PENGEMBANGAN DAN VALIDASI MEDIA INTERAKTIF DONBO SEBAGAI MEDIA
EDUKASI SEKSUAL BAGI ANAK USIA DINI
Zahra Muthmainnah*
Miska Zahira**
Arya Sentana
Krisnadiharja***
Ardi Kumara****
Yuliana Dwi Asworo*****
*MAN
10 Jakarta Barat, Indonesia
**MAN 10 Jakarta Barat,
Indonesia
***MAN 10 Jakarta Barat,
Indonesia
****Universitas Negeri Jakarta,
Indonesia
*****MAN 10 Jakarta Barat,
Indonesia
*E-mail:
zahramuthmainnah98@gmail.com
**E-mail: miiskaamiis@gmail.com
***E-mail: aryakrisnadiharja@gmail.com
****E-mail: ardikumara01@gmail.com
*****E-mail: yulianaasworo@gmail.com
Abstract
Sexual violence against children remains a
serious issue, necessitating educational efforts that instill an understanding
of body safety and personal boundaries from an early age. However, the
availability of learning media specifically designed to help parents introduce
these concepts to children is still limited. This study aims to develop and
evaluate the interactive DONBO media as a means of educating children about
body safety and personal boundaries from an early age to support the prevention
of sexual violence. The study used a qualitative descriptive method involving
two groups of informants: a user group consisting of six parents and six
children, and an expert group consisting of a psychologist and an educational
technology expert. Data were collected through interviews and expert validation
to assess the suitability of the material, ease of use, and educational value
of the developed media. The results showed that the interactive DONBO media was
deemed feasible and appropriate for use as a learning tool to introduce body
parts, body functions, and the concept of personal boundaries to young
children. The interactive and child-friendly design helps improve communication
between parents and children in understanding private body parts and the importance
of protecting oneself from inappropriate touch. This study contributes by
presenting innovative educational media that supports efforts to prevent sexual
violence by strengthening body safety education from an early age. Further
research is recommended to test the effectiveness of DONBO media on a wider
sample using an experimental design.
Keywords: physical safety education; child sexual
violence; DONBO interactive media; descriptive qualitative; prevention of
sexual violence.
Abstrak
Kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi permasalahan yang memerlukan
perhatian serius, sehingga diperlukan
upaya edukatif yang mampu menanamkan pemahaman tentang keselamatan tubuh dan batasan diri sejak usia dini. Namun, ketersediaan media pembelajaran yang dirancang
khusus untuk membantu orang tua mengenalkan
konsep tersebut kepada anak masih terbatas.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi
media interaktif DONBO sebagai sarana edukasi keselamatan tubuh bagi anak usia dini untuk mendukung pencegahan kekerasan seksual. Penelitian menggunakan metode deskriptif
kualitatif dengan melibatkan dua kelompok informan, yaitu kelompok pengguna
yang terdiri atas enam
orang tua dan enam anak, serta
kelompok ahli yang terdiri
atas seorang psikolog dan seorang ahli
teknologi pendidikan. Data dikumpulkan melalui
wawancara dan validasi ahli untuk menilai kesesuaian materi, kemudahan penggunaan, serta nilai edukatif media yang dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media interaktif DONBO dinilai layak dan sesuai digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk mengenalkan bagian tubuh, fungsi tubuh, serta
konsep batasan pribadi
kepada anak usia dini.
Desain yang interaktif dan ramah
anak membantu meningkatkan
komunikasi antara orang tua dan anak dalam memahami bagian tubuh yang
bersifat pribadi serta pentingnya menjaga diri dari sentuhan yang tidak pantas. Penelitian ini berkontribusi dengan menghadirkan
media edukasi inovatif yang mendukung
upaya pencegahan kekerasan seksual melalui penguatan pendidikan
keselamatan tubuh sejak dini. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji efektivitas media DONBO pada sampel
yang lebih luas dengan menggunakan
desain eksperimen.
Kata Kunci: edukasi keselamatan tubuh; kekerasan seksual anak; media interaktif DONBO;
deskriptif kualitatif; pencegahan
kekerasan seksual
PENDAHULUAN
Kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi salah satu permasalahan serius yang mengancam
tumbuh kembang anak di
Indonesia
Data
dari Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan
bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak masih mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi ini diperparah
oleh kemudahan akses terhadap konten digital yang
tidak sesuai usia, rendahnya
literasi digital keluarga, serta
keterbatasan pemahaman anak
mengenai batasan tubuh dan perlindungan diri
Salah
satu strategi preventif
yang direkomendasikan adalah pemberian
edukasi seksualitas sejak usia dini melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media
pembelajaran interaktif mampu
meningkatkan keterlibatan
anak dan mempermudah penyampaian
materi yang bersifat sensitive
Berdasarkan
kondisi tersebut, penelitian ini hadir untuk menunjukkan peran penggunaan
media interaktif DONBO dalam mengedukasi
pendidikan seksual bagi
anak usia dini serta apakah melalui media interaktif
dapat memberikan pemahaman batasan privasi tubuh pada anak usia dini. Adapun Modul DONBO (Don't Touch Book) adalah
media interaktif yang dirancang
untuk mendukung edukasi keselamatan tubuh dan pencegahan kekerasan seksual pada anak usia dini. Modul ini dikembangkan
dengan mempertimbangkan karakteristik
perkembangan kognitif anak pada tahap praoperasional, sehingga materi disajikan melalui ilustrasi
visual, audio, dan aktivitas interaktif yang mudah dipahami. Selain ditujukan bagi anak, modul ini
juga dilengkapi panduan penggunaan bagi orang tua sebagai fasilitator
utama dalam proses pembelajaran.
Kebaruan penelitian ini terletak pada
pengembangan media interaktif berbasis
body safety education yang tidak hanya berfokus
pada anak sebagai pengguna utama, tetapi
juga memfasilitasi interaksi edukatif
antara orang tua dan anak dalam membangun pemahaman mengenai tubuh, batasan pribadi, serta perlindungan diri dari risiko kekerasan seksual. Dengan demikian, penelitian
ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis dalam mendukung upaya pencegahan kekerasan seksual sejak usia dini melalui pendekatan edukatif yang ramah anak dan berbasis keluarga.
METODE
Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif
kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan
dan memahami fenomena
secara mendalam berdasarkan data yang diperoleh di lapangan. Pendekatan
tersebut digunakan untuk menggambarkan
kebutuhan edukasi seksual pada anak usia dini serta implementasi
modul DONBO sebagai media pembelajaran. Penelitian deskriptif kualitatif berfokus pada penyajian deskripsi yang komprehensif mengenai suatu fenomena
berdasarkan pengalaman dan pandangan partisipan
1.
Identifikasi kebutuhan
Mengidentifikasi kebutuhan edukasi seksual anak usia dini dan menetapkan tujuan, pada
tahap ini peneliti mengkonsultasikan
materi edukasi yang dibutuhkan
oleh anak dengan rentang usia 6 hingga
7 tahun.
2.
Perancangan
media dan Materi
Menentukan struktur, format, metode penyampaian
dan konten edukasi seksual yang akurat, relevan, dan sesuai usia yang diwakili oleh Gambar 1.
Gambar
1
Bona dan Boni
3.
Implementasi
dan Pengujian Awal
Membuat
prototipe dan melakukan pengujian
awal pada 6 anak dengan rentang usia 5 hingga 6 tahun seperti pada Gambar 2.
4.
Evaluasi
Mendistribusikan modul DONBO seperti Gambar 3, menyediakan pelatihan, dan memonitor efektivitasnya.
Gambar
3 Wawancara
Dalam
penelitian ini, subjek penelitian dipilih melalui teknik
purposive sampling. Menurut Sugiyono (2019), pengambilan sampel purposive didasarkan pada pertimbangan atau
standar yang telah ditetapkan sebelumnya oleh penelitian. Kriteria informan yang relevan sebagai berikut:
1.
Seorang ahli
media edukasi yang memiliki
kemampuan dalam mendesain, mengembangkan, dan mengevaluasi serta menjadi validator.
2.
Seorang psikolog
yang memiliki pengetahuan tentang
psikologi perkembangan anak.
3.
Enam anak-anak dengan rentang usia 6-7 tahun yang mendapat
pengalaman dalam menerima pendidikan
seksual.
4.
Enam orang tua yang mempunyai
anak dengan rentang usia 6-7 tahun.
Peneliti menggunakan wawancara dengan pendekatan
wawancara semi terstruktur untuk pengambilan
data. Sugiyono (2019) menggambarkan
wawancara sebagai teknik pengumpulan
data dimana peneliti meminta pendapat
secara lisan dari informan. Jenis wawancara semi terstruktur
menggunakan pertanyaan terbuka,
tetapi memiliki batasan pada tema dan alur wawancara, kecepatan
wawancara dapat diprediksi,
fleksibel tetapi terkontrol. Peneliti mengumpulkan
data dengan mewawancarai para informan
pada bulan September hingga bulan Oktober tahun 2024
di kediaman masing-masing informan.
Data
yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model
tahapan interaktif dengan 4 tahap yang saling berkesinambungan
1.
Pengumpulan data melalui wawancara dan dicatat dalam bentuk catatan deskripsi dan refleksi. (pengambilan data menggunakan
metode apa)
2.
Kondensasi data yang dilakukan
setelah mengumpulkan data wawancara, dengan menyederhanakan
dan mengabstraksi hasil, mengurangi
data yang umum.
3.
Penyajian data yang disajikan
dalam bentuk tabel agar pembaca lebih mudah memahaminya.
4.
Penarikan Kesimpulan untuk memastikan bahwa kesimpulan yang dibuat valid
dan kokoh dengan melakukan pemeriksaan
ulang.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Data
penelitian diperoleh
melalui wawancara dengan dua kelompok informan, yaitu masyarakat umum dan ahli. Kelompok masyarakat umum terdiri atas anak usia 6–7 tahun
dan orang tua, sedangkan kelompok ahli terdiri atas psikolog yang memiliki pemahaman mengenai perkembangan anak serta ahli media edukasi yang memiliki kompetensi dalam merancang,
mengembangkan, dan mengevaluasi
media pembelajaran sekaligus bertindak
sebagai validator. Peneliti mewawancarai
delapan informan dari kelompok masyarakat umum. Namun, pada wawancara informan
ke-6 telah mencapai saturasi
data, yaitu kondisi ketika informasi yang diperoleh cenderung berulang dan tidak ditemukan temuan
baru yang signifikan.
Hasil
wawancara menunjukkan bahwa
anak-anak memerlukan media edukasi
yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan tahap perkembangannya
untuk mengenal anggota tubuh, memahami
batasan tubuh pribadi, serta mengetahui cara melindungi diri dari tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual. Orang tua juga menyampaikan perlunya
media yang dapat membantu
mereka menyampaikan materi pendidikan seksual kepada anak dengan bahasa
yang sederhana dan nyaman. Sementara itu, ahli menegaskan pentingnya penggunaan media yang interaktif,
sesuai usia anak, serta mampu memfasilitasi komunikasi antara orang tua dan anak terkait pendidikan
seksual.
Data
yang diperoleh melalui wawancara dari
berbagai kelompok informan
tersebut digunakan untuk menjawab rumusan
masalah penelitian mengenai
peran media edukasi DONBO dalam mengedukasi
anak usia dini terkait pendidikan seksual sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual, sekaligus sebagai media interaktif yang mendukung
komunikasi dan proses pembelajaran antara ibu dan
anak. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media edukasi DONBO berpotensi membantu anak mengenali bagian tubuh
pribadi, mampu memahami batasan sentuhan yang aman dan tidak aman, serta meningkatkan
keterlibatan orang tua dalam memberikan pendidikan seksual sejak dini.
Untuk
menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan dan mengonfirmasi
informasi yang diperoleh dari
kelompok masyarakat umum
dan kelompok ahli. Teknik ini bertujuan
untuk meningkatkan derajat kepercayaan dan kebenaran data penelitian kualitatif melalui penggabungan
berbagai sumber informasi yang relevan sehingga diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran media edukasi DONBO
dalam pendidikan seksual
anak usia dini.
Peneliti
mengumpulkan data melalui teknik wawancara mulai dari proses penyusunan panduan wawancara, proses wawancara, transkrip
data, dan kondensasi data. Berdasarkan pengumpulan data yang telah dilakukan
oleh peneliti, disajikan
hasil wawancara pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Wawancara
|
Tema |
Pertanyaan |
Informan |
Hasil Wawancara |
|
Pemahaman tentang bagian
tubuh pribadi |
Bisakah Anda sebutkan bagian-bagian tubuh? |
A1 = Mata, hidung, telinga, mulut. A2 = Rambut,
mulut, pipi, tangan,
kaki, hidung A3
= Kepala, kaki,
tangan, muliut, hidung, muka, kuping. A4 = Rambut,
perut A5
= Mata, hidung, telinga, mulut. A6
= Tangan, kaki,
mata, paha |
Informan 5 (29 September 2024) “Mata,
hidung, telinga, mulut.” Informan 6 (30 September 2024) “Tangan, kaki, mata,
paha.” |
|
Bagian tubuh
tidak boleh disentuh oleh orang lain? |
A1 = Mulut, mata, rambut, pipi, kemaluan, bokong A2
= Rambut, pipi, dan leher A3 = Titit (alat kelamin) ama perut ga boleh, pantat A4
= Tangan dan pipi bila segender A5 = Perut A6
= Bokong, kelamin, mulut dan dada |
Informan 4 (28 September 2024) “Tangan boleh
disentuh sama cewek, pipi boleh kalau cewek.” Informan 5 (29 September 2024) “Rambut boleh dipegang, perut ngga boleh dipegang.” |
|
|
Apa yang
Anda lakukan jika
ada orang yang menyentuh
bagian tubuh Anda yang tidak boleh disentuh? |
A1
= Jangan megang A2
= Marah dan
bilang jangan pegang A3
= Ga mau A4
= Marah, ngadu
ke guru sama umi
A5 = Marah A6
= Ga boleh |
Informan 6 (30 September 2024)
“Ga boleh” |
|
|
Pengalaman
terkait pelecehan seksual |
Pernahkah Anda
mengalami kejadian yang membuat
sehingga merasa tidak nyaman karena disentuh bagian tubuh yang tidak boleh
disentuh? |
A1 = Tidak pernah
A2 = Pernah A3 = Pernah A4 = Tidak pernah
A5 = Tidak pernah
A6 = Tidak pernah |
|
|
Bisakah Anda ceritakan apa yang terjadi? |
A1
= - A2
= Teman iseng
melorotin rok A3 = Alat kelamin anih pernah dipegang temen anih, tapi Anih
bilang “ga sopan tau pis.” A4
= - A5
= - A6
= - |
|
|
|
Kepada siapa Anda cerita tentang
kejadian tersebut? |
A1
= - A2 = Bunda dan guru A3 = Anih kasih tau ke kak husnul
doang, sama Bunda
(guru) A4 = - A5 = - A6 = - |
|
Psikologi
perkembangan kognitif anak di bawah umur
Ahli
menyebut terdapat dua faktor utama yang saling terkait dalam kasus asusila
terhadap anak, yaitu kurangnya edukasi seks dan perkembangan teknologi yang pesat.
