PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM MENDUKUNG KEBIJAKAN
DIGITALISASI KEMENAG:
STUDI PADA MTSN 2 KOTA PALEMBANG
Ayu Sofya*
Miskiah**
Musyaddad***
*Universitas
Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia
**Balai
Diklat Keagamaan Palembang, Indonesia
***Balai
Diklat Keagamaan Palembang, Indonesia
*E-mail: ayusofya576@gmail.com
**E-mail: miskiahpahrul@yahoo.co.id
***E-mail: musyaddadbdkplg@gmail.com
Abstract
Changes in information technology have influenced how educational institutions, including religious-based madrasahs, respond to current demands.
As institutions that combine general education with Islamic values, madrasahs must adapt to
the digital transformation.
The Madrasah Digitalization Program launched by the
Ministry of Religious Affairs is a concrete effort
to modernize learning systems and management in madrasahs. However, the success of
this program highly depends on the
role of madrasah principals as change leaders. This paper
examines how the principal's leadership at MTsN
2 Kota Palembang contributes to
the madrasah's digital transformation. Using a qualitative narrative approach, data were collected through interviews, observation, and document analysis. The findings reveal that the principal
adopts leadership practices that promote innovation, collaboration, and the development of a digital mindset among teachers and staff. The strategies include routine training, integrating technology into daily practices,
improving infrastructure, and collaborating with various stakeholders.
Despite challenges such as limited funding, unequal digital competence, and resistance to change,
the principal has successfully fostered a progressive and inclusive work culture. This study concludes that the success of
madrasah digitalization is strongly influenced by the quality
of school-level leadership in translating policy into practical
action.
Keywords: madrasah leadership;
education digitalization; school transformation
Abstrak
Perubahan dalam bidang teknologi informasi
telah memengaruhi cara lembaga pendidikan, termasuk madrasah berbasis
keagamaan, merespons perkembangan zaman. Sebagai lembaga yang memadukan
pendidikan umum dan nilai-nilai keislaman, madrasah dituntut untuk mampu
beradaptasi dengan transformasi digital. Program Digitalisasi Madrasah yang
dicanangkan oleh Kementerian Agama merupakan upaya konkret untuk mendorong
modernisasi sistem pembelajaran dan manajemen di madrasah. Namun, keberhasilan
implementasi program ini sangat bergantung pada peran kepala madrasah sebagai
pemimpin perubahan. Tulisan ini ditujukan untuk menelusuri bagaimana
kepemimpinan yang dijalankan oleh kepala MTsN 2 Kota
Palembang berkontribusi terhadap proses digitalisasi di madrasah. Dengan
pendekatan kualitatif naratif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi,
dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala madrasah menerapkan
kepemimpinan yang mendorong inovasi, kolaborasi, serta pembangunan pola pikir
digital di kalangan guru dan tenaga kependidikan. Strategi yang dilakukan
meliputi pelatihan rutin, pemanfaatan teknologi dalam aktivitas harian,
peningkatan infrastruktur, dan kerja sama dengan berbagai pihak. Meskipun
menghadapi tantangan seperti keterbatasan anggaran, kesenjangan kemampuan
digital, dan resistensi terhadap perubahan, kepala madrasah berhasil
menciptakan budaya kerja yang terbuka dan progresif. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa keberhasilan digitalisasi madrasah sangat dipengaruhi oleh
kualitas kepemimpinan di tingkat satuan pendidikan yang mampu menerjemahkan
kebijakan ke dalam tindakan nyata.
Kata Kunci: kepemimpinan madrasah; digitalisasi
pendidikan; transformasi sekolah
PENDAHULUAN
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi katalisator perubahan
dalam berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan. Dalam konteks globalisasi
dan disrupsi digital, dunia pendidikan dituntut untuk beradaptasi secara cepat
agar tetap relevan, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan zaman. Hal ini
tidak terkecuali bagi lembaga pendidikan berbasis keagamaan seperti madrasah.
Sebagai institusi pendidikan formal yang berada di bawah naungan Kementerian
Agama, madrasah memiliki tanggung jawab ganda: menyediakan pendidikan umum yang
kompetitif sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai keislaman secara utuh (Mustofa
& Ramdhani, 2023).
Merespons
perubahan ini, Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan program
Digitalisasi Madrasah, yang merupakan bagian dari transformasi digital layanan
pendidikan Islam. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat akses pembelajaran,
meningkatkan efisiensi manajerial, mempercepat pelayanan berbasis TIK, serta
memperluas jangkauan dan kualitas proses belajar mengajar di madrasah.
Implementasi digitalisasi ini tidak hanya menyentuh aspek penggunaan perangkat
keras dan lunak, tetapi juga mencakup perubahan budaya kerja, peningkatan
kapasitas SDM, dan pergeseran paradigma dalam manajemen pendidikan (Agustin,
2025).
Namun
demikian, keberhasilan implementasi kebijakan digitalisasi tidak semata
ditentukan oleh kebijakan nasional yang bersifat top-down.
Dalam praktiknya, peran kepemimpinan di tingkat satuan pendidikan menjadi
penentu utama. Kepala madrasah sebagai pemimpin perubahan memiliki peran
strategis dalam mengarahkan, memfasilitasi, serta menginspirasi seluruh warga
madrasah agar mampu menerima dan menjalankan transformasi digital secara
efektif. Kepemimpinan yang visioner,
adaptif, dan partisipatif sangat dibutuhkan agar
digitalisasi tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar membudaya dalam
sistem kerja dan pembelajaran di madrasah.
MTsN 2 Kota Palembang menjadi contoh nyata
dari satuan pendidikan yang telah menerapkan berbagai aspek digitalisasi. Mulai
dari sistem administrasi berbasis digital, pengelolaan data dan dokumen sekolah
secara elektronik, penggunaan Learning Management System (LMS), hingga pemanfaatan media sosial
untuk komunikasi publik dan branding lembaga. Upaya
ini tentu tidak terlepas dari peran kepemimpinan kepala madrasah yang
berkomitmen tinggi terhadap transformasi digital.
Transformasi
digital di madrasah tidak hanya menuntut kesiapan infrastruktur dan sumber daya
manusia, tetapi juga perubahan pola pikir (mindset)
seluruh elemen sekolah. Kepala madrasah dituntut untuk mampu menjadi role model dalam penggunaan teknologi, menciptakan budaya
kerja yang kolaboratif, serta memastikan setiap kebijakan digital berjalan
sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Kepemimpinan transformasional
merupakan gaya kepemimpinan yang menekankan kemampuan pemimpin dalam
menginspirasi, memotivasi, dan mendorong perubahan melalui penguatan visi
bersama. Burns (1978) menjelaskan kepemimpinan transformasional sebagai proses di mana pemimpin dan
pengikut saling meningkatkan kapasitas moral dan motivasionalnya.
Bass dan Avolio (1994)
kemudian mengembangkan konsep ini melalui empat dimensi utama, yaitu pengaruh
ideal (idealized influence),
motivasi inspirasional (inspirational
motivation), stimulasi intelektual (intellectual stimulation),
dan perhatian individual (individualized consideration). Dalam konteks pendidikan, gaya
kepemimpinan ini berperan penting dalam membangun budaya inovasi, menciptakan
motivasi kolektif, serta mendorong warga sekolah untuk beradaptasi dengan
perubahan. Dengan demikian, digitalisasi di madrasah bukan hanya persoalan
penerapan perangkat teknologi, tetapi juga upaya membangun ekosistem pendidikan
yang inovatif, berkarakter, dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan
pendidikan.
Lebih
jauh lagi, kepemimpinan kepala madrasah dalam konteks digitalisasi juga
dihadapkan pada tantangan kompleks, seperti kesenjangan literasi
digital guru, keterbatasan fasilitas, serta resistensi terhadap perubahan.
Kondisi ini menuntut kepala madrasah untuk mampu mengelola perubahan secara
bijak, dengan pendekatan yang humanis dan kontekstual. Upaya tersebut tidak
hanya membutuhkan kemampuan manajerial, tetapi juga kecerdasan emosional dan
spiritual agar transformasi digital tetap sejalan dengan nilai-nilai keislaman
yang menjadi ruh pendidikan madrasah.
Artikel
ini bertujuan untuk mengulas secara mendalam bagaimana kepemimpinan madrasah,
khususnya kepala MTsN 2 Kota Palembang, memainkan
peran dalam mendukung dan mengimplementasikan kebijakan digitalisasi dari
Kementerian Agama. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata
tentang dinamika implementasi kebijakan publik di tingkat mikro dan menyumbang
rekomendasi untuk penguatan tata kelola madrasah di era digital.
METODE
Artikel
ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana kepemimpinan madrasah,
khususnya kepala MTsN 2 Kota Palembang, memainkan
peran strategis dalam mendukung dan mengimplementasikan kebijakan digitalisasi
yang dicanangkan oleh Kementerian Agama. Kajian ini diharapkan dapat memberikan
gambaran empiris mengenai dinamika implementasi kebijakan publik pada tingkat
satuan pendidikan serta menawarkan rekomendasi untuk memperkuat tata kelola
madrasah di era digital.
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain naratif eksploratif. Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif,
dan analisis dokumen kebijakan serta arsip madrasah. Pendekatan ini dipilih
untuk menggali pengalaman, pemaknaan, dan praktik kepemimpinan kepala madrasah
dalam proses transformasi digital secara komprehensif dan kontekstual.
Pendekatan
ini dipilih untuk menggali pengalaman-pengalaman aktor kunci secara mendalam,
tidak sekadar sebagai data objektif, melainkan sebagai cerita yang hidup dalam
konteks transformasi digital pendidikan Islam.
Alih-alih
menggunakan pola linear konvensional, penelitian ini mengikuti pola siklus
reflektif, yakni proses pengumpulan data, refleksi, klarifikasi, dan
interpretasi yang terus berulang (iteratif), hingga
peneliti menemukan pola bermakna dalam dinamika kebijakan digitalisasi
madrasah. Data penelitian terdiri atas transkrip wawancara dengan kepala
madrasah, guru, dan tim TIK; dokumentasi kebijakan internal terkait
digitalisasi; arsip pelatihan dan kegiatan pendukung; serta catatan observasi
lapangan mengenai proses implementasi digitalisasi di MTsN
2 Kota Palembang. Untuk menjaga kedalaman makna, data dianalisis dengan metode
analisis tematik naratif, yaitu memilah temuan berdasarkan alur cerita (sequence), tokoh utama (actors),
latar (setting), dan konflik atau hambatan
yang dihadapi madrasah dalam proses transisi digital.
Penggunaan
pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap lebih dari sekadar apa yang
terjadi, melainkan bagaimana dan mengapa perubahan digital itu diterima,
ditolak, atau disesuaikan dalam kultur kelembagaan madrasah. Dengan demikian,
hasil penelitian ini tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga reflektif dan
strategis, membuka ruang untuk formulasi kebijakan yang lebih humanistik dan kontekstual.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Bentuk
Kepemimpinan dalam Mendukung Digitalisasi
Dalam
menghadapi era digital yang terus berkembang pesat, dunia pendidikan dituntut
untuk mampu beradaptasi dan melakukan transformasi, termasuk di lingkungan
madrasah. MTsN 2 Kota Palembang merupakan salah satu
madrasah yang telah mengambil langkah konkret dalam mendukung proses
digitalisasi pendidikan. Hal ini tidak terlepas dari peran penting kepala
madrasah yang menerapkan gaya kepemimpinan transformasional
dalam mengarahkan dan menggerakkan seluruh elemen madrasah menuju kemajuan
berbasis teknologi.
Kepala
MTsN 2 Kota Palembang memandang bahwa digitalisasi
bukan sekadar penggunaan perangkat teknologi semata, tetapi merupakan bagian
dari proses transformasi menyeluruh dalam manajemen, pembelajaran, dan
pelayanan pendidikan. Dengan visi jangka panjang yang kuat, beliau mendorong
terwujudnya madrasah digital yang adaptif, kolaboratif, dan responsif terhadap
perkembangan zaman. Visi ini tidak hanya dituangkan dalam dokumen perencanaan,
tetapi juga diwujudkan dalam langkah-langkah strategis yang berdampak nyata.
Penjelasan mengenai visi dan orientasi ini diperoleh dari wawancara mendalam
dengan kepala madrasah yang diperkuat melalui telaah terhadap dokumen
perencanaan internal serta observasi lapangan terkait implementasi digitalisasi
di madrasah.
Salah
satu wujud nyata dari kepemimpinan transformasional
yang beliau terapkan adalah dorongan terhadap inovasi pembelajaran berbasis
digital. Guru-guru didorong untuk menggunakan berbagai platform e-learning, mengintegrasikan teknologi dalam proses
pembelajaran, serta menciptakan media pembelajaran digital yang menarik dan
interaktif. Kepala madrasah tidak hanya memberi arahan, tetapi juga menjadi
teladan dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Kehadiran
beliau dalam berbagai pelatihan, penggunaan platform digital dalam manajemen,
hingga komunikasi aktif melalui media sosial resmi madrasah menjadi inspirasi
tersendiri bagi para guru dan tenaga kependidikan. Deskripsi ini disusun
berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan guru dan tim TIK yang menjelaskan
praktik kepemimpinan tersebut, dilengkapi observasi terhadap penggunaan
platform e-learning dan aktivitas digitalisasi
di lingkungan madrasah, serta analisis dokumentasi seperti agenda pelatihan,
laporan kegiatan, dan jejak digital pada media sosial resmi MTsN
2 Kota Palembang.
Selain
itu, kepala madrasah juga membentuk tim teknologi informasi (IT) internal yang
terdiri dari guru dan staf yang memiliki kompetensi di bidang digital. Tim ini
memiliki peran strategis dalam pengelolaan sistem e-learning,
pengembangan konten media sosial, manajemen data digital siswa, serta
pemeliharaan infrastruktur teknologi di lingkungan madrasah. Temuan ini
diperoleh dari wawancara dengan kepala madrasah, guru, dan anggota tim TIK yang
menjelaskan tugas serta struktur kerja tim tersebut, serta diperkuat oleh
observasi terhadap aktivitas pengelolaan platform digital dan dokumentasi
internal madrasah. Pembentukan tim IT ini juga sejalan dengan temuan penelitian
sebelumnya yang menekankan peran unit teknologi dalam memperkuat ekosistem
digital di satuan pendidikan Kepemimpinan yang visioner, partisipatif,
dan inspiratif inilah yang menjadi kunci sukses dalam menggerakkan perubahan di
MTsN 2 Kota Palembang. Transformasi digital tidak
lagi menjadi wacana, tetapi telah menjadi bagian dari budaya kerja dan pembelajaran
sehari-hari di madrasah.
Dengan
dukungan seluruh warga madrasah, MTsN 2 Kota
Palembang terus berkomitmen untuk menjadi madrasah yang unggul dalam
pemanfaatan teknologi, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman
dalam setiap prosesnya. Gambaran ini disusun melalui triangulasi data yang
diperoleh dari wawancara mendalam dengan kepala madrasah, guru, dan tim TIK;
pengamatan langsung terhadap aktivitas digitalisasi di kelas maupun ruang
administrasi; serta analisis dokumentasi internal seperti laporan program,
rencana kerja, dan rekaman pelatihan.
Konsistensi
temuan dari berbagai sumber ini menguatkan bahwa transformasi digital memang
telah terintegrasi ke dalam budaya organisasi madrasah. Upaya digitalisasi yang
digagas di MTsN 2 Kota Palembang tidak hanya menyasar
aspek teknis, tetapi juga menyentuh perubahan pola pikir (mindset)
seluruh warga madrasah. Kepala madrasah menekankan pentingnya membangun
kesadaran bersama bahwa teknologi adalah alat untuk meningkatkan kualitas,
bukan sekadar pelengkap administrasi. Oleh karena itu, proses pendampingan dan
pelatihan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, agar seluruh guru,
tenaga kependidikan, hingga siswa dapat menguasai keterampilan digital yang
relevan (Safiah et al.,
2025).
Kegiatan
pelatihan dan workshop yang dilaksanakan mencakup
berbagai topik seperti penggunaan Learning Management System (LMS), pembuatan media pembelajaran
berbasis multimedia, pemanfaatan Google Workspace for Education, serta tata kelola
digitalisasi data akademik. Dengan cara ini, madrasah tidak hanya meningkatkan
kapasitas teknis, tetapi juga membangun budaya pembelajaran yang lebih terbuka,
fleksibel, dan inovatif.
Dari
sisi manajerial, kepala madrasah menunjukkan komitmennya dalam memperkuat
infrastruktur digital madrasah. Dukungan terhadap penyediaan perangkat keras
seperti komputer, jaringan internet, proyektor interaktif, hingga ruang studio
mini untuk keperluan konten pembelajaran adalah bagian dari strategi jangka
panjang. Hal ini juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama melalui
program “Digitalisasi Madrasah” yang bertujuan mewujudkan layanan pendidikan
Islam yang adaptif terhadap teknologi (Santosa & Jazuli, 2022).
Tidak
kalah penting, kepala madrasah turut membangun komunikasi aktif dengan orang
tua dan masyarakat melalui kanal digital resmi madrasah. Website,
media sosial, hingga sistem informasi siswa berbasis daring telah dimanfaatkan
untuk menyampaikan informasi, publikasi kegiatan, dan laporan perkembangan
peserta didik secara transparan dan real-time.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dan partisipasi
publik dalam mendukung kemajuan madrasah.
Keberhasilan
MTsN 2 Kota Palembang dalam melangkah menuju madrasah
digital tidak lepas dari konsistensi kepemimpinan transformasional
yang ditunjukkan oleh kepala madrasah. Beliau tidak hanya memimpin dari depan,
tetapi juga hadir dalam setiap proses perubahan sebagai fasilitator, motivator,
sekaligus problem solver. Kepemimpinan seperti
ini menjadi modal penting dalam menghadapi era digital yang menuntut kecepatan
adaptasi, kreativitas, dan kolaborasi lintas bidang.
Dalam
konteks implementasi kebijakan digitalisasi, kepala madrasah berperan sebagai
penggerak utama perubahan budaya kerja di lingkungan madrasah. Beliau tidak
hanya menginstruksikan penggunaan teknologi, tetapi juga menanamkan pemahaman
tentang urgensi digitalisasi sebagai kebutuhan dan bukan sekadar tuntutan
kebijakan. Melalui pendekatan persuasif dan keteladanan, kepala madrasah mampu
membangun kesadaran kolektif di kalangan guru dan tenaga kependidikan bahwa
transformasi digital merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu layanan
pendidikan.
Selain
itu, kepala madrasah juga menempatkan dirinya sebagai fasilitator yang aktif
mendampingi setiap proses pembelajaran dan administrasi berbasis digital.
Misalnya, beliau secara langsung terlibat dalam pelatihan penggunaan platform
e-learning, digital assessment,
serta sistem manajemen informasi madrasah. Pendampingan semacam ini menunjukkan
bahwa kepemimpinan transformasional bukan hanya
tentang memberikan arahan, tetapi juga tentang menciptakan ruang bagi setiap
individu untuk berkembang dan berkontribusi. Guru yang semula ragu atau kurang
percaya diri dengan teknologi, perlahan menjadi lebih terbuka dan antusias
karena merasa didukung secara moral maupun teknis.
Konsistensi
dalam kepemimpinan juga terlihat dari kemampuan kepala madrasah menjaga
stabilitas dan arah perubahan di tengah tantangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa
proses digitalisasi seringkali menemui hambatan, baik
dari segi infrastruktur, kompetensi sumber daya manusia, maupun resistensi
terhadap perubahan. Namun, dengan komunikasi yang efektif dan gaya kepemimpinan
yang inspiratif, kepala madrasah mampu mereduksi resistensi tersebut menjadi
peluang untuk belajar bersama. Beliau mengedepankan pendekatan humanis dan empatik, sehingga setiap kebijakan baru tidak dirasakan
sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas kerja.
Salah
satu aspek penting dari kepemimpinan transformasional
yang tampak di MTsN 2 Kota Palembang adalah komitmen
terhadap pengembangan kompetensi guru. Kepala madrasah secara berkelanjutan
mendorong guru untuk mengikuti pelatihan digital, baik yang diselenggarakan
oleh Kementerian Agama maupun melalui inisiatif internal madrasah. Dengan
demikian, digitalisasi tidak hanya berhenti pada penggunaan perangkat
teknologi, tetapi berkembang menjadi ekosistem pembelajaran digital yang
produktif dan berkelanjutan. Guru didorong untuk membuat media pembelajaran
interaktif, memanfaatkan platform digital untuk penilaian autentik, serta
mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam setiap aktivitas daring.
Lebih
lanjut, gaya kepemimpinan transformasional juga
tercermin dalam pola komunikasi yang terbuka dan partisipatif.
Kepala madrasah memberikan ruang bagi guru, staf, dan bahkan siswa untuk
menyampaikan ide-ide inovatif yang berkaitan dengan pengembangan madrasah
digital. Forum rapat rutin, grup diskusi daring, dan kegiatan reflektif bersama
menjadi media penting untuk berbagi gagasan dan mengevaluasi capaian. Dari
sinilah tumbuh budaya kerja kolaboratif yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan
inovasi.
Transformasi
digital di MTsN 2 Kota Palembang juga berjalan
seiring dengan pelestarian nilai-nilai keislaman. Kepala madrasah memastikan
bahwa setiap inovasi teknologi tetap berpijak pada etika Islam, baik dalam
konten pembelajaran maupun perilaku digital warga madrasah. Hal ini mencerminkan
keseimbangan antara kemajuan teknologi dan spiritualitas, sehingga digitalisasi
tidak menjauhkan peserta didik dari nilai-nilai moral, melainkan justru
memperkuat karakter islami di dunia digital. Dengan pendekatan ini, madrasah
tidak hanya menjadi lembaga pendidikan yang modern, tetapi juga tetap menjadi
pusat pembentukan akhlak.
Selain
faktor kepemimpinan, keberhasilan MTsN 2 Kota
Palembang juga ditopang oleh semangat kolektif warga madrasah. Kepala madrasah
menumbuhkan rasa memiliki terhadap visi digitalisasi melalui prinsip shared vision.
Setiap guru dan tenaga kependidikan memahami perannya masing-masing dalam
mewujudkan madrasah digital. Hal ini memperkuat solidaritas kerja dan
menumbuhkan motivasi intrinsik, di mana perubahan tidak lagi dipaksakan dari
luar, tetapi muncul dari kesadaran bersama.
Tidak
kalah penting, kepala madrasah juga menunjukkan kecakapan dalam memanfaatkan
jejaring dan kolaborasi eksternal. Melalui kerja sama dengan pihak-pihak
seperti Balai Diklat Keagamaan, universitas, dan lembaga teknologi pendidikan,
madrasah memperoleh dukungan sumber daya dan wawasan baru. Kolaborasi ini
memperkaya proses digitalisasi dan memperluas akses terhadap praktik-praktik
terbaik di bidang pendidikan berbasis teknologi.
Dari
keseluruhan proses tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional menjadi inti dari keberhasilan
implementasi kebijakan digitalisasi di MTsN 2 Kota
Palembang. Kepemimpinan yang menginspirasi, mendampingi, dan memberdayakan
menjadi kunci terciptanya budaya inovasi dan kolaborasi yang berkelanjutan.
Madrasah ini telah membuktikan bahwa digitalisasi bukan sekadar proyek teknis,
melainkan gerakan kultural yang membutuhkan arah dan keteladanan dari seorang
pemimpin.
Dengan
semangat inovasi dan transformasi ini, MTsN 2 Kota
Palembang menjadi contoh konkret bagaimana madrasah mampu beradaptasi dan
bersaing di era digital tanpa meninggalkan jati diri dan nilai-nilai keislaman
yang menjadi landasan utamanya. Madrasah digital bukan hanya tentang perangkat
dan aplikasi, tetapi tentang mindset baru
bahwa belajar, mengajar, dan melayani dapat dilakukan dengan cara yang lebih
efektif, efisien, dan bermakna bagi seluruh warga madrasah. Gambaran ini
disusun berdasarkan hasil observasi terhadap penggunaan platform e-learning, praktik kerja digital di ruang administrasi,
serta aktivitas pelayanan berbasis teknologi. Temuan tersebut juga diperkuat
oleh wawancara dengan guru dan tim TIK yang menjelaskan perubahan pola kerja,
peningkatan keterlibatan digital, serta sikap adaptif warga madrasah dalam
mendukung transformasi tersebut.
2.
Tantangan
Implementasi Kebijakan Digitalisasi
Meski
transformasi digital di MTsN 2 Kota Palembang
menunjukkan kemajuan yang signifikan, perjalanan menuju madrasah digital tidak
terlepas dari berbagai tantangan yang kompleks dan memerlukan penanganan yang
strategis. Tantangan-tantangan ini muncul baik dari aspek teknis maupun non-teknis,
serta melibatkan dinamika internal yang memengaruhi kecepatan dan keberhasilan
implementasi kebijakan digital (Andri Sungkowo et al., 2024).
Salah
satu tantangan utama yang dihadapi adalah kesenjangan kompetensi digital antar
guru. Tidak semua pendidik memiliki latar belakang atau pengalaman yang sama
dalam memanfaatkan teknologi informasi. Sebagian guru, terutama generasi yang
lebih senior, masih merasa kurang percaya diri dalam menggunakan perangkat
digital atau aplikasi pembelajaran daring (Dwi et al., 2023).
Hal
ini menyebabkan adanya ketimpangan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK
di kelas. Meskipun pelatihan telah dilakukan, proses adaptasi membutuhkan waktu
dan pendekatan yang lebih personal agar seluruh guru dapat bergerak secara
sejajar.
Tantangan
lainnya berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur. Beberapa ruang kelas di
madrasah masih mengalami kendala koneksi internet yang tidak stabil, terutama
saat seluruh siswa mengakses internet secara bersamaan. Keterbatasan bandwidth, minimnya perangkat pendukung seperti
proyektor atau komputer kelas, serta keterlambatan pemeliharaan peralatan
menjadi hambatan teknis yang cukup mengganggu kelancaran proses pembelajaran
digital. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya soal kesiapan
sumber daya manusia, tetapi juga sangat tergantung pada dukungan infrastruktur
yang memadai.
Selain
itu, resistensi terhadap perubahan juga menjadi tantangan yang tidak bisa
diabaikan. Adaptasi terhadap pola kerja baru serta metode pembelajaran menuntut
perubahan dalam cara berpikir dan sikap individu.. Beberapa guru menunjukkan
sikap enggan atau skeptis terhadap kebijakan digitalisasi, baik karena merasa
cara tradisional masih lebih efektif, maupun karena kurangnya pemahaman
terhadap manfaat teknologi dalam jangka panjang. Kepala madrasah perlu
mengambil pendekatan persuasif, membangun komunikasi yang terbuka, serta
memberikan ruang dialog agar proses perubahan tidak menimbulkan tekanan, tetapi
tumbuh secara alami dari kesadaran bersama (Sungkowo et al., n.d.).
Tak
kalah penting adalah persoalan anggaran operasional yang belum sepenuhnya mendukung
pengembangan teknologi di madrasah. Pengadaan perangkat TIK, peningkatan
kualitas jaringan internet, serta biaya pemeliharaan sistem digital membutuhkan
investasi yang tidak sedikit. Dalam praktiknya, digitalisasi pendidikan bukan
hanya tentang membeli perangkat keras seperti komputer, laptop, atau proyektor,
melainkan juga mencakup pembiayaan untuk lisensi perangkat lunak, sistem
keamanan data, hingga pelatihan sumber daya manusia. Seluruh aspek ini menuntut
dukungan finansial yang berkelanjutan agar transformasi digital dapat berjalan
efektif dan tidak berhenti di tengah jalan.
Sementara
itu, alokasi dana yang tersedia di madrasah, baik yang bersumber dari DIPA
maupun bantuan operasional lainnya, masih harus dibagi untuk berbagai kebutuhan
lain seperti kegiatan pembinaan siswa, pelaksanaan program ekstrakurikuler,
pemeliharaan sarana prasarana fisik, dan operasional harian madrasah. Kondisi
ini menyebabkan program digitalisasi seringkali harus
dijalankan secara bertahap dan menyesuaikan kemampuan keuangan lembaga. Dalam
konteks inilah, peran kepemimpinan kepala madrasah kembali menjadi krusial.
Kepala madrasah dituntut memiliki kecakapan manajerial dan kreativitas dalam
melakukan efisiensi anggaran tanpa mengorbankan mutu program.
Widjaja
et al., 2022 menegaskan
bahwa salah satu kunci keberhasilan implementasi inovasi di lembaga pendidikan
adalah kemampuan pemimpin dalam melakukan inovasi penganggaran (budget innovation). Kepala
madrasah di MTsN 2 Kota Palembang tampak menerapkan
prinsip ini dengan cara mengoptimalkan sumber daya yang ada. Misalnya,
memanfaatkan perangkat yang telah tersedia secara maksimal melalui sistem
rotasi penggunaan antar unit, atau menjalin kerja sama dengan pihak luar untuk
penyediaan fasilitas digital. Dalam beberapa kesempatan, dukungan berupa donasi
perangkat dari alumni, komite madrasah, hingga pihak swasta lokal menjadi wujud
nyata sinergi yang memperkuat pengembangan teknologi madrasah.
Selain
itu, kepala madrasah juga berupaya menggali peluang bantuan eksternal dari
program pemerintah seperti Madrasah Reform,
RA/Madrasah Digital, atau pelatihan TIK berbasis madrasah digital yang
diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Upaya proaktif ini menunjukkan adanya
orientasi jangka panjang terhadap keberlanjutan program digitalisasi. Strategi
seperti ini penting agar madrasah tidak hanya bergantung pada satu sumber dana,
tetapi mampu membangun kemandirian dan jejaring pendukung yang lebih luas.
Dari
sisi pengelolaan internal, diperlukan juga manajemen keuangan yang adaptif dan
transparan. Kepala madrasah bersama tim keuangan memastikan setiap pengeluaran
untuk digitalisasi memiliki nilai tambah terhadap peningkatan mutu layanan
pendidikan. Misalnya, dana yang dialokasikan untuk pelatihan guru dipastikan
benar-benar berdampak pada peningkatan kompetensi digital dalam pembelajaran,
bukan sekadar formalitas kegiatan. Transparansi dan akuntabilitas ini tidak
hanya meningkatkan kepercayaan internal, tetapi juga menjadi modal penting
untuk mendapatkan dukungan eksternal di masa mendatang.
Persoalan
anggaran juga tidak bisa dilepaskan dari pola prioritas kebijakan madrasah.
Dalam banyak kasus, transformasi digital sering dianggap sebagai program
pelengkap, bukan kebutuhan pokok. Namun di MTsN 2
Kota Palembang, kepala madrasah berupaya mengubah paradigma tersebut.
Digitalisasi dijadikan sebagai instrumen utama dalam mewujudkan visi madrasah
unggul dan berdaya saing. Dengan menjadikan digitalisasi sebagai prioritas
strategis, madrasah dapat merancang perencanaan keuangan jangka menengah yang
lebih fokus pada penguatan teknologi pembelajaran dan manajemen digital.
Meski
berbagai tantangan tersebut hadir, kepala madrasah dan seluruh tim di MTsN 2 Kota Palembang terus berupaya melakukan perbaikan
berkelanjutan. Proses perubahan ini tidak dilakukan secara instan, tetapi
melalui tahapan refleksi, evaluasi, dan adaptasi terