PERAN
PENGAWAS
MADRASAH DALAM MELAKSANAKAN PENDAMPINGAN MANAJERIAL KEPALA
RAUDHATUL ATHFAL TERKAIT PERENCANAAN PROGRAM BERBASIS DATA
Dwi
Ning Wahyuni Budi*
*Pengawas
RA Kementerian Agama Kota Jakarta Timur, Indonesia
*E-mail:
dwiningwahyunibudi@gmail.com
Abstract
This article
describes a best practice implemented by a Raudhatul Athfal (RA)
madrasah supervisor in providing managerial
mentoring to RA principals, particularly in strengthening data-driven program
planning through the Continuous Learning Survey System (Sistem
Survei Lingkungan Belajar/Sulingjar). The ability of RA principals to develop data-based planning is a critical factor
in creating a well-organized,
productive, and innovative madrasah working environment. This mentoring activity involved 25 RA-level madrasahs located across three sub-districts in East Jakarta under the author’s supervision.
The study employed a mixed-methods
survey design. Data were collected through document analysis, observations, in-depth interviews, and reflections on the mentoring outcomes.
The data were analyzed using
descriptive, qualitative, and quantitative techniques. The analysis results served as the basis for grouping
the supervised madrasahs into four mentoring categories. Each group received managerial mentoring using the Coaching,
Facilitating, and Consulting (CFC) approach, tailored to the
level of readiness and commitment to change demonstrated
by the RA principals. The findings indicate that 95.7% of RA principals gained a greater understanding of the importance of data-driven program planning. Follow-up mentoring focused on the preparation
of the Commitment
to Change (KOM), the Annual Work
Plan (RKT), and the
Madrasah Work and Budget Plan (RKAM). This best practice demonstrates
that systematic, data-driven managerial mentoring strengthens RA principals' managerial competencies.
Keywords: data-driven planning; managerial competence; managerial mentoring
Abstrak
Artikel ini
mendeskripsikan praktik baik (best practice) yang dilakukan oleh pengawas madrasah jenjang
Raudhatul Athfal (RA) dalam melaksanakan pendampingan
manajerial kepada kepala RA, khususnya dalam penguatan perencanaan program
berbasis data melalui Sulingjar. Kemampuan kepala RA dalam
menyusun perencanaan berbasis data merupakan faktor penting dalam mewujudkan
lingkungan kerja madrasah yang tertata, produktif, dan inovatif. Kegiatan
pendampingan ini melibatkan 25 madrasah jenjang RA yang tersebar di tiga
kecamatan wilayah Jakarta Timur di bawah binaan penulis. Pendekatan penelitian
yang digunakan adalah mixed methods dengan desain survei. Data dikumpulkan melalui
studi dokumen, observasi, wawancara mendalam, serta refleksi hasil
pendampingan, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan
kuantitatif. Hasil analisis data menjadi dasar pengelompokan madrasah binaan ke
dalam empat kelompok pendampingan. Setiap kelompok memperoleh pendampingan
manajerial menggunakan pendekatan Coaching,
Facilitating, dan Consulting
(CFC) yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan dan komitmen perubahan kepala
RA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95,7% kepala RA mengalami peningkatan
pemahaman terhadap pentingnya perencanaan program berbasis data. Tindak lanjut
pendampingan difokuskan pada penyusunan Komitmen Perubahan (KOM), Rencana Kerja
Tahunan (RKT), dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM). Praktik baik ini
menunjukkan bahwa pendampingan manajerial yang sistematis dan berbasis data
berkontribusi positif terhadap penguatan kompetensi manajerial kepala RA.
Kata Kunci: perencanaan berbasis
data; kompetensi manajerial; pendampingan manajerial
PENDAHULUAN
Pengawas madrasah memiliki peran strategis dalam menjamin
mutu penyelenggaraan pendidikan melalui pembinaan, pendampingan, dan pengawasan
yang berkelanjutan. Pada jenjang Raudhatul Athfal
(RA), peran pengawas menjadi semakin penting mengingat karakteristik satuan
pendidikan anak usia dini yang memerlukan pengelolaan manajerial yang adaptif,
responsif, dan berbasis kebutuhan riil satuan pendidikan. Dengan jumlah
madrasah binaan yang cukup banyak dan tersebar di beberapa wilayah, pengawas
dituntut untuk menyusun perencanaan pendampingan yang sistematis agar target
peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai secara optimal.
Pendampingan kompetensi manajerial bagi kepala Raudhatul Athfal merupakan salah satu strategi penting dalam
meningkatkan kapasitas kepala satuan pendidikan dalam mengelola lembaga secara
efektif. Salah satu kompetensi manajerial yang perlu dikuasai kepala RA adalah
kemampuan menyusun perencanaan program berbasis data. Perencanaan yang disusun
berdasarkan data empiris memungkinkan satuan pendidikan menetapkan skala
prioritas program secara lebih tepat, terarah, dan sesuai dengan kebutuhan
aktual lembaga.
Salah satu sumber data yang dapat dimanfaatkan dalam
perencanaan program adalah hasil Sulingjar (Survei
Lingkungan Belajar). Data Sulingjar memberikan
gambaran mengenai kondisi pembelajaran, asesmen,
kepemimpinan, serta iklim satuan pendidikan yang dapat dijadikan dasar dalam
merumuskan program pengembangan madrasah. Pemanfaatan data tersebut
memungkinkan pengawas melakukan tindak lanjut pendampingan yang lebih
kontekstual sesuai dengan hasil analisis kondisi masing-masing satuan
pendidikan RA.
Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji pemanfaatan
data rapor pendidikan dan pendampingan manajerial dalam penyusunan perencanaan
satuan pendidikan. Penelitian yang dilakukan oleh Murtadlo
et al.
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini
bertujuan untuk mendeskripsikan praktik baik pendampingan manajerial yang
dilakukan oleh pengawas madrasah dalam mendukung kepala Raudhatul Athfal menyusun perencanaan program berbasis data. Kebaruan
artikel ini terletak pada penerapan model pendampingan manajerial yang
mengintegrasikan hasil analisis Sulingjar, analisis
SWOT satuan pendidikan, serta pendekatan Coaching,
Facilitating, dan Consulting
(CFC) dalam proses pendampingan. Praktik baik ini diharapkan dapat menjadi
referensi bagi pengawas madrasah dalam mengembangkan strategi pendampingan
manajerial yang lebih sistematis, kontekstual, dan berorientasi pada
peningkatan mutu pendidikan RA.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed
methods dengan desain survei, yang
mengombinasikan data kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang
komprehensif terhadap praktik pendampingan manajerial berbasis data yang
dilakukan oleh pengawas madrasah. Pendekatan mixed
methods dipilih karena memungkinkan peneliti
menganalisis fenomena secara lebih utuh melalui penguatan data numerik dan
pendalaman makna dari pengalaman subjek penelitian
Subjek penelitian terdiri atas 25 satuan pendidikan
Raudhatul Athfal (RA) yang berada di tiga kecamatan
di wilayah Jakarta Timur dan berada di bawah binaan penulis sebagai pengawas
madrasah. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive
dengan mempertimbangkan keterlibatan aktif kepala RA dalam kegiatan
pendampingan manajerial serta kesiapan satuan pendidikan dalam menerapkan
perencanaan program berbasis data.
Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu
studi dokumen, observasi, wawancara mendalam, dan refleksi hasil pendampingan.
Studi dokumen digunakan untuk menganalisis dokumen perencanaan madrasah,
meliputi hasil Sulingjar, Rencana Kerja Tahunan
(RKT), Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM), serta dokumen Komitmen
Perubahan (KOM). Observasi dilakukan untuk mengamati partisipasi dan respons
kepala RA selama proses pendampingan berlangsung. Wawancara mendalam digunakan untuk
menggali pemahaman, kendala, dan pengalaman kepala RA dalam menyusun
perencanaan program berbasis data. Selain itu, refleksi hasil pendampingan
digunakan untuk menilai perubahan dan capaian yang terjadi setelah pendampingan
dilaksanakan.
Pendampingan manajerial dilaksanakan dengan mengacu pada
prinsip pembinaan profesional pengawas madrasah yang menempatkan pengawas
sebagai pembimbing, fasilitator, dan mitra satuan pendidikan dalam meningkatkan
mutu pengelolaan madrasah
Tahapan pendampingan manajerial oleh pengawas meliputi
analisis data Sulingjar, pemetaan kebutuhan dan
permasalahan satuan pendidikan, pelaksanaan pendampingan berbasis kelompok
sesuai kategori madrasah binaan, serta tindak lanjut penyusunan dokumen
perencanaan program. Alur tahapan pendampingan tersebut disajikan secara
ringkas pada Gambar 1.
Analisis data dilakukan
secara deskriptif dengan memadukan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif.
Data kuantitatif dianalisis untuk melihat kecenderungan peningkatan pemahaman
kepala RA terhadap perencanaan program berbasis data, sedangkan data kualitatif
dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan. Hasil analisis data selanjutnya digunakan sebagai dasar
pengelompokan madrasah binaan ke dalam empat kategori pendampingan sesuai
dengan tingkat kesiapan dan komitmen perubahan kepala RA.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bagian hasil dan pembahasan ini menguraikan temuan-temuan
utama dari pelaksanaan pendampingan manajerial berbasis data yang dilakukan
oleh pengawas madrasah terhadap kepala Raudhatul Athfal
(RA). Data diperoleh melalui serangkaian kegiatan asesmen,
pengumpulan dokumen, observasi, diskusi, serta refleksi bersama kepala RA, baik
melalui visitasi langsung maupun pemanfaatan media daring sebagai pelengkap
pengumpulan data.
Pendampingan dilaksanakan secara bertahap dan
berkelanjutan. Tahap awal difokuskan pada pemetaan kebutuhan dan komitmen
perubahan kepala RA yang dilaksanakan pada periode Januari hingga Maret. Tahap
selanjutnya berupa visitasi dan pendampingan kelompok melalui Focus Group Discussion
(FGD) pada periode April hingga Juni. Adapun kegiatan lanjutan berupa coaching, facilitating,
dan consulting (CFC) dilaksanakan pada periode
Juli hingga November sebagai bentuk tindak lanjut dari hasil pemetaan dan
analisis data awal.
Perencanaan program yang disusun oleh kepala Raudhatul Athfal dalam pendampingan ini menekankan prinsip
perencanaan berbasis data. Perencanaan berbasis data merupakan pemanfaatan data
hasil rapor pendidikan sebagai dasar penetapan kebijakan dan intervensi satuan
pendidikan dalam rangka peningkatan mutu secara berkelanjutan
Pemetaan
Komitmen Perubahan Kepala Raudhatul Athfal
Pemetaan komitmen perubahan
kepala Raudhatul Athfal merupakan tahap awal yang
strategis dalam pendampingan manajerial berbasis data. Pemetaan ini bertujuan
untuk mengidentifikasi tingkat kesiapan, kesadaran, serta komitmen kepala RA
dalam melakukan perubahan, khususnya dalam menyusun perencanaan program yang
didasarkan pada data empiris satuan pendidikan.
Kegiatan pemetaan diawali
dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan secara
berkelompok. Proses pemetaan disusun berdasarkan hasil visitasi, wawancara,
serta pengisian instrumen refleksi melalui Google Form
yang diisi oleh kepala Raudhatul Athfal. Instrumen
refleksi tersebut dirancang untuk menggali pemahaman awal kepala RA tentang
perencanaan berbasis data, tingkat komitmen perubahan, serta kesiapan lembaga
dalam menindaklanjuti hasil analisis data.
Selain instrumen refleksi,
kepala Raudhatul Athfal juga diminta untuk menyusun
analisis Strengths, Weaknesses,
Opportunities, dan Threats
(SWOT) masing-masing lembaga. Analisis SWOT digunakan sebagai
data pelengkap untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai
kondisi internal dan eksternal satuan pendidikan. Data ini tidak hanya
menggambarkan kondisi objektif lembaga, tetapi juga mencerminkan tingkat reflektivitas kepala RA terhadap kekuatan, kelemahan,
peluang, dan tantangan yang dihadapi.
Sebaran jumlah responden kepala
Raudhatul Athfal yang terlibat dalam pemetaan
komitmen perubahan berdasarkan wilayah kecamatan disajikan pada Gambar 2.
Diagram tersebut menunjukkan distribusi responden dari tiga kecamatan binaan,
yaitu Ciracas, Cipayung,
dan Pasar Rebo.
Gambar
2 Diagram partisipasi Aktif
Kepala Raudhatul Athfal Dalam Mengisi Lembar Refleksi
Komitmen Perubahan
Berdasarkan Gambar 2, terlihat
bahwa jumlah responden terbanyak berasal dari Kecamatan Ciracas
dengan 17 kepala RA, disusul Kecamatan Cipayung
dengan 6 kepala RA, dan Kecamatan Pasar Rebo dengan 2 kepala RA. Perbedaan
jumlah responden ini mencerminkan variasi jumlah madrasah binaan di
masing-masing kecamatan serta menjadi pertimbangan dalam pengelolaan strategi
pendampingan manajerial oleh pengawas.
Sebaran responden berdasarkan
wilayah ini penting untuk dipahami karena memengaruhi intensitas dan pola
pendampingan yang dilakukan. Kecamatan dengan jumlah madrasah binaan lebih
banyak memerlukan pengelolaan pendampingan yang lebih sistematis dan terstruktur,
baik melalui pendampingan kelompok maupun pendampingan individual, agar seluruh
satuan pendidikan memperoleh layanan pembinaan yang proporsional.
Hasil olah data komitmen
perubahan kepala Raudhatul Athfal selanjutnya
digunakan sebagai dasar pengelompokan madrasah binaan berdasarkan tingkat
kesiapan perubahan. Secara visual, pembagian kelompok madrasah binaan
berdasarkan komitmen perubahan kepala RA disajikan dalam bentuk grafik pada
Gambar 3.
Gambar
3. Hasil Olah Data Terkait
Komitmen Perubahan kepala raudhatul athfal
Berdasarkan Gambar 3, tampak bahwa sebagian besar madrasah binaan berada
pada kategori Perubahan Berangsur (prioritas menengah). Kondisi ini
menunjukkan bahwa mayoritas kepala Raudhatul Athfal telah memiliki kesadaran awal
terhadap pentingnya perubahan, namun masih memerlukan pendampingan yang terarah
dan berkelanjutan agar perubahan tersebut dapat diimplementasikan secara
konsisten dalam penyusunan perencanaan program berbasis data.
Kategori Penyemai Perubahan (prioritas utama) dan Perubahan
Segera (prioritas menengah) menunjukkan jumlah yang lebih sedikit, sehingga
memerlukan pendampingan yang lebih intensif dan bersifat direktif. Sementara
itu, kategori Perubahan Berkelanjutan (prioritas akhir) memiliki jumlah
paling sedikit, yang mengindikasikan bahwa hanya sebagian kecil kepala RA yang
telah berada pada tahap pengelolaan perubahan yang relatif stabil dan mandiri.
Integrasi antara sebaran responden berdasarkan wilayah kecamatan, hasil
pemetaan komitmen perubahan, serta analisis SWOT memberikan gambaran
yang lebih utuh mengenai kondisi dan kesiapan kepala Raudhatul Athfal dalam melakukan perubahan. Hasil pemetaan ini
selanjutnya menjadi dasar dalam penentuan strategi dan metode pendampingan
manajerial oleh pengawas, termasuk dalam pengelompokan madrasah binaan serta
pemilihan pendekatan coaching, facilitating, dan consulting
(CFC) yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan dan komitmen perubahan
masing-masing kepala Raudhatul Athfal.
Strategi dan Metode Pendampingan
Strategi dan metode
pendampingan manajerial yang dilakukan oleh pengawas disusun berdasarkan hasil
pemetaan komitmen perubahan kepala Raudhatul Athfal.
Pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk, pendekatan, serta
intensitas pendampingan yang diberikan kepada masing-masing kelompok madrasah
binaan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendampingan manajerial yang
menekankan diferensiasi layanan sesuai dengan tingkat kesiapan dan kebutuhan
satuan pendidikan
Berdasarkan hasil pemetaan
komitmen perubahan yang disajikan pada Gambar 2, sebanyak 25 madrasah binaan
dikelompokkan ke dalam empat kategori besar, yaitu Penyemai Perubahan
(prioritas utama), Perubahan Segera (prioritas menengah), Perubahan
Berangsur (prioritas menengah), dan Perubahan Berkelanjutan
(prioritas akhir). Pengelompokan ini merujuk pada ketentuan Peraturan Direktur
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 4831/B/HK.03.01/2023 tentang Peran
Pengawas Sekolah dalam Implementasi Kebijakan Merdeka Belajar pada Satuan
Pendidikan
Gambar 4. Kelompok 1 Penyemai Perubahan (Prioritas Utama)
Kelompok Penyemai
Perubahan (prioritas utama) merupakan kelompok dengan tingkat kesiapan
perubahan yang masih rendah. Sasaran utama pendampingan pada kelompok ini
adalah terjadinya perubahan awal pada praktik pembelajaran dan pengelolaan
satuan pendidikan. Oleh karena itu, strategi pendampingan yang diterapkan
bersifat direktif, satu arah, dan dilakukan dengan frekuensi yang lebih
intensif. Pada kelompok ini, pengawas berperan lebih dominan dalam memberikan
arahan, contoh praktik, serta pendampingan teknis secara langsung.
Gambar 5. Kelompok 2 Perubahan Segera (Prioritas Menengah)
Gambar
6. Kelompok 3 Perubahan Berangsur (Prioritas Menengah)
Kelompok Perubahan Segera
dan Perubahan Berangsur berada pada kategori prioritas menengah. Sasaran
pendampingan pada kedua kelompok ini tidak hanya mencakup perubahan praktik
pembelajaran, tetapi juga perbaikan pengelolaan satuan pendidikan secara
bertahap. Strategi pendampingan yang diterapkan bersifat kombinatif, yaitu
memadukan pendekatan direktif dan non-direktif, dengan pola komunikasi dua arah
dan frekuensi pendampingan semi-intensif. Pendampingan pada kelompok ini
diarahkan untuk mendorong kepala RA dan pendidik mulai memanfaatkan data hasil Sulingjar
dalam menyusun perencanaan program satuan pendidikan.
Gambar 7. Kelompok 4 Perubahan Berkelanjutan (Prioritas Akhir)
Adapun kelompok Perubahan
Berkelanjutan (prioritas akhir) merupakan kelompok dengan tingkat kesiapan
perubahan yang relatif tinggi. Sasaran pendampingan pada kelompok ini tidak
hanya pada perbaikan praktik pembelajaran dan pengelolaan satuan pendidikan,
tetapi juga pada pengembangan madrasah secara berkelanjutan. Strategi
pendampingan yang diterapkan bersifat non-direktif, dialogis, dan reflektif,
dengan frekuensi pendampingan yang lebih fleksibel. Pada kelompok ini, pengawas
berperan sebagai mitra diskusi yang mendorong refleksi kritis dan pengambilan
keputusan mandiri oleh kepala RA
Dalam implementasinya, strategi
pendampingan manajerial dilaksanakan melalui pendekatan coaching,
facilitating, dan consulting
(CFC). Pendekatan coaching bertujuan
untuk memberdayakan individu kepala RA dalam menggali potensi diri dan
meningkatkan kinerja melalui refleksi dan dialog. Pendekatan facilitating diarahkan untuk memberdayakan kelompok
atau organisasi agar mampu melakukan perubahan secara kolaboratif. Sementara
itu, pendekatan consulting digunakan untuk
memberikan rekomendasi strategis berdasarkan hasil analisis data guna mendukung
pengembangan satuan pendidikan
Pelaksanaan pendampingan
melalui pendekatan CFC dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) sebagai forum berbagi pemahaman
dan penyamaan persepsi, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan intensif pada
satuan pendidikan terpilih sebagai sampel di setiap kelompok. Dalam
pendampingan lanjutan, pengawas memfokuskan kegiatan pada analisis hasil Sulingjar, penyusunan Komitmen Perubahan, serta
penyelarasan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kerja dan Anggaran
Madrasah (RKAM) berbasis data.
