informasi yang relevan sehingga diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran media edukasi DONBO dalam pendidikan seksual anak usia dini.

Peneliti mengumpulkan data melalui teknik wawancara mulai dari proses penyusunan panduan wawancara, proses wawancara, transkrip data, dan kondensasi data. Berdasarkan pengumpulan data yang telah dilakukan oleh peneliti, disajikan hasil wawancara pada Tabel 1.


 

Tabel 1. Hasil Wawancara

Tema

Pertanyaan

Informan

Hasil Wawancara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemahaman tentang bagian tubuh pribadi

 

 

 

 

Bisakah Anda sebutkan bagian-bagian tubuh?

A1 = Mata, hidung, telinga, mulut. A2 = Rambut, mulut, pipi, tangan, kaki, hidung

A3 = Kepala, kaki, tangan, muliut, hidung, muka, kuping. A4 = Rambut, perut

A5 = Mata, hidung, telinga, mulut.

A6 = Tangan, kaki, mata, paha

Informan 5 (29

September 2024) “Mata, hidung, telinga, mulut.”

 

Informan 6 (30

September 2024)

“Tangan, kaki, mata, paha.”

 

 

 

 

Bagian tubuh tidak boleh disentuh oleh orang lain?

 

A1 = Mulut, mata, rambut, pipi, kemaluan, bokong

A2 = Rambut, pipi, dan leher

A3 = Titit (alat kelamin) ama perut ga boleh, pantat

A4 = Tangan dan pipi bila segender

A5 = Perut

A6 = Bokong, kelamin, mulut dan dada

Informan 4 (28

September 2024)

“Tangan boleh disentuh sama cewek, pipi boleh kalau cewek.”

 

Informan 5 (29

September 2024)

“Rambut boleh dipegang, perut

ngga boleh dipegang.”

 

 

Apa yang Anda lakukan jika ada orang yang menyentuh bagian tubuh Anda yang tidak boleh disentuh?

A1 = Jangan megang

A2 = Marah dan bilang jangan pegang

A3 = Ga mau

A4 = Marah, ngadu ke guru sama umi

A5 = Marah

A6 = Ga boleh

 

 

Informan 6 (30

September 2024) “Ga boleh”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengalaman terkait pelecehan seksual

 

Pernahkah Anda mengalami kejadian yang membuat sehingga merasa tidak nyaman karena disentuh bagian tubuh yang tidak boleh disentuh?

A1 = Tidak pernah

A2 = Pernah

A3 = Pernah

A4 = Tidak pernah

A5 = Tidak pernah

A6 = Tidak pernah

 

 

 

 

 

Bisakah Anda ceritakan apa yang terjadi?

A1 = -

A2 = Teman iseng melorotin rok

A3 = Alat kelamin anih pernah dipegang temen anih, tapi Anih bilang “ga sopan tau

pis.”

A4 = -

A5 = -

A6 = -

 

 

 

 

Kepada siapa Anda cerita tentang kejadian tersebut?

A1 = -

A2 = Bunda dan guru

A3 = Anih kasih tau ke kak husnul doang, sama Bunda (guru)

A4 = -

A5 = -

A6 = -

 


Psikologi perkembangan kognitif anak di bawah umur

Ahli menyebut terdapat dua faktor utama yang saling terkait dalam kasus asusila terhadap anak, yaitu kurangnya edukasi seks dan perkembangan teknologi yang pesat. Kurangnya edukasi seks menjadi sorotan utama karena hal ini membuat anak-anak rentan menjadi korban maupun pelaku kekerasan seksual (Solehati et al., 2022). Tanpa pengetahuan yang memadai, anak-anak sulit membedakan sentuhan yang wajar dan tidak wajar, sehingga mereka tidak tahu bagaimana cara melindungi diri. Selain itu, kurangnya edukasi seks juga membuat anak-anak kesulitan dalam memahami perubahan fisik dan emosi yang terjadi pada masa pubertas, sehingga mereka rentan mengalami kebingungan dan penyalahgunaan (Nambiar & Said, 2025).

Pandangan psikolog tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kombinasi antara kurangnya edukasi seks dan perkembangan teknologi yang pesat menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya kasus asusila terhadap anak. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya kasus serupa, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah dan pemerintah, untuk memberikan edukasi seks yang komprehensif dan mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga keamanan diri di dunia digital. Berikut kutipan wawancara:

(Informan P1) "Yang pertama kurangnya edukasi. Edukasi apa? Edukasi terkait tentang sex education yaa. Kemudian yang kedua adalah teknologi itu sendiri, zaman yang semakin berkembang dengan teknologi yang begitu luar biasa kalau tidak dibarengi dengan pengetahuan dan bimbingan orang tua, itu akan mempengaruhi terkait dengan pelecehan seksual, itu untuk (pov) pelaku ke korban. Kalau untuk korban, yaa tentu saja tentang sex education itu sendiri."

 

Jawaban psikolog tersebut menekankan dampak psikologis yang sangat serius dari kasus asusila terhadap anak. Ia menekankan bahwa korban tidak hanya mengalami trauma jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengalami gangguan psikologis jangka panjang yang dapat bermanifestasi dalam perilaku menyimpang di kemudian hari, adanya kemungkinan terjadinya siklus trauma, di mana korban asusila dapat tumbuh menjadi pelaku di kemudian hari. Hal ini disebabkan oleh trauma mendalam yang dialami, yang kemudian tersimpan di alam bawah sadar dan mendorong individu untuk membalas dendam atau mengulangi tindakan yang sama pada orang lain (Taylor, 2022).

Psikolog dengan tegas menyatakan bahwa orang tua memiliki peran yang sangat krusial dalam membentuk nilai-nilai dan norma pada anak, termasuk mengenai seksualitas. Beliau mengibaratkan orang tua sebagai madrasah pertama atau sekolah pertama bagi anak, di mana pondasi pengetahuan dan perilaku anak terbentuk. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seks seharusnya dimulai sejak dini di lingkungan keluarga, dengan orang tua sebagai pendidik utama. Selain peran orang tua, psikolog juga menegaskan pentingnya pendidikan seks di sekolah. Beliau menyayangkan bahwa pendidikan seks di Indonesia baru dimulai pada tingkat SMA dan umumnya terintegrasi dalam mata pelajaran Bimbingan Konseling. Padahal, menurut beliau, pendidikan seks seharusnya sudah diberikan sejak usia dini.

Anak perlu diajarkan materi pendidikan seksual yang sesuai dengan usianya, dengan bahasa yang mudah dipahami, dan pembelajaran yang menyenangkan (Carmichael & Amiri, 2024) agar anak mampu memahami terkait bagian anggota tubuh mereka. Berikut kutipan wawancaranya:

 

(Informan P1) “Langkah yang perlu diambil adalah yaa memberikan pemahaman kepada si anak itu. Langkah-langkahnya supaya “oh ini oleh dipegang ya, ini ga boleh dipegang ya oleh orang lain. Ini boleh keliatan ya, ini ga boleh keliatan ya.” itu harus diberikan pemahaman seperti itu, langkah utama gitu. Jadi karena anak usia dini ya, itu yang pertama. Yang kedua kita harus memberikan pemahaman si seperti yang tadi saya bilang, berikan pemahaman juga ke orang tua bahwa pencegahan itu lebih baik daripada kita mengobati. Dan sebaiknya para guru TK juga memberikan informasi, wawasan (yang) sebut pendidikan sejak dini.”

 

Jawaban psikolog tersebut memberikan penekanan yang sangat baik pada pentingnya pendidikan seks sejak dini dengan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak. Beliau menyarankan agar materi pendidikan seks difokuskan pada pemahaman tentang tubuh sendiri, batasan-batasan yang sehat, serta pentingnya melaporkan jika terjadi pelanggaran terhadap batas-batas tersebut. Psikolog menekankan bahwa anak-anak perlu diajarkan tentang fungsi tubuh mereka dan bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi. Pengetahuan ini akan membantu anak-anak lebih menghargai tubuh mereka sendiri dan memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan (Pratiwi et al., 2023).

Konsep tentang batasan yang sehat juga sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak. Anak-anak perlu memahami bahwa ada bagian tubuh yang tidak boleh dilihat atau disentuh oleh orang lain, kecuali oleh orang tua atau orang dewasa yang dipercaya dan dalam situasi yang tepat (Altundağ, 2023). Anak-anak perlu diajarkan untuk berani berbicara jika ada orang yang melanggar batas-batas mereka. Mereka harus merasa aman dan percaya diri untuk melaporkan kejadian tersebut kepada orang tua atau orang dewasa yang dapat dipercaya. Penggunaan permainan dan aktivitas yang menyenangkan dapat membuat proses belajar tentang seks menjadi lebih menarik dan mudah diingat oleh anak-anak (Agustina et al., 2022).