Kurangnya edukasi seks menjadi sorotan utama karena hal
ini membuat anak-anak rentan menjadi korban maupun pelaku kekerasan seksual
Pandangan psikolog tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kombinasi antara kurangnya edukasi seks dan perkembangan teknologi yang pesat
menciptakan lingkungan yang
memungkinkan terjadinya kasus asusila
terhadap anak. Oleh karena
itu, untuk mencegah terjadinya
kasus serupa, diperlukan
upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk
keluarga, sekolah dan pemerintah, untuk memberikan edukasi seks yang komprehensif dan mengajarkan
anak-anak tentang pentingnya
menjaga keamanan diri di
dunia digital. Berikut kutipan wawancara:
(Informan P1) "Yang pertama kurangnya
edukasi. Edukasi apa? Edukasi terkait tentang sex education yaa. Kemudian yang kedua adalah
teknologi itu sendiri, zaman yang semakin berkembang
dengan teknologi yang begitu luar biasa kalau tidak dibarengi
dengan pengetahuan dan bimbingan orang tua, itu akan mempengaruhi terkait dengan pelecehan
seksual, itu untuk (pov) pelaku
ke korban. Kalau untuk korban, yaa tentu saja tentang sex education itu sendiri."
Jawaban
psikolog tersebut menekankan
dampak psikologis yang
sangat serius dari kasus asusila
terhadap anak. Ia menekankan bahwa korban tidak
hanya mengalami trauma jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengalami gangguan psikologis jangka panjang yang dapat bermanifestasi dalam perilaku menyimpang
di kemudian hari, adanya
kemungkinan terjadinya siklus
trauma, di mana korban asusila dapat
tumbuh menjadi pelaku di kemudian hari. Hal ini disebabkan oleh trauma mendalam
yang dialami, yang kemudian
tersimpan di alam bawah sadar
dan mendorong individu untuk membalas
dendam atau mengulangi tindakan yang sama pada orang lain
Psikolog
dengan tegas menyatakan bahwa
orang tua memiliki peran yang sangat krusial dalam membentuk nilai-nilai dan norma pada anak, termasuk mengenai seksualitas. Beliau mengibaratkan orang tua sebagai madrasah pertama atau sekolah pertama bagi anak, di mana pondasi
pengetahuan dan perilaku anak terbentuk. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seks seharusnya
dimulai sejak dini di lingkungan
keluarga, dengan orang tua sebagai pendidik utama.
Selain peran orang tua, psikolog juga menegaskan pentingnya pendidikan seks di sekolah. Beliau menyayangkan bahwa pendidikan seks di Indonesia baru dimulai
pada tingkat SMA dan umumnya
terintegrasi dalam mata pelajaran
Bimbingan Konseling. Padahal, menurut beliau, pendidikan seks seharusnya sudah
diberikan sejak usia dini.
Anak
perlu diajarkan materi pendidikan
seksual yang sesuai dengan usianya,
dengan bahasa yang mudah dipahami, dan pembelajaran yang menyenangkan
(Informan P1) “Langkah yang perlu diambil adalah yaa
memberikan pemahaman kepada si
anak itu. Langkah-langkahnya supaya
“oh ini oleh dipegang ya,
ini ga boleh dipegang ya
oleh orang lain. Ini boleh keliatan ya, ini ga boleh
keliatan ya.” itu harus diberikan pemahaman
seperti itu, langkah utama
gitu. Jadi karena anak usia
dini ya, itu yang pertama.
Yang kedua kita harus memberikan pemahaman
si seperti yang tadi saya
bilang, berikan pemahaman
juga ke orang tua bahwa pencegahan
itu lebih baik daripada kita mengobati.
Dan sebaiknya para guru TK juga memberikan informasi,
wawasan (yang) sebut pendidikan
sejak dini.”
Jawaban
psikolog tersebut memberikan penekanan
yang sangat baik pada pentingnya pendidikan
seks sejak dini dengan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak. Beliau menyarankan
agar materi pendidikan seks
difokuskan pada pemahaman tentang tubuh sendiri, batasan-batasan yang sehat, serta pentingnya melaporkan jika terjadi pelanggaran
terhadap batas-batas tersebut. Psikolog menekankan bahwa anak-anak perlu diajarkan tentang fungsi tubuh mereka dan
bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi.
Pengetahuan ini akan membantu
anak-anak lebih menghargai tubuh
mereka sendiri dan memahami pentingnya
menjaga kebersihan dan
kesehatan
Konsep
tentang batasan yang sehat juga sangat penting untuk diajarkan
kepada anak-anak. Anak-anak perlu memahami bahwa ada bagian tubuh yang tidak boleh dilihat atau disentuh
oleh orang lain, kecuali oleh orang tua atau orang dewasa yang dipercaya dan dalam situasi yang tepat
Hasil
pengujian psikologis menunjukkan bahwa modul DONBO dirancang dengan
sangat baik untuk merangsang perkembangan kognitif anak. Modul ini tidak hanya menarik
perhatian anak, tetapi juga berhasil mengajak mereka aktif berpartisipasi
dalam proses pembelajaran. Modul ini terbukti sangat
sesuai dengan teori perkembangan anak, terutama dalam hal pemilihan
materi, penggunaan bahasa
yang sederhana, dan penyajian yang menarik. Aspek-aspek seperti metode pembelajaran yang interaktif, strategi yang bervariasi,
serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung di
dalamnya juga turut mendukung
perkembangan kognitif anak secara optimal
Pemahaman
anak terkait anggota tubuh
Berdasarkan
hasil wawancara dengan Informan 5 dan 6 bahwa anak usia 6-7 tahun telah memiliki pemahaman awal tentang anggota tubuh. Mereka mampu menyebutkan beberapa bagian
tubuh yang sering terlihat dan digunakan
sehari-hari. Namun, pemahaman
mereka masih terbatas dan cenderung fokus pada bagian tubuh
yang biasa terlihat seperti tangan dan kaki. Hasil temuan
ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Si Nae Ahn pada tahun 2022
Hal
ini menunjukkan bahwa
anak-anak pada usia ini masih
dalam proses aktif belajar dan mengenal tubuh mereka.
Perbedaan penekanan pada bagian tubuh
yang disebutkan oleh kedua informan juga mengindikasikan bahwa proses
pembelajaran setiap anak bersifat individual dan dipengaruhi
oleh pengalaman serta minat
masing-masing
Informan 5 (29 September 2024)
“Mata,
hidung, telinga, mulut.”
Informan 6 (30 September 2024)
“Tangan,
kaki, mata, paha.”
Berdasarkan
hasil wawancara dengan Informan 4 dan 5, terlihat
adanya pemahaman awal anak usia
6-7 tahun tentang batasan sentuhan. Kedua informan menunjukkan adanya preferensi
atau aturan tertentu terkait bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh,
serta siapa yang diperbolehkan untuk menyentuh mereka. Informan 4 misalnya, menyatakan bahwa tangan
boleh disentuh oleh perempuan, begitu pula dengan
pipi. Hal ini mengindikasikan adanya pemahaman awal tentang perbedaan
gender dan norma sosial terkait sentuhan
Informan 4 (28 September 2024)
“Tangan
boleh disentuh sama cewek,
pipi boleh kalau cewek.”
Informan 5 (29 September 2024)
“Rambut
boleh dipegang, perut ngga
boleh dipegang.”
Pengenalan modul DONBO sebagai media edukasi
untuk anak-anak di bawah umur
Berdasarkan
hasil wawancara setelah anak-anak mendapatkan edukasi
menggunakan modul DONBO,
terlihat adanya peningkatan pemahaman
yang signifikan mengenai fungsi anggota tubuh. Sebelumnya,
jawaban anak-anak cenderung sederhana dan fokus pada fungsi utama anggota tubuh. Namun, setelah mengikuti edukasi,
jawaban mereka menjadi lebih kompleks dan bervariasi. Informan 5 dan 6 kini
mampu menyebutkan fungsi anggota tubuh dengan lebih
spesifik. Misalnya, Informan 6 tidak hanya menyebutkan
bahwa paha berfungsi untuk menopang tubuh, tetapi juga menghubungkannya dengan aktivitas fisik seperti menari. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak telah mampu menghubungkan pengetahuan tentang
anggota tubuh dengan pengalaman sehari-hari mereka
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Mata
buat melihat, telinga buat mendengar, kaki buat jalan, tangan buat megang, leher buat nengok.”
Informan 6 (30 September 2024)
“Mata
untuk melihat dunia, paha menopang berat tubuh, telinga untuk mendengar, kaki
untuk menari.”
Ketika
anak diberi pertanyaan mengenai
anggota tubuh yang boleh disentuh
oleh orang lain, anak dapat menjawab bagian-bagian tubuh yang diperbolehkan untuk disentuh
oleh orang lain, yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi pada tahun 2023. Berikut kutipan wawancara:
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Hidung boleh kalau izin, tangan boleh tapi izin dulu, telinga tapi harus izin,”
Pernyataan
Informan 5 ini mencerminkan
pemahaman awal anak tentang
batasan personal dan pentingnya
meminta izin sebelum menyentuh bagian tubuh orang lain. Meskipun pemahamannya masih sederhana,
pernyataan ini menunjukkan kesadaran
anak akan pentingnya menghormati tubuh orang lain.
Konsep
"izin" yang disebutkan oleh Informan 5 ini
sangat penting untuk ditanamkan sejak dini. Konsep ini mengajarkan anak
tentang batasan personal,
persetujuan, dan rasa hormat terhadap
orang lain
Informan 5 (29 Oktober 2024)
‘‘Kemaluan, paha, betis, leher, perut.”
Informan 6 (30 September 2024)
“Kelamin
(vagina), mulut, dada, paha.”
Berdasarkan
informasi yang diberikan oleh kedua informan, kita dapat menyimpulkan
bahwa anak-anak sudah mulai memahami
konsep privasi tubuh.
Mereka mampu menyebutkan
beberapa bagian tubuh yang dianggap
sensitif dan tidak boleh sembarangan
disentuh oleh orang lain. Jawaban yang beragam, seperti kemaluan, paha, betis, leher,
perut, mulut, dada, menunjukkan
bahwa anak-anak memiliki pemahaman yang berbeda-beda.
Fakta bahwa anak-anak sudah mulai menyadari
pentingnya privasi tubuh merupakan langkah awal yang baik
Informan 4 dengan
respons "marah terus
bilang ke umi" menunjukkan bahwa anak sudah memahami pentingnya melaporkan tindakan yang membuatnya tidak
nyaman kepada orang dewasa yang dipercaya.
Ini menunjukkan adanya tingkat
kepercayaan yang tinggi
kepada orang tua dan pemahaman bahwa
orang dewasa dapat
memberikan perlindungan
Informan 5 dengan
respons "aku lawan"
menunjukkan adanya keberanian
untuk membela diri. Meskipun
cara melawan yang dimaksud belum tentu tepat, namun semangat untuk menolak
sentuhan yang tidak diinginkan
patut diapresiasi. Respons
ini juga menunjukkan adanya insting
perlindungan diri yang alami
pada anak.
Informan 6 dengan
respons "ehh ga boleh" merupakan pernyataan tegas yang menunjukkan bahwa anak sudah
mulai memahami konsep "tidak" dan berani
untuk menolak
Ketiga
respons anak di atas menunjukkan adanya pemahaman dasar tentang batasan tubuh. Meskipun masih sederhana,
jawaban-jawaban ini mengindikasikan bahwa anak-anak sudah mulai menyadari
bahwa ada bagian tubuh yang bersifat pribadi dan
tidak boleh sembarangan disentuh
(Salmah, 2023; Putri, 2023; Sulastri, 2024). Respons-respons di atas menunjukkan bahwa anak-anak sudah
mulai membangun kesadaran tentang
batasan tubuh. Namun,
penting bagi orang tua untuk terus memberikan dukungan dan pendidikan yang tepat agar anak-anak dapat memahami konsep ini secara lebih mendalam.
Persepsi
orang tua mengenai pendidikan
sex untuk anak di bawah umur
Berikut
kutipan wawancara:
Informan 2 (27 September 2024)
“Penting
banget. Buat keamanan dianya
sendiri. Sekarang kan tuh banyak
tuh anak-anak jajan, tukang-tukang yang cuil-cuil ya. Jadi kalau dia tau kan lebih waspada. “
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Penting
banget, jadi dia bisa membedakan
mana yang boleh dipegang dan mana yang ngga boleh.”
Informan 6 (30 September 2024)
“Penting
yaa. buat perlindungan dirinya
juga sih.”
Respons
dari ketiga informan
tersebut memberikan gambaran yang menarik
tentang perubahan persepsi masyarakat,
khususnya orang tua, terhadap
pendidikan seksualitas.
Mereka tidak lagi memandang topik ini sebagai sesuatu
yang tabu atau memalukan, melainkan
sebagai bagian penting dari tumbuh
kembang anak. Alasan mereka pun beragam,
namun pada intinya, mereka semua sepakat bahwa pendidikan seksualitas sangat penting untuk melindungi
anak-anak.
Informan 2 membahas aspek keamanan anak, menghubungkan pendidikan seksualitas dengan meningkatnya kesadaran anak akan potensi bahaya di lingkungan sekitar. Informan 5
lebih spesifik membahas tentang kemampuan anak untuk membedakan sentuhan yang aman dan tidak aman, sebuah keterampilan yang sangat krusial
dalam mencegah terjadinya pelecehan seksual. Sementara itu,
Informan 6 menekankan pentingnya pendidikan seksualitas untuk perlindungan
diri secara keseluruhan, baik fisik maupun mental
Orang
tua umumnya sepakat bahwa pendidikan seksualitas harus dimulai dengan pemahaman
dasar tentang tubuh, privasi, dan batasan
Informan 2 (27 September 2024)
“Yaa
itu tadi. Sentuhan, terus
bagian-bagian dari aurat apa dia harus tau. Kan kalau dia keluar misalkan
pake celana pendek, “eeeh itu auratnya.” gitu.”
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Terutama tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan
ke orang lain, baru meningkat
ke hal-hal yang lebih spesifik,
pribadi dan juga perilaku, Apalagi dia laki-laki diajarin
kalau dia ngga boleh megang
perempuan.”
Informan 6 (30 September 2024)
“Tentang bagian yang boleh disentuh
oleh orang lain, terus kalaupun
disentuh kan harus ada alasannya.”
Berdasarkan
pernyataan ketiga informan, dapat
disimpulkan bahwa orang tua
cenderung memprioritaskan
beberapa materi dasar dalam pendidikan seksualitas anak-anak mereka. Materi-materi ini dianggap penting sebagai langkah
awal untuk memberikan pemahaman tentang
tubuh, privasi, dan batasan sosial seperti hasil temuan
dari Marchanda pada tahun
2024. Poin utama yang ditekankan
oleh para informan adalah pentingnya
mengajarkan anak-anak tentang
bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi
atau aurat. Mereka menyadari
bahwa dengan mengetahui bagian tubuh
mana yang harus dijaga privasinya,
anak-anak akan lebih waspada
terhadap potensi bahaya dan mampu melindungi diri (Arief, 2023) terutama
di tengah meningkatnya
kasus pelecehan seksual terhadap anak.
Selain
mengajarkan tentang bagian tubuh yang pribadi, para informan juga menyoroti pentingnya mengajarkan anak-anak tentang persetujuan. Mereka menekankan
bahwa tidak semua sentuhan
itu diperbolehkan, dan setiap sentuhan harus memiliki alasan yang jelas dan persetujuan dari anak. Konsep persetujuan ini sangat krusial dalam membangun kesadaran
akan hak-hak individu dan menghormati
batas orang lain. Informan 5 secara khusus menyebutkan pentingnya mengajarkan perbedaan gender dalam konteks
pendidikan seksualitas.
Beliau menekankan bahwa
anak laki-laki perlu diajarkan
untuk menghormati tubuh
perempuan dan tidak melakukan tindakan yang tidak pantas. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua semakin menyadari pentingnya membicarakan tentang gender dan kesetaraan sejak dini
Seperti
pada pernyataan informan 5 menunjukkan
sebuah pendekatan yang menarik
dalam memulai percakapan tentang pendidikan seksual dengan anak, yakni dengan
mengajukan pertanyaan mengenai bagian tubuh yang sensitif. Pertanyaan
seperti "H**** malu nggak kalau bagian ini
diliat orang lain?" merupakan cara yang halus namun efektif
untuk membuka dialog tentang
privasi tubuh dan batasan sosial
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Tanya
dulu bagian sensitif, kaya H**** malu ga kalau bagian
ini diliat orang lain.”
Pertanyaan
seperti itu mendorong anak untuk berpikir
tentang tubuh mereka
sendiri dan perasaan mereka terhadap
tubuh tersebut
Dengan
mendengarkan jawaban anak, orang tua dapat mengidentifikasi kekhawatiran atau pertanyaan yang mungkin ada di benak anak
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Pertama
pengetahuan dia harus tau dulu, wajib banget dia tau perihal organ tubuh,
kedua tentang perilaku dia
ke orang lain, ketiga edukasi ketika dia sudah besar lebih spesifik
lagi.
Lalu
membatasi tontonan-tontonan
di YouTube.”
Informan 6 (30 September 2024)
“Itu
sih, dikasih pemahaman ke dianya
bagian mana yang boleh disentuh sama kasih pemahaman juga ke dia kenapa bagian ini boleh disentuh,
kenapa yang ini ga boleh.”
Informan 6 (30 September 2024)
“Kasih
pemahaman sih, kalau orang lain udah begini dianya harus ngapain.”
Berdasarkan
pernyataan para informan, dapat
disimpulkan bahwa orang tua
memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi anak dari ancaman pelecehan seksual
1.
Memberikan pemahaman
tentang tubuh
2.
Mengajarkan tentang batasan
Namun,
dalam memberikan pendidikan seksual
untuk anak dibawah umur juga terdapat
tantangan untuk orang tua. Seperti pada informan ke-1 dan informan ke-5
berikut:
Informan 1 (26 September 2024)
“Anaknya
masih belum fokus, diajak ngomong
masih belum paham.”
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Banyak
tantangan, salah satunya di umur
segini H**** masih kurang
fokus.”
Pernyataan
dari kedua informan
tersebut menunjukkan salah satu
tantangan utama dalam
memberikan pendidikan seksualitas
kepada anak-anak, yaitu tingkat
perkembangan kognitif anak yang masih
terbatas. Anak-anak usia dini seringkali belum memiliki kemampuan untuk fokus
pada satu topik dalam waktu yang lama dan mungkin
kesulitan memahami konsep yang abstrak
Pengenalan modul DONBO sebagai modul interaktif untuk orang tua dan anak
Orang
tua akan lebih mudah dalam memulai edukasi seksual kepada anak mereka jika terdapat
media edukasi sebagai perantaranya
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Kalau
H**** udah cukup paham sih karena modulnya
juga bagus memperkenalkan bagian tubuh
mana yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh, materinya juga udah sesuai sama anak umur segini.”
Informan 6 (30 September 2024)
“Bisa
sih, lebih paham lagi lah ya.’’
Berdasarkan
pernyataan Informan 5 dan 6, dapat
disimpulkan bahwa modul DONBO telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya orang tua untuk memberikan pendidikan seksualitas kepada
anak-anak mereka. Modul ini dirancang dengan sangat
baik, menyajikan materi yang sesuai dengan usia anak dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Modul
DONBO telah berhasil menyajikan materi pendidikan seksualitas dengan cara yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Materi yang disajikan
tidak terlalu kompleks namun tetap memberikan
informasi yang penting. Dengan menggunakan gambar
atau ilustrasi yang menarik
untuk membantu anak-anak memahami
konsep-konsep yang abstrak
Modul
tersebut menjadi alat yang sangat berguna
dalam upaya memberikan pendidikan seksualitas
kepada anak-anak. Dengan materi yang sesuai usia, bahasa yang sederhana, dan visualisasi yang menarik, modul ini dapat membantu orang tua dalam
memberikan pemahaman yang benar kepada anak-anak
mereka tentang tubuh, privasi, dan batasan sosial
Infroman 4 (28 September 2024)
“Ratingnya sembilan koma lima
(9,5). Keren ini.”
Informan 5 (29 Oktober 2024)
“Efektif
sih, 9 yaa penilaiannya.”
Berdasarkan kutipan
dari Informan 4 dan 5, dapat disimpulkan bahwa secara umum orang tua
memberikan penilaian yang positif terhadap keefektifan Modul DONBO. Informan
4 memberikan rating 9,5 yang menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi,
bahkan menyebut modul tersebut "keren".
Hal ini mengindikasikan bahwa
orang tua merasa modul ini
sangat bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan
anak-anak mereka. Senada dengan Informan 4, Informan 5 juga memberikan penilaian yang baik dengan angka
9. Kata "efektif" yang digunakan Informan 5 semakin memperkuat kesan bahwa modul ini telah memberikan dampak positif dalam proses pembelajaran anak.
KESIMPULAN
Berdasarkan
percobaan modul DONBO yang
telah dilakukan, terdapat
kendala berupa anak mengalami kesulitan untuk fokus dan mudah
terdistraksi bila dipaparkan topik pembahasan yang berat seperti pendidikan seks. Hasil percobaan menunjukan enam dari enam
anak dapat memahami modul DONBO dengan fokus dan menyenangkan.
Hal ini menjadi penguat bahwa
modul DONBO terbukti
efektif sebagai sarana pengenalan edukasi
seksual kepada anak. Selain itu, modul
DONBO juga berperan sebagai media komunikasi orang
tua yang khususnya memiliki
kendala bahasa untuk disampaikan
kepada anaknya.
Selain
melakukan percobaan, peneliti
juga meminta saran dan masukan orang tua untuk pengembangan modul
DONBO. Sebanyak empat orang
tua menyarankan untuk memperbaiki
kualitas suara. Selain itu, sebanyak dua orang tua
memberi ide untuk membuat ilustrasi yang memiliki tekstur (3D). Terdapat dua orang tua memberi saran untuk dikembangkan dalam bentuk boneka, serta satu
orang tua menyarankan untuk menyisipkan
lagu dan menggunakan ilustrasi
yang lebih menarik.
Penggunaan
DONBO sebagai media edukasi sangat membantu orang tua dalam mendidik
dan mencegah kekerasan seksual pada anak. Hal ini tercermin
saat orang tua mendampingi buah hatinya untuk memahami anggota tubuh dan batasan sentuhan kepada anak.
Dengan demikian, modul DONBO cocok digunakan untuk mengedukasi
sebagai upaya pencegahan kekerasan
seksual. Untuk mengoptimalkan
upaya tersebut, diperlukan kajian
dan inovasi lebih lanjut sesuai kebutuhan
anak agar tujuan edukasi tercapai.
Misalnya pengembangan modul
DONBO dalam bentuk talking book yang dikemas dalam cerita sehari-hari
untuk memudahkan anak dalam memahami.
Selain itu, modul juga dapat
dilengkapi dengan lampu LED pada setiap organ tubuh yang ditampilkan untuk membantu anak mengenali lokasi organ secara lebih tepat. Selain itu, pencahayaan
LED memberikan visual yang lebih menarik sehingga dapat meningkatkan stimulasi sensorik anak.
Anggraeni, N. (2023). Kepercayaan anak pada orang
tua dalam pendidikan seksualitas. Jurnal Pendidikan dan Keluarga,
9(3), 33-39.
Anggraini,
R. P. (2023). Visualisasi edukasi seksualitas untuk anak. Jurnal Teknologi
Pendidikan, 7(2), 56-63.
Anissa,
F. (2024). Perlindungan diri anak melalui pendidikan seksualitas. Jurnal
Psikologi Perkembangan, 14(2), 112-120.
Arief,
M. (2023). Upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Jurnal Sosial dan
Humaniora, 11(2), 101-108.
Aulia,
F. (2024). Anak di Era Teknologi. Al-Aulia. Jurnal Pendidikan dan
Ilmu-Ilmu Keislaman, 10(2).
Dewi,
A. &. (2024). Dialog terbuka tentang pendidikan seksualitas. Jurnal
Pendidikan Keluarga, 10(1), 15-23.
Dewi,
Y. &. (2023). Penerapan multimedia dalam edukasi. Jurnal Teknologi
Pembelajaran, 5(1), 88-94.
Firmansyah,
I. (2023). Peran orang tua dalam pembelajaran seksualitas. Jurnal
Pendidikan Keluarga, 11(3), 39-45.
Fitriani,
L. (2023). Konsep izin dan persetujuan pada pendidikan anak. Jurnal
Pendidikan Dasar, 7(4), 70-76.
Handayani,
P. &. (2023). Visualisasi dalam pendidikan seksualitas anak. Jurnal
Teknologi Pendidikan, 6(1), 60-66.
Handayani,
P. (2023). Normalisasi pembicaraan seksualitas pada anak. Jurnal Psikologi
Pendidikan, 9(2), 50-58.
Imran,
F. (2023). Membentuk kesadaran kekerasan seksual anak. Jurnal Sosial dan
Keluarga, 14(1), 121-129.
Maria,
L. (2024). Pembelajaran interaktif untuk anak. Jurnal Teknologi Pendidikan,
7(3), 50-57.
Marissa,
V. (2024). Kesadaran privasi diri pada anak. Jurnal Psikologi Perkembangan,
12(3), 42-49.
Putra,
A. (2023). Media edukasi seksual untuk anak. Jurnal Teknologi Pendidikan,
6(4), 22-29.
Putri,
N. (2023). Kesadaran batasan tubuh anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak,
, 12(2), 50-57.
Rahmadani,
L. (2024). Pencegahan rasa malu pada edukasi anak. Jurnal Psikologi
Perkembangan, 15(1), 20-27.
Ramelan,
S. (2024). Penggunaan modul interaktif dalam pendidikan anak. Jurnal
Teknologi Pendidikan, 8(1), 31-38.
Safitri,
N. (2023). Perlindungan anak terhadap pelecehan seksual. Jurnal Pendidikan
Anak, 10(3), 44-51.
Salmah,
R. (2023). Akses modul edukasi seksualitas di masyarakat. Jurnal
Pendidikan dan Masyarakat, 12(1), 23-30.
Sulastri,
N. (2024). Dukungan orang tua dalam pendidikan tubuh anak. Jurnal
Pendidikan Anak, 13(4), 70-77.
Sutanto,
H. (2023). Media edukasi sebagai perantara pendidikan seksual. Jurnal
Teknologi Pendidikan, 7(1), 34-41.
Yandra,
T. (2024). Kesiapan Anak Mengikuti Pendidikan di Pesantren. Jurnal
Pendidikan Anak, 13(2), 167-188.