Strategi pendampingan yang
disusun berdasarkan hasil pemetaan komitmen perubahan ini memungkinkan pengawas
memberikan layanan pembinaan yang lebih kontekstual dan tepat sasaran. Dengan
demikian, pendampingan manajerial tidak hanya bersifat administratif, tetapi menjadi
proses pembelajaran berkelanjutan yang mendorong kepala Raudhatul Athfal untuk secara mandiri memanfaatkan data sebagai dasar
pengambilan keputusan dan perencanaan program satuan pendidikan
Hasil Analisis Sulingjar
Analisis hasil Sulingjar (Survei Lingkungan Belajar) merupakan
bagian penting dalam pendampingan manajerial berbasis data yang dilakukan oleh
pengawas madrasah. Sulingjar
menyediakan data empiris mengenai kondisi pembelajaran, asesmen,
kepemimpinan, serta iklim satuan pendidikan yang dapat dimanfaatkan sebagai
dasar dalam menyusun perencanaan program yang lebih kontekstual dan
berorientasi pada kebutuhan riil madrasah.
Berdasarkan hasil pengumpulan data, dari 25 madrasah
binaan terdapat 20 madrasah yang berpartisipasi aktif dalam pengisian Sulingjar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun Sulingjar telah menjadi salah
satu sumber data penting dalam perencanaan berbasis data, masih terdapat satuan
pendidikan yang belum sepenuhnya memanfaatkannya secara optimal. Temuan ini
menjadi perhatian dalam pendampingan, mengingat keberlanjutan perencanaan berbasis
data sangat bergantung pada konsistensi pengisian dan pemanfaatan hasil Sulingjar.
Sebaran hasil analisis Sulingjar berdasarkan dimensi
rekomendasi prioritas disajikan pada Gambar 8. Diagram tersebut menunjukkan
jumlah satuan pendidikan Raudhatul Athfal yang
memperoleh rekomendasi perbaikan pada masing-masing dimensi, yaitu D1, D2, D3,
D4, E4, dan E5.
Keterangan
Dimensi:
D1:
Perencanaan untuk proses pembelajaran yang efektif
D2:
Proses pembelajaran yang sesuai dengan acuan standar
D3:
Pembelajaran yang membangun kemampuan fondasi
D4: Asesmen yang meningkatkan kualitas pembelajaran
E4:
Refleksi dan perbaikan pembelajaran
E5:
Kepemimpinan yang mendukung perbaikan layanan secara berkelanjutan
Gambar
8.
Sebaran Hasil Analisis Sulingjar
Berdasarkan Gambar 8, dimensi D2 (Proses Pembelajaran
yang Sesuai dengan Acuan Standar) dan D3 (Pembelajaran yang Membangun
Kemampuan Fondasi) menempati posisi tertinggi dengan masing-masing 20 RA.
Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar madrasah binaan masih menghadapi
tantangan pada aspek pembelajaran anak usia dini, baik dari sisi kesesuaian
proses pembelajaran dengan karakteristik anak maupun dari sisi penguatan
kemampuan fondasi peserta didik.
Dimensi D4 (Asesmen
yang Meningkatkan Kualitas Pembelajaran) juga menunjukkan jumlah
rekomendasi yang cukup tinggi, yaitu pada 17 RA, disusul dimensi D1 (Perencanaan
untuk Proses Pembelajaran yang Efektif) pada 16 RA. Sementara itu, dimensi
E4 (Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran) dan E5 (Kepemimpinan yang
Mendukung Perbaikan Layanan Secara Berkelanjutan) menunjukkan jumlah
rekomendasi yang relatif lebih rendah, masing-masing pada 10 RA dan 8 RA. Pola
ini mengindikasikan bahwa permasalahan utama madrasah binaan lebih dominan pada
aspek pembelajaran dan asesmen dibandingkan pada
aspek kepemimpinan.
Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, analisis
dilanjutkan hingga tingkat akar masalah pada dimensi yang memiliki rekomendasi
tertinggi, yaitu D2 dan D3. Sebaran akar masalah pada dimensi D2 disajikan pada
Gambar 9.
Keterangan gambar
Level 1
1 = proses belajar
anak usia dini
2 = refleksi dan
perbaikan pembelajaran
3 = asesmen yang
meningkatkan kualitas Pembelajaran
Level 2
1 = penerapan disiplin
positif
2 = berfikir aktif
3 = belajar dari
dan Bersama orang lain
4 = umpan balik yang
konstruktif
5 = ekspektasi
pendidik
6 =
keteraturan suasana kelas
7 =
panduan pendidik
8 =
pembelajaran terdiferensiasi
9 =
penerapan asesmen dalam pembelajaran
Gambar 9. Sebaran
Akar Masalah dari Indikator D2
Berdasarkan Gambar 9, pada Level 1 terlihat bahwa
indikator Proses Belajar Anak Usia Dini menjadi sumber permasalahan
utama. Hal ini menunjukkan bahwa praktik pembelajaran di sebagian besar satuan
pendidikan masih belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip pembelajaran anak usia
dini yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak. Indikator lain yang
turut muncul adalah Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran serta Asesmen yang Meningkatkan Kualitas Pembelajaran,
meskipun dengan frekuensi yang lebih rendah.
Pada Level 2, akar masalah yang dominan berkaitan
dengan penerapan disiplin positif, pengelolaan suasana kelas, kemampuan
mendorong anak untuk berpikir aktif, serta pemberian umpan balik yang
konstruktif. Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama pada dimensi D2 lebih
terletak pada implementasi pembelajaran di kelas, bukan semata-mata pada
perencanaan. Pembelajaran anak usia dini menuntut pendidik untuk mampu
menciptakan lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, dan partisipatif
melalui aktivitas bermain dan eksplorasi
Analisis akar masalah pada dimensi D3 (Pembelajaran
yang Membangun Kemampuan Fondasi) disajikan pada Gambar 10.
Level 1
1 = pembelajaran yang
membangun kemampuan fondasi
2 = asesmen
yang mningkatkan kualitas pembelajaran
3 = perencanaan untuk proses
pembelajaran yang efektif
Level
2
1 =
literasi dasar
2 =
identitas diri
3 = umpan
balik yang konstruktif
4 = kualitas
perencanaan
5 = pemahaman
mengenai komponen perencanaan
Gambar 10. Sebaran
Akar Masalah dari Indikator D3
Berdasarkan Gambar 10, pada Level 1 indikator Pembelajaran
yang Membangun Kemampuan Fondasi muncul sebagai sumber permasalahan utama.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar satuan pendidikan masih memerlukan
penguatan dalam merancang pembelajaran yang secara sistematis mampu
mengembangkan kemampuan fondasi anak usia dini. Selain itu, indikator Asesmen yang Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
dan Perencanaan untuk Proses Pembelajaran yang Efektif juga muncul
sebagai faktor pendukung munculnya permasalahan pada dimensi ini.
Pada Level 2, akar masalah yang paling dominan
berkaitan dengan penguatan literasi dasar, kualitas
perencanaan pembelajaran, serta pemahaman pendidik terhadap komponen
perencanaan pembelajaran. Literasi dasar sebagai
kemampuan fondasional perlu dikembangkan sejak usia
dini melalui pembelajaran yang kontekstual dan bermakna, salah satunya melalui
kegiatan bercerita dan penyediaan lingkungan belajar yang kaya teks
Selain dimensi pembelajaran, analisis Sulingjar juga menunjukkan
temuan penting pada dimensi D4 (Asesmen
yang Meningkatkan Kualitas Pembelajaran) dan E4 (Refleksi dan Perbaikan
Pembelajaran). Pada dimensi D4, permasalahan utama berkaitan dengan
keterbatasan pendidik dalam memanfaatkan asesmen
sebagai dasar perbaikan pembelajaran dan pemberian umpan balik yang bermakna.
Padahal, asesmen yang dilakukan secara tepat dapat
membantu pendidik mengidentifikasi kebutuhan belajar anak serta merancang
intervensi yang lebih sesuai
Sementara itu, pada dimensi E4, temuan menunjukkan bahwa
praktik refleksi pembelajaran belum menjadi budaya yang sistematis dan
berkelanjutan di sebagian satuan pendidikan. Refleksi pembelajaran sering kali
belum dilakukan secara kolaboratif, sehingga perbaikan pembelajaran masih
bersifat insidental. Kondisi ini memperkuat pentingnya pengembangan komunitas
belajar pendidik, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG), sebagai
wadah refleksi dan pembelajaran bersama.
Secara keseluruhan, hasil analisis Sulingjar menunjukkan bahwa
permasalahan utama madrasah binaan terletak pada dimensi pembelajaran, asesmen, dan refleksi pembelajaran, sementara dimensi
kepemimpinan relatif menunjukkan kondisi yang lebih baik. Temuan ini menjadi
dasar bagi pengawas dalam merancang pendampingan manajerial yang lebih terarah,
dengan fokus pada penguatan kompetensi pendidik dan kepala Raudhatul Athfal dalam merancang pembelajaran, memanfaatkan asesmen, serta melakukan refleksi berbasis data.
Hasil analisis Sulingjar ini selanjutnya diintegrasikan dengan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats
(SWOT) masing-masing satuan pendidikan sebagai dasar penyusunan Komitmen
Perubahan, Rencana Kerja Tahunan (RKT), dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah
(RKAM) berbasis data, sehingga perencanaan yang disusun benar-benar
mencerminkan kebutuhan nyata dan prioritas pengembangan madrasah.
Integrasi analisis SWOT dan Sulingjar
Sebagai Sumber Data
Hasil integrasi analisis Strengths,
Weaknesses, Opportunities,
dan Threats (SWOT) dengan temuan Sulingjar (Survei Lingkungan Belajar) pada
masing-masing satuan pendidikan digunakan sebagai dasar dalam merumuskan arah
program pendampingan. Integrasi ini dilakukan dengan menyandingkan rekomendasi
prioritas hasil Sulingjar dengan kondisi
internal dan eksternal madrasah sebagaimana tercermin dalam analisis SWOT.
Penyajian hasil integrasi tersebut dalam bentuk tabel bertujuan untuk
memberikan gambaran konkret mengenai hubungan antara temuan data, potensi
satuan pendidikan, serta arah program yang dirumuskan secara berbasis data.
Tabel 1. Integrasi Analisa Swot dan Sulingjar
Kelompok
Prioritas Pertama
Sampel
1
|
Komponen |
Uraian |
|
Akar Masalah |
·
D.2. Proses belajar
yang sesuai dengan anak usia dini ·
D.4. Asesmen yang meningkatkan kualitas pembelajaran ·
D.3 Pembelajaran
yang membangun kemampuan fondasi ·
E.5. Kepemimpinan
yang mendukung perbaikan layanan secara berkelanjutan dan partisipatif |
|
Potensi |
1.
Pengoptimalisasian
keberadaan KKG di tingkat kecamatan yang sudah mulai dibentuk 2.
Jumlah peserta
didik yang lumayan banyak 3.
Sarana gedung yang
mendukung |
|
Harapan |
1.
Semua potensi yang
ada dapat dioptimalkan 2.
Hasil refleksi Sulingjar dapat dimanfaatkan dengan baik 3.
Penyusunan RKAM
berbasis data Sulingjar |
|
Ide Program |
1.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar lebih memahami
cara memanfaatkan hasil asesmen untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran 2.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar lebih memahami
cara memberikan umpan balik yang konstruktif untuk kemampuan literasi dan numerasi 3.
Penguatan kapasitas
satuan RA dalam membangun kemitraan dengan orang tua 4.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan
teknik asesmen yang sesuai bagi anak usia dini 5.
Satuan RA bersama
KKG mengaktivasi komunitas belajar di tingkat
satuan sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara
berkelanjutan |
|
Komponen |
Uraian |
|
Akar
Masalah |
Tidak
aktif mengisi Sulingjar 2024 sehingga target untuk
RA Mutiara melihat Sulingjar 2023 |
|
Potensi |
1.
Ruang belajar yang
sudah ada 2.
Jumlah peserta
didik yang lumayan (31) 3.
Usia pendidik yang
sangat produktif |
|
Harapan |
1.
Pembenahan dalam
hal administrasi 2.
Optimalisasi
kinerja pendidik 3.
Penyusunan RKAM
berbasis data Sulingjar |
|
Ide
Program |
1.
Pendampingan lebih
lanjut pengawas terkait perapihan administrasi 2.
Monitoring terkait hasil
refleksi perubahan komitmen Kepala RA 3.
Monitoring penyusunan RKAM
berbasis Sulingjar |
Sampel 3
|
Komponen |
Uraian |
|
Akar
Masalah |
Tidak
aktif mengisi Sulingjar, sehingga target untuk RA
Mustika adalah merapikan dokumen RA sebagai bentuk persiapan akreditasi tahun
2026 (RA Mustika belum terakreditasi). |
|
Potensi |
1.
Ruang belajar yang
sudah ada dan cukup representatif untuk pembelajaran 2.
Jumlah peserta
didik yang lumayan (15) |
|
Harapan |
1.
Pembenahan dalam
hal administrasi 2.
Optimalisasi
kinerja pendidik 3.
Tahun 2026 dapat
lulus akreditasi |
|
Ide
Program |
1.
Pendampingan lebih
lanjut oleh pengawas terkait perapihan administrasi 2.
Monitoring terkait hasil
refleksi perubahan komitmen Kepala RA |
Tabel 2. Integrasi Analisa
Swot dan Sulingjar
Kelompok Prioritas Menengah
Sampel 1
|
Komponen |
Uraian |
|
Akar
Masalah |
Tidak
mengisi Sulingjar secara online,
tetapi secara manual. Didapati: ·
D.2. Proses belajar
yang sesuai bagi anak usia dini ·
D.3. Pembelajaran
yang membangun kemampuan fondasi ·
D.4. Asesmen yang meningkatkan kualitas pembelajaran ·
E.5. Kepemimpinan
yang mendukung perbaikan layanan secara berkelanjutan dan partisipatif |
|
Potensi |
1.
Lokasi RA strategis 2.
Semua pendidik dan
kepala RA berstatus ASN 3.
Jumlah peserta
didik yang lumayan (27) |
|
Harapan |
1.
Semua potensi yang
ada dapat dioptimalkan 2.
Hasil refleksi Sulingjar dapat dimanfaatkan dengan baik 3.
Penyusunan RKAM
berbasis data Sulingjar |
|
Ide
Program |
1.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan
teknik asesmen yang sesuai bagi anak usia dini 2.
Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan (KKG)
sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara
berkelanjutan 3.
Satuan RA
memfasilitasi kebutuhan belajar pendidik melalui pelatihan, berkunjung ke
satuan PAUD lain, atau mengundang narasumber 4.
Satuan RA membangun
kemitraan dengan orang tua melalui pelaporan hasil belajar secara konstruktif 5.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menyusun
laporan hasil belajar yang informatif serta merekomendasikan kegiatan yang
dapat dilakukan orang tua/wali murid di rumah 6.
Satuan RA
menyediakan buku bacaan anak sebagai bagian dari penyediaan lingkungan yang
kaya teks |
Sampel 2
|
Komponen |
Uraian |
|
Akar
Masalah |
·
D.1. Perencanaan
untuk Proses Pembelajaran yang Efektif ·
D.2. Keteraturan
suasana kelas ·
D.3. Pembelajaran
yang membangun kemampuan fondasi ·
D.4. Asesmen yang meningkatkan kualitas pembelajaran ·
E.4. Refleksi dan
perbaikan pembelajaran oleh pendidik |
|
Potensi |
1.
Lokasi RA strategis (dekat dengan masjid) |
|
Harapan |
1.
Optimalisasi peran
pendidik 2.
Optimalisasi hasil refleksi
komitmen perubahan Kepala RA 3.
3. Penyusunan RKAM
berbasis data Sulingjar |
|
Ide
Program |
1.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat
menghadirkan lingkungan belajar yang memfasilitasi anak belajar secara aman
dan nyaman 2.
Satuan RA memfasilitasi
kebutuhan belajar pendidik melalui pelatihan, berkunjung ke satuan PAUD lain,
atau mengundang narasumber 3.
Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan (KKG)
sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara
berkelanjutan 4.
Satuan PAUD
merancang kurikulum satu tahun ke depan yang lebih melibatkan orang tua/wali
murid dalam kegiatan pembelajaran 5.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menyusun
laporan hasil belajar yang informatif beserta rekomendasi kegiatan yang dapat
dilakukan orang tua/wali murid di rumah |
Sampel 3
|
Komponen |
Uraian |
|
Akar Masalah |
1.
D.2. Proses belajar
yang sesuai bagi anak usia dini 2.
D.2.2. Penerapan
disiplin positif 3.
E.4.1. Belajar dari
dan bersama orang lain 4.
D.3. Pembelajaran
yang membangun kemampuan fondasi 5.
D.1. Perencanaan
untuk Proses Pembelajaran yang Efektif 6.
E.6. Kemitraan
dengan Orang Tua/Wali 7.
E.5. Kepemimpinan
yang mendukung perbaikan layanan secara berkelanjutan dan partisipatif |
|
Potensi |
1.
Lokasi RA strategis
(dekat masjid) 2.
Jumlah peserta
didik yang lumayan (60) 3.
Pendidik yang
semuanya usia produktif dengan jumlah sangat cukup (7 orang) |
|
Harapan |
1.
Semua potensi yang
sudah ada dapat dioptimalisasikan 2.
Hasil refleksi Sulingjar dapat dimanfaatkan dengan baik 3.
Penyusunan RKAM
berbasis data Sulingjar |
|
Ide Program |
1.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menyusun
perencanaan pembelajaran di tingkat satuan dan di kelas 2.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar menguatkan
kualitas perencanaan dengan cara memodifikasi contoh KOSP (KOM) dan modul
ajar 3.
Satuan RA merancang
kurikulum satu tahun ke depan yang lebih melibatkan orang tua/wali murid
dalam kegiatan pembelajaran 4.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat
menghadirkan lingkungan belajar yang memfasilitasi anak belajar secara aman
dan nyaman 5.
Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan (KKG)
sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara
berkelanjutan 6.
Satuan RA
memfasilitasi kebutuhan belajar |
Tabel
3 Integrasi Analisa Swot dan Sulingjar
Kelompok Prioritas Akhir
Sampel 1
|
Komponen |
Uraian |
|
Akar Masalah |
Tidak mengisi Sulingjar
secara online, tetapi diisi secara manual.
Didapat: 1.
D.2. Proses belajar
yang sesuai bagi anak usia dini 2.
E.4. Refleksi dan perbaikan
pembelajaran oleh pendidik 3.
D.2.5. Pembelajaran
terdiferensiasi 4.
E.6. Kemitraan
dengan Orang Tua/Wali 5.
5. D.1.2. Kualitas
perencanaan proses pembelajaran yang efektif |
|
Potensi |
1.
Sarana prasarana
yang sudah baik 2.
Jumlah pendidik
yang cukup dengan kualifikasi yang cukup representatif (1 ASN dan impassing, Tendik sudah
mendapat dana hibah) 3.
Jumlah peserta
didik yang lumayan (35 orang) 4.
Ada kelas jauh (kurleb 90 orang) |
|
Harapan |
1.