Hasil pengujian psikologis menunjukkan bahwa modul DONBO dirancang dengan sangat baik untuk merangsang perkembangan kognitif anak. Modul ini tidak hanya menarik perhatian anak, tetapi juga berhasil mengajak mereka aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Modul ini terbukti sangat sesuai dengan teori perkembangan anak, terutama dalam hal pemilihan materi, penggunaan bahasa yang sederhana, dan penyajian yang menarik. Aspek-aspek seperti metode pembelajaran yang interaktif, strategi yang bervariasi, serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya juga turut mendukung perkembangan kognitif anak secara optimal (Sonita et al., 2025). Modul ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan materi pembelajaran yang lebih inovatif dan menarik bagi anak dengan pengembangan modul yang memperhatikan aspek visual yang menarik melalui penggunaan warna-warna cerah, ilustrasi yang sesuai dengan usia anak, serta fitur interaktif yang mampu merangsang rasa ingin tahu dan meningkatkan konsentrasi anak selama kegiatan belajar. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teori pembelajaran dan praktik pendidikan secara umum. Dengan terus melakukan penelitian dan pengembangan, modul DONBO berpotensi untuk menjadi salah satu solusi.

 

Pemahaman anak terkait anggota tubuh

Berdasarkan hasil wawancara dengan Informan 5 dan 6 bahwa anak usia 6-7 tahun telah memiliki pemahaman awal tentang anggota tubuh. Mereka mampu menyebutkan beberapa bagian tubuh yang sering terlihat dan digunakan sehari-hari. Namun, pemahaman mereka masih terbatas dan cenderung fokus pada bagian tubuh yang biasa terlihat seperti tangan dan kaki. Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Si Nae Ahn pada tahun 2022 (Ahn, 2022).

Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak pada usia ini masih dalam proses aktif belajar dan mengenal tubuh mereka. Perbedaan penekanan pada bagian tubuh yang disebutkan oleh kedua informan juga mengindikasikan bahwa proses pembelajaran setiap anak bersifat individual dan dipengaruhi oleh pengalaman serta minat masing-masing (Auclair & Jambaqué, 2015). Untuk mendukung perkembangan pemahaman anak tentang anggota tubuh, penting bagi orang tua dan pendidik untuk terus memberikan stimulasi melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan melibatkan panca indera (Putra & Surjono, 2024). Dengan demikian, anak-anak dapat mengenal lebih banyak bagian tubuh serta fungsinya secara lebih komprehensif. Berikut kutipan wawancara:

Informan 5 (29 September 2024)

“Mata, hidung, telinga, mulut.”

Informan 6 (30 September 2024)

“Tangan, kaki, mata, paha.”

 

Berdasarkan hasil wawancara dengan Informan 4 dan 5, terlihat adanya pemahaman awal anak usia 6-7 tahun tentang batasan sentuhan. Kedua informan menunjukkan adanya preferensi atau aturan tertentu terkait bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh, serta siapa yang diperbolehkan untuk menyentuh mereka. Informan 4 misalnya, menyatakan bahwa tangan boleh disentuh oleh perempuan, begitu pula dengan pipi. Hal ini mengindikasikan adanya pemahaman awal tentang perbedaan gender dan norma sosial terkait sentuhan (Aznar & Tenenbaum, 2016). Sementara itu, Informan 5 memiliki aturan yang berbeda, yaitu rambut boleh dipegang namun perut tidak boleh. Pernyataan ini menunjukkan adanya pemahaman tentang bagian tubuh yang dianggap pribadi dan tidak boleh sembarangan disentuh. Berikut kutipan wawancara:

 

Informan 4 (28 September 2024)

“Tangan boleh disentuh sama cewek, pipi boleh kalau cewek.”

Informan 5 (29 September 2024)

“Rambut boleh dipegang, perut ngga boleh dipegang.”

 

Pengenalan modul DONBO sebagai media edukasi untuk anak-anak di bawah umur

Berdasarkan hasil wawancara setelah anak-anak mendapatkan edukasi menggunakan modul DONBO, terlihat adanya peningkatan pemahaman yang signifikan mengenai fungsi anggota tubuh. Sebelumnya, jawaban anak-anak cenderung sederhana dan fokus pada fungsi utama anggota tubuh. Namun, setelah mengikuti edukasi, jawaban mereka menjadi lebih kompleks dan bervariasi. Informan 5 dan 6 kini mampu menyebutkan fungsi anggota tubuh dengan lebih spesifik. Misalnya, Informan 6 tidak hanya menyebutkan bahwa paha berfungsi untuk menopang tubuh, tetapi juga menghubungkannya dengan aktivitas fisik seperti menari. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak telah mampu menghubungkan pengetahuan tentang anggota tubuh dengan pengalaman sehari-hari mereka (Salim, 2023). Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Salim pada tahun 2023. Berikut kutipan wawancara:

 

Informan 5 (29 Oktober 2024)

“Mata buat melihat, telinga buat mendengar, kaki buat jalan, tangan buat megang, leher buat nengok.”

Informan 6 (30 September 2024)

“Mata untuk melihat dunia, paha menopang berat tubuh, telinga untuk mendengar, kaki untuk menari.”

 

Ketika anak diberi pertanyaan mengenai anggota tubuh yang boleh disentuh oleh orang lain, anak dapat menjawab bagian-bagian tubuh yang diperbolehkan untuk disentuh oleh orang lain, yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi pada tahun 2023. Berikut kutipan wawancara:

Informan 5 (29 Oktober 2024)

Hidung boleh kalau izin, tangan boleh tapi izin dulu, telinga tapi harus izin,”

Pernyataan Informan 5 ini mencerminkan pemahaman awal anak tentang batasan personal dan pentingnya meminta izin sebelum menyentuh bagian tubuh orang lain. Meskipun pemahamannya masih sederhana, pernyataan ini menunjukkan kesadaran anak akan pentingnya menghormati tubuh orang lain.

Konsep "izin" yang disebutkan oleh Informan 5 ini sangat penting untuk ditanamkan sejak dini. Konsep ini mengajarkan anak tentang batasan personal, persetujuan, dan rasa hormat terhadap orang lain (Fitriani, 2023). Dengan meminta izin sebelum menyentuh bagian tubuh seseorang, anak belajar untuk menghargai privasi orang lain dan memahami bahwa tidak semua bagian tubuh boleh disentuh secara bebas. Berikut kutipan wawancara.

 

Informan 5 (29 Oktober 2024)

‘‘Kemaluan, paha, betis, leher, perut.”

Informan 6 (30 September 2024)

“Kelamin (vagina), mulut, dada, paha.”

 

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh kedua informan, kita dapat menyimpulkan bahwa anak-anak sudah mulai memahami konsep privasi tubuh. Mereka mampu menyebutkan beberapa bagian tubuh yang dianggap sensitif dan tidak boleh sembarangan disentuh oleh orang lain. Jawaban yang beragam, seperti kemaluan, paha, betis, leher, perut, mulut, dada, menunjukkan bahwa anak-anak memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Fakta bahwa anak-anak sudah mulai menyadari pentingnya privasi tubuh merupakan langkah awal yang baik (Yandra, 2024). Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan tentang anatomi tubuh, tetapi juga tentang batasan-batasan dalam anggota tubuh mereka, serta bagaimana cara menjaga keamanan diri.

Informan 4 dengan respons "marah terus bilang ke umi" menunjukkan bahwa anak sudah memahami pentingnya melaporkan tindakan yang membuatnya tidak nyaman kepada orang dewasa yang dipercaya. Ini menunjukkan adanya tingkat kepercayaan yang tinggi kepada orang tua dan pemahaman bahwa orang dewasa dapat memberikan perlindungan (Anggraeni, 2023).

Informan 5 dengan respons "aku lawan" menunjukkan adanya keberanian untuk membela diri. Meskipun cara melawan yang dimaksud belum tentu tepat, namun semangat untuk menolak sentuhan yang tidak diinginkan patut diapresiasi. Respons ini juga menunjukkan adanya insting perlindungan diri yang alami pada anak.

Informan 6 dengan respons "ehh ga boleh" merupakan pernyataan tegas yang menunjukkan bahwa anak sudah mulai memahami konsep "tidak" dan berani untuk menolak (Lestari, 2022). Ini adalah langkah penting dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan untuk menetapkan batas (Pradipta, 2023).

Ketiga respons anak di atas menunjukkan adanya pemahaman dasar tentang batasan tubuh. Meskipun masih sederhana, jawaban-jawaban ini mengindikasikan bahwa anak-anak sudah mulai menyadari bahwa ada bagian tubuh yang bersifat pribadi dan tidak boleh sembarangan disentuh (Salmah, 2023; Putri, 2023; Sulastri, 2024). Respons-respons di atas menunjukkan bahwa anak-anak sudah mulai membangun kesadaran tentang batasan tubuh. Namun, penting bagi orang tua untuk terus memberikan dukungan dan pendidikan yang tepat agar anak-anak dapat memahami konsep ini secara lebih mendalam.

 

Persepsi orang tua mengenai pendidikan sex untuk anak di bawah umur

Berikut kutipan wawancara:

 

Informan 2 (27 September 2024)

“Penting banget. Buat keamanan dianya sendiri. Sekarang kan tuh banyak tuh anak-anak jajan, tukang-tukang yang cuil-cuil ya. Jadi kalau dia tau kan lebih waspada. “

Informan 5 (29 Oktober 2024)

“Penting banget, jadi dia bisa membedakan mana yang boleh dipegang dan mana yang ngga boleh.”

Informan 6 (30 September 2024)

“Penting yaa. buat perlindungan dirinya juga sih.”

 

Respons dari ketiga informan tersebut memberikan gambaran yang menarik tentang perubahan persepsi masyarakat, khususnya orang tua, terhadap pendidikan seksualitas. Mereka tidak lagi memandang topik ini sebagai sesuatu yang tabu atau memalukan, melainkan sebagai bagian penting dari tumbuh kembang anak. Alasan mereka pun beragam, namun pada intinya, mereka semua sepakat bahwa pendidikan seksualitas sangat penting untuk melindungi anak-anak.

Informan 2 membahas aspek keamanan anak, menghubungkan pendidikan seksualitas dengan meningkatnya kesadaran anak akan potensi bahaya di lingkungan sekitar. Informan 5 lebih spesifik membahas tentang kemampuan anak untuk membedakan sentuhan yang aman dan tidak aman, sebuah keterampilan yang sangat krusial dalam mencegah terjadinya pelecehan seksual. Sementara itu, Informan 6 menekankan pentingnya pendidikan seksualitas untuk perlindungan diri secara keseluruhan, baik fisik maupun mental (Anissa, 2024).

Orang tua umumnya sepakat bahwa pendidikan seksualitas harus dimulai dengan pemahaman dasar tentang tubuh, privasi, dan batasan (Kurniawan, 2024; Yasmin, 2023). Mereka juga menyadari pentingnya mengajarkan anak-anak tentang persetujuan dan perbedaan gender. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran yang semakin meningkat akan pentingnya melindungi anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan seksual (Imran, 2023). Berikut kutipan wawancara:

Informan 2 (27 September 2024)

“Yaa itu tadi. Sentuhan, terus bagian-bagian dari aurat apa dia harus tau. Kan kalau dia keluar misalkan pake celana pendek, “eeeh itu auratnya.” gitu.”

Informan 5 (29 Oktober 2024)

Terutama tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan ke orang lain, baru meningkat ke hal-hal yang lebih spesifik, pribadi dan juga perilaku, Apalagi dia laki-laki diajarin kalau dia ngga boleh megang perempuan.”

Informan 6 (30 September 2024)

Tentang bagian yang boleh disentuh oleh orang lain, terus kalaupun disentuh kan harus ada alasannya.”

 

Berdasarkan pernyataan ketiga informan, dapat disimpulkan bahwa orang tua cenderung memprioritaskan beberapa materi dasar dalam pendidikan seksualitas anak-anak mereka. Materi-materi ini dianggap penting sebagai langkah awal untuk memberikan pemahaman tentang tubuh, privasi, dan batasan sosial seperti hasil temuan dari Marchanda pada tahun 2024. Poin utama yang ditekankan oleh para informan adalah pentingnya mengajarkan anak-anak tentang bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi atau aurat. Mereka menyadari bahwa dengan mengetahui bagian tubuh mana yang harus dijaga privasinya, anak-anak akan lebih waspada terhadap potensi bahaya dan mampu melindungi diri (Arief, 2023) terutama di tengah meningkatnya kasus pelecehan seksual terhadap anak.

Selain mengajarkan tentang bagian tubuh yang pribadi, para informan juga menyoroti pentingnya mengajarkan anak-anak tentang persetujuan. Mereka menekankan bahwa tidak semua sentuhan itu diperbolehkan, dan setiap sentuhan harus memiliki alasan yang jelas dan persetujuan dari anak. Konsep persetujuan ini sangat krusial dalam membangun kesadaran akan hak-hak individu dan menghormati batas orang lain. Informan 5 secara khusus menyebutkan pentingnya mengajarkan perbedaan gender dalam konteks pendidikan seksualitas. Beliau menekankan bahwa anak laki-laki perlu diajarkan untuk menghormati tubuh perempuan dan tidak melakukan tindakan yang tidak pantas. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua semakin menyadari pentingnya membicarakan tentang gender dan kesetaraan sejak dini (Suryani, 2023).

Seperti pada pernyataan informan 5 menunjukkan sebuah pendekatan yang menarik dalam memulai percakapan tentang pendidikan seksual dengan anak, yakni dengan mengajukan pertanyaan mengenai bagian tubuh yang sensitif. Pertanyaan seperti "H**** malu nggak kalau bagian ini diliat orang lain?" merupakan cara yang halus namun efektif untuk membuka dialog tentang privasi tubuh dan batasan sosial (Ningsih, 2023). Berikut kutipan wawancara:

 

Informan 5 (29 Oktober 2024)

“Tanya dulu bagian sensitif, kaya H**** malu ga kalau bagian ini diliat orang lain.”

 

Pertanyaan seperti itu mendorong anak untuk berpikir tentang tubuh mereka sendiri dan perasaan mereka terhadap tubuh tersebut (Harsono, 2023). Ini merupakan langkah awal yang penting dalam membangun kesadaran diri dan pemahaman tentang privasi (Marissa, 2024).

Dengan mendengarkan jawaban anak, orang tua dapat mengidentifikasi kekhawatiran atau pertanyaan yang mungkin ada di benak anak (Firmansyah, 2023). Hal ini memungkinkan orang tua untuk memberikan penjelasan yang sesuai dan menjawab pertanyaan anak dengan jujur (Dewi A. &., 2024), serta dengan mengajukan pertanyaan secara terbuka, orang tua membantu menormalkan pembicaraan tentang tubuh dan seksualitas (Handayani P. , 2023). Ini dapat membantu mencegah anak merasa malu atau takut untuk bertanya tentang hal-hal yang tidak mereka pahami (Rahmadani, 2024). Berikut kutipan wawancara:

Informan 5 (29 Oktober 2024)

“Pertama pengetahuan dia harus tau dulu, wajib banget dia tau perihal organ tubuh, kedua tentang perilaku dia ke orang lain, ketiga edukasi ketika dia sudah besar lebih spesifik lagi.

Lalu membatasi tontonan-tontonan di YouTube.”

Informan 6 (30 September 2024)

“Itu sih, dikasih pemahaman ke dianya bagian mana yang boleh disentuh sama kasih pemahaman juga ke dia kenapa bagian ini boleh disentuh, kenapa yang ini ga boleh.”

Informan 6 (30 September 2024)

“Kasih pemahaman sih, kalau orang lain udah begini dianya harus ngapain.”

 

Berdasarkan pernyataan para informan, dapat disimpulkan bahwa orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi anak dari ancaman pelecehan seksual (Safitri, 2023). Beberapa langkah awal yang disarankan oleh para informan antara lain:

1.    Memberikan pemahaman tentang tubuh

2.    Mengajarkan tentang batasan

3.    Memperkuat komunikasi

4.    Memfilter tontonan

Namun, dalam memberikan pendidikan seksual untuk anak dibawah umur juga terdapat tantangan untuk orang tua. Seperti pada informan ke-1 dan informan ke-5 berikut:

Informan 1 (26 September 2024)

“Anaknya masih belum fokus, diajak ngomong masih belum paham.”

Informan 5 (29 Oktober 2024)

“Banyak tantangan, salah satunya di umur segini H**** masih kurang fokus.”

 

Pernyataan dari kedua informan tersebut menunjukkan salah satu tantangan utama dalam memberikan pendidikan seksualitas kepada anak-anak, yaitu tingkat perkembangan kognitif anak yang masih terbatas. Anak-anak usia dini seringkali belum memiliki kemampuan untuk fokus pada satu topik dalam waktu yang lama dan mungkin kesulitan memahami konsep yang abstrak (Aulia, 2024). Maka orang tua kesulitan dalam memberikan pendidikan seksual jika tidak ada media sebagai perantara untuk memulai edukasi seksual pada anak (Putra, 2023).

 

Pengenalan modul DONBO sebagai modul interaktif untuk orang tua dan anak

Orang tua akan lebih mudah dalam memulai edukasi seksual kepada anak mereka jika terdapat media edukasi sebagai perantaranya  (Sutanto, 2023). Anak-anak pun akan jauh lebih memahami ketika mereka belajar sambil bermain (Maria, 2024). Anak-anak biasanya menyukai pembelajaran yang mengasyikkan, dengan gambar dan suara yang menciptakan kesan seru dalam pembelajarannya (Dewi Y. &., 2023). Seperti pada kutipan wawancara berikut:

Informan 5 (29 Oktober 2024)

“Kalau H**** udah cukup paham sih karena modulnya juga bagus memperkenalkan bagian tubuh mana yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh, materinya juga udah sesuai sama anak umur segini.”

Informan 6 (30 September 2024)

“Bisa sih, lebih paham lagi lah ya.’’

 

Berdasarkan pernyataan Informan 5 dan 6, dapat disimpulkan bahwa modul DONBO telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya orang tua untuk memberikan pendidikan seksualitas kepada anak-anak mereka. Modul ini dirancang dengan sangat baik, menyajikan materi yang sesuai dengan usia anak dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Modul DONBO telah berhasil menyajikan materi pendidikan seksualitas dengan cara yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Materi yang disajikan tidak terlalu kompleks namun tetap memberikan informasi yang penting. Dengan menggunakan gambar atau ilustrasi yang menarik untuk membantu anak-anak memahami konsep-konsep yang abstrak (Anggraini, 2023). Visualisasi yang menarik dapat membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan efektif (Handayani P. &., 2023). Bahasa yang digunakan dalam modul DONBO juga mudah dipahami oleh anak-anak. Penggunaan bahasa yang sederhana dan jelas dapat membantu anak-anak memahami konsep-konsep yang kompleks dengan lebih mudah (Nurfiana, 2024).

Modul tersebut menjadi alat yang sangat berguna dalam upaya memberikan pendidikan seksualitas kepada anak-anak. Dengan materi yang sesuai usia, bahasa yang sederhana, dan visualisasi yang menarik, modul ini dapat membantu orang tua dalam memberikan pemahaman yang benar kepada anak-anak mereka tentang tubuh, privasi, dan batasan sosial (Ramelan, 2024). Keberadaan modul seperti DONBO menunjukkan bahwa semakin banyak upaya yang dilakukan untuk membuat pendidikan seksualitas lebih mudah diakses dan dipahami oleh anak-anak dan orang tua. Berikut kutipan wawancara:

 

Infroman 4 (28 September 2024)

Ratingnya sembilan koma lima (9,5). Keren ini.”

Informan 5 (29 Oktober 2024)

“Efektif sih, 9 yaa penilaiannya.”

 

Berdasarkan kutipan dari Informan 4 dan 5, dapat disimpulkan bahwa secara umum orang tua memberikan penilaian yang positif terhadap keefektifan Modul DONBO. Informan 4 memberikan rating 9,5 yang menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi, bahkan menyebut modul tersebut "keren". Hal ini mengindikasikan bahwa orang tua merasa modul ini sangat bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak mereka. Senada dengan Informan 4, Informan 5 juga memberikan penilaian yang baik dengan angka 9. Kata "efektif" yang digunakan Informan 5 semakin memperkuat kesan bahwa modul ini telah memberikan dampak positif dalam proses pembelajaran anak.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan modul DONBO yang telah dilakukan, terdapat kendala berupa anak mengalami kesulitan untuk fokus dan mudah terdistraksi bila dipaparkan topik pembahasan yang berat seperti pendidikan seks. Hasil percobaan menunjukan enam dari enam anak dapat memahami modul DONBO dengan fokus dan menyenangkan. Hal ini menjadi penguat bahwa modul DONBO terbukti efektif sebagai sarana pengenalan edukasi seksual kepada anak. Selain itu, modul DONBO juga berperan sebagai media komunikasi orang tua yang khususnya memiliki kendala bahasa untuk disampaikan kepada anaknya.

Selain melakukan percobaan, peneliti juga meminta saran dan masukan orang tua untuk pengembangan modul DONBO. Sebanyak empat orang tua menyarankan untuk memperbaiki kualitas suara. Selain itu, sebanyak dua orang tua memberi ide untuk membuat ilustrasi yang memiliki tekstur (3D). Terdapat dua orang tua memberi saran untuk dikembangkan dalam bentuk boneka, serta satu orang tua menyarankan untuk menyisipkan lagu dan menggunakan ilustrasi yang lebih menarik.

Penggunaan DONBO sebagai media edukasi sangat membantu orang tua dalam mendidik dan mencegah kekerasan seksual pada anak. Hal ini tercermin saat orang tua mendampingi buah hatinya untuk memahami anggota tubuh dan batasan sentuhan kepada anak. Dengan demikian, modul DONBO cocok digunakan untuk mengedukasi sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual. Untuk mengoptimalkan upaya tersebut, diperlukan kajian dan inovasi lebih lanjut sesuai kebutuhan anak agar tujuan edukasi tercapai. Misalnya pengembangan modul DONBO dalam bentuk talking book yang dikemas dalam cerita sehari-hari untuk memudahkan anak dalam memahami. Selain itu, modul juga dapat dilengkapi dengan lampu LED pada setiap organ tubuh yang ditampilkan untuk membantu anak mengenali lokasi organ secara lebih tepat. Selain itu, pencahayaan LED memberikan visual yang lebih menarik sehingga dapat meningkatkan stimulasi sensorik anak.


 

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, N. (2023). Kepercayaan anak pada orang tua dalam pendidikan seksualitas. Jurnal Pendidikan dan Keluarga, 9(3), 33-39.

Anggraini, R. P. (2023). Visualisasi edukasi seksualitas untuk anak. Jurnal Teknologi Pendidikan, 7(2), 56-63.

Anissa, F. (2024). Perlindungan diri anak melalui pendidikan seksualitas. Jurnal Psikologi Perkembangan, 14(2), 112-120.

Arief, M. (2023). Upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Jurnal Sosial dan Humaniora, 11(2), 101-108.

Aulia, F. (2024). Anak di Era Teknologi. Al-Aulia. Jurnal Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Keislaman, 10(2).

Dewi, A. &. (2024). Dialog terbuka tentang pendidikan seksualitas. Jurnal Pendidikan Keluarga, 10(1), 15-23.

Dewi, Y. &. (2023). Penerapan multimedia dalam edukasi. Jurnal Teknologi Pembelajaran, 5(1), 88-94.

Firmansyah, I. (2023). Peran orang tua dalam pembelajaran seksualitas. Jurnal Pendidikan Keluarga, 11(3), 39-45.

Fitriani, L. (2023). Konsep izin dan persetujuan pada pendidikan anak. Jurnal Pendidikan Dasar, 7(4), 70-76.

Handayani, P. &. (2023). Visualisasi dalam pendidikan seksualitas anak. Jurnal Teknologi Pendidikan, 6(1), 60-66.

Handayani, P. (2023). Normalisasi pembicaraan seksualitas pada anak. Jurnal Psikologi Pendidikan, 9(2), 50-58.

Imran, F. (2023). Membentuk kesadaran kekerasan seksual anak. Jurnal Sosial dan Keluarga, 14(1), 121-129.

Maria, L. (2024). Pembelajaran interaktif untuk anak. Jurnal Teknologi Pendidikan, 7(3), 50-57.

Marissa, V. (2024). Kesadaran privasi diri pada anak. Jurnal Psikologi Perkembangan, 12(3), 42-49.

Putra, A. (2023). Media edukasi seksual untuk anak. Jurnal Teknologi Pendidikan, 6(4), 22-29.

Putri, N. (2023). Kesadaran batasan tubuh anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak, , 12(2), 50-57.

Rahmadani, L. (2024). Pencegahan rasa malu pada edukasi anak. Jurnal Psikologi Perkembangan, 15(1), 20-27.

Ramelan, S. (2024). Penggunaan modul interaktif dalam pendidikan anak. Jurnal Teknologi Pendidikan, 8(1), 31-38.

Safitri, N. (2023). Perlindungan anak terhadap pelecehan seksual. Jurnal Pendidikan Anak, 10(3), 44-51.

Salmah, R. (2023). Akses modul edukasi seksualitas di masyarakat. Jurnal Pendidikan dan Masyarakat, 12(1), 23-30.

Sulastri, N. (2024). Dukungan orang tua dalam pendidikan tubuh anak. Jurnal Pendidikan Anak, 13(4), 70-77.

Sutanto, H. (2023). Media edukasi sebagai perantara pendidikan seksual. Jurnal Teknologi Pendidikan, 7(1), 34-41.

Yandra, T. (2024). Kesiapan Anak Mengikuti Pendidikan di Pesantren. Jurnal Pendidikan Anak, 13(2), 167-188.