Optimalisasi sumber
daya yang ada 2.
Perencanaan
kegiatan berbasis data Sulingjar 3.
Perapihan
data dan administrasi kelas jauh |
|
Ide Program |
1.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat lebih
memahami cara membangun pembelajaran yang bermakna pada anak usia dini 2.
Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan sebagai
wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara berkelanjutan 3.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan
pembelajaran berdiferensiasi 4.
Satuan RA merancang
kegiatan satu tahun untuk kemudian dibagikan kepada orang tua/wali murid 5.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menyusun
laporan hasil belajar yang informatif beserta rekomendasi kegiatan yang dapat
dilakukan orang tua/wali murid di rumah |
Sampel
2
|
Komponen |
Uraian |
|
Akar Masalah |
1.
D.2. Proses belajar
yang sesuai bagi anak usia dini 2.
D.2.2. Penerapan
disiplin positif 3.
D.4.1. Penerapan asesmen dalam pembelajaran 4.
D.3. Pembelajaran
yang membangun kemampuan fondasi 5.
D.2.5. Pembelajaran
terdiferensiasi 6.
E.6. Kemitraan
dengan Orang Tua/Wali |
|
Potensi |
1.
Jumlah peserta
didik yang lumayan (37 orang) 2.
Tenaga pendidik
yang masih usia produktif |
|
Harapan |
1.
Optimalisasi sumber
daya yang ada 2.
Membuat perencanaan
kegiatan berbasis data Sulingjar 3.
Ekspansi perluasan
RKB agar kegiatan pembelajaran lebih optimal |
|
Ide Program |
1.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan
disiplin positif pada anak usia dini 2.
Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan (KKG)
sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara
berkelanjutan 3.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan
teknik asesmen yang sesuai bagi anak usia dini 4.
Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan
pembelajaran berdiferensiasi 5.
Satuan RA merancang
kurikulum satu tahun ke depan yang lebih melibatkan orang tua/wali murid
dalam kegiatan pembelajaran |
Berdasarkan hasil integrasi analisis SWOT dan Sulingjar yang disajikan pada tabel-tabel di atas, terlihat
bahwa permasalahan utama madrasah binaan cenderung terkonsentrasi pada aspek
pembelajaran, asesmen, dan refleksi pembelajaran.
Temuan ini selaras dengan hasil analisis Sulingjar
yang menunjukkan dominasi rekomendasi pada dimensi pembelajaran dan asesmen. Di sisi lain, setiap satuan pendidikan memiliki
potensi dan karakteristik yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan
pendampingan yang kontekstual dan beragam.
Hasil integrasi ini menjadi dasar bagi pengawas dalam
merancang strategi pendampingan manajerial yang adaptif melalui pendekatan coaching, facilitating,
dan consulting (CFC). Selain itu,
temuan dari tabel-tabel tersebut dimanfaatkan oleh kepala Raudhatul Athfal sebagai pijakan dalam penyusunan Komitmen Perubahan,
Rencana Kerja Tahunan (RKT), dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM)
berbasis data, sehingga perencanaan program yang dihasilkan lebih tepat sasaran
dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
Refleksi Kepala
Madrasah Terhadap Hasil Pendampingan
Refleksi kepala Raudhatul
Athfal terhadap hasil pendampingan diperoleh melalui survei yang dilakukan
sebelum dan setelah pelaksanaan pendampingan manajerial oleh pengawas. Survei
refleksi ini bertujuan untuk menggambarkan perubahan pemahaman, sikap, dan komitmen
kepala madrasah dalam memanfaatkan data sebagai dasar perencanaan program
satuan pendidikan. Refleksi berbasis survei digunakan sebagai salah satu
pendekatan untuk menilai efektivitas pendampingan manajerial dalam mendorong
perubahan praktik kepemimpinan di satuan pendidikan
Gambar 11. Pengetahuan kepala RA tentang sumber data
Hasil survei
awal yang disajikan pada Gambar 11 menggambarkan kondisi pemahaman kepala
Raudhatul Athfal sebelum adanya intervensi pendampingan. Pada aspek pemahaman
terhadap fungsi Sulingjar, sebanyak 69,6% responden menyatakan belum mengetahui
fungsi Sulingjar, sedangkan 30,4% responden menyatakan telah mengetahui. Temuan
ini menunjukkan bahwa mayoritas pimpinan satuan pendidikan belum memahami peran
strategis Sulingjar sebagai instrumen pengumpulan dan analisis data mutu
pendidikan sebelum pendampingan dilaksanakan. Kondisi tersebut sejalan dengan
temuan bahwa perencanaan program di satuan pendidikan sering kali masih
bersifat administratif dan belum berbasis pada pemanfaatan data secara optimal
Pada aspek
pengetahuan mengenai sumber data yang digunakan dalam perencanaan program
satuan pendidikan, hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 52,2% responden
menyatakan tidak mengetahui sumber data yang digunakan, sementara 47,8%
responden menyatakan mengetahui. Data ini mengindikasikan bahwa lebih dari
separuh kepala Raudhatul Athfal belum menjadikan data sebagai landasan utama
dalam proses perencanaan program sebelum pendampingan dilakukan. Temuan ini
menguatkan pandangan bahwa kepemimpinan satuan pendidikan memerlukan penguatan
kapasitas reflektif dan analitis agar perencanaan program benar-benar berangkat
dari kebutuhan nyata satuan pendidikan
Gambar 12. Pemahaman kepala RA terkait fungsi Sulingjar
Perubahan
pemahaman kepala madrasah setelah memperoleh pendampingan pengawas ditunjukkan
pada Gambar 12. Berdasarkan hasil survei terhadap 23 responden, sebesar 95,7%
responden menyatakan telah memahami pentingnya perencanaan berbasis data,
sementara hanya 4,3% responden yang menyatakan belum memahami. Peningkatan
pemahaman ini menunjukkan bahwa pendampingan manajerial berbasis data yang
dilakukan telah berkontribusi secara signifikan dalam mengubah cara pandang
kepala Raudhatul Athfal terhadap perencanaan program satuan pendidikan,
sebagaimana ditekankan dalam kebijakan penguatan peran pengawas melalui
pendekatan coaching, facilitating, dan consulting (CFC)
(
Gambar 13. Tingkat
Komitmen Kepala RA Untuk Membuat RKT/RKAM Sesuai Data
Selain peningkatan
pemahaman, hasil survei refleksi juga menunjukkan adanya penguatan komitmen
kepala madrasah terhadap implementasi perencanaan berbasis data. Hal ini
ditunjukkan pada Gambar 13 yang menggambarkan komitmen kepala Raudhatul Athfal dalam menyusun Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan
Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM) berbasis data. Seluruh responden
(100%) menyatakan berkomitmen untuk menyusun RKT/RKAM berbasis data. Temuan ini
menunjukkan bahwa pendampingan tidak hanya berdampak pada peningkatan
pengetahuan, tetapi juga berhasil menumbuhkan kesadaran dan komitmen perubahan
yang merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan peningkatan mutu layanan
pendidikan
Secara
keseluruhan, refleksi kepala Raudhatul Athfal
terhadap hasil pendampingan menunjukkan adanya pergeseran yang signifikan dari
kondisi awal yang ditandai dengan keterbatasan pemahaman terhadap fungsi Sulingjar dan sumber data perencanaan, menuju peningkatan
pemahaman dan komitmen yang kuat terhadap perencanaan berbasis data setelah
pendampingan dilakukan. Pergeseran ini mencerminkan terbentuknya kepemimpinan
reflektif yang memandang data sebagai dasar pengambilan keputusan dan
perencanaan program satuan pendidikan secara berkelanjutan
KESIMPULAN
Peran pengawas madrasah sebagai agen perubahan memiliki posisi strategis
dalam mendorong transformasi pengelolaan pendidikan. Melalui pendampingan
manajerial yang transformatif dengan pendekatan Coaching,
Facilitating, dan Consulting
(CFC), pengawas tidak hanya berperan sebagai pengawas administratif, tetapi
juga sebagai mitra profesional yang memberdayakan kepala madrasah dalam
meningkatkan kapasitas manajerialnya.
Pendampingan terhadap madrasah binaan melalui pembiasaan penyusunan
perencanaan berbasis data menjadi langkah penting agar kebijakan dan program
yang dirumuskan lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan nyata satuan
pendidikan. Ketika perencanaan program disusun berdasarkan data empiris, mutu
pengelolaan madrasah berpotensi mengalami peningkatan secara berkelanjutan.
Hasil pendampingan menunjukkan bahwa sebelum kegiatan dilaksanakan,
sebagian besar kepala Raudhatul Athfal belum memahami
konsep perencanaan berbasis data. Sebanyak 60,9% kepala RA menyatakan belum
pernah mendengar tentang perencanaan berbasis data, 52,2% tidak mengetahui
sumber data yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan program, dan 69,6% belum
memahami fungsi Sulingjar. Oleh karena itu, kepala
madrasah masih memerlukan pendampingan berkelanjutan, khususnya dalam membaca
hasil Sulingjar dan mengintegrasikan hasil analisis
tersebut ke dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kerja dan
Anggaran Madrasah (RKAM).
Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan, beberapa rekomendasi yang dapat diajukan adalah
sebagai berikut.
1.
Bagi Pengawas Madrasah
Pengawas madrasah perlu terus mengembangkan strategi
pendampingan manajerial yang adaptif dan berbasis data dengan memanfaatkan
hasil Sulingjar serta instrumen refleksi lainnya.
Penguatan pemanfaatan platform kolaborasi antar pengawas juga perlu didorong
sebagai sarana berbagi praktik baik, pengembangan instrumen pendampingan, dan
peningkatan profesionalisme pengawas secara berkelanjutan.
Sistem evaluasi
kinerja pengawas madrasah perlu diarahkan tidak hanya pada pemenuhan laporan
administratif, tetapi juga pada dampak nyata pendampingan terhadap peningkatan
kompetensi kepala madrasah dan mutu satuan pendidikan. Dukungan kebijakan yang
mendorong pendampingan manajerial berbasis data secara berkelanjutan menjadi
hal yang penting untuk diperkuat.
Untuk menjaga
objektivitas dan validitas data, mekanisme pengisian Sulingjar
perlu ditata kembali agar meminimalkan peluang pengisian secara offline. Konsistensi pengisian secara daring akan
memastikan bahwa data yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kondisi riil
satuan pendidikan, sehingga rekomendasi perbaikan yang dihasilkan lebih akurat
dan sesuai dengan kebutuhan madrasah.
Kepala RA
diharapkan dapat menjadikan data hasil Sulingjar dan
refleksi satuan pendidikan sebagai dasar utama dalam pengambilan keputusan dan
penyusunan perencanaan program. Pembiasaan perencanaan berbasis data secara
konsisten akan mendorong terciptanya budaya reflektif dan peningkatan mutu
madrasah yang berkelanjutan.
DAFTAR
PUSTAKA
Creswell, J. W., & Plano Clark, V. L.
(2018). Designing and Conducting Mixed Methods Research (3rd ed.). SAGE
Publications.
Glickman, C. D., Gordon, S. P., &
Ross-Gordon, J. M. (2010). SuperVision and
Instructional Leadership: A Developmental Approach. Pearson/Allyn &
Bacon.
Kementerian Pendidikan, K. R. dan T. (2023). Peraturan
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 4831/B/HK.03.01/2023 tentang Peran Pengawas Sekolah dalam Implementasi
Kebijakan Merdeka Belajar pada Satuan Pendidikan.
Kuswandi, A. A., Adah, A., Abidin, J., Masitoh, I., Hidayat, Y., Oktora,
P., Karomah, I., & Safitri, E. (2022).
Pengembangan Literasi Dasar Untuk Menumbuhkan Minat Baca Anak Usia
Dini Melalui Metode Cerita Di RA Miftahul Jannah Bagolo.
Wahana Dedikasi: Jurnal PkM
Ilmu Kependidikan, 5(1), 115–126.
https://doi.org/10.31851/dedikasi.v5i1.7778
Murtadlo, M., Hazin, M., Roesminingsih,
E., & Amalia, K. (2023). OPTIMALISASI PERENCANAAN BERBASIS DATA (PBD)
DENGAN PELATIHAN BAGI SEKOLAH DASAR DI PULAU BAWEAN. DEDICATE: Journal of
Community Engagement in Education, 2(2), 48–59.
Ningsi, A., Nurhidayah, N.,
& Nurfadillah, N. (2025). Improving Early
Childhood Learning Outcomes Through Active Play and Exploration. Educia Journal, 3(1), 15–27.
https://doi.org/10.71435/610426
Sakdiah, S. (2024). Peningkatan
Kemampuan Kepala Madrasah dalam Menyusun Rencana
Kerja Madrasah melalui Pendampingan Manajerial
secara Kolaboratif pada Madrasah Binaan
Tahun 2024. Karakter : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam, 2(2), 233–239.
https://doi.org/10.61132/karakter.v2i2.578
Sergiovanni, T. J. (2009). The principalship: A
reflective practice perspective (6th ed.). Pearson Education.
Suyadi. (2016). Perencanaan dan Asesmen Perkembangan pada Anak Usia
Dini. Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang
Anak Usia Dini, 1(1), 65–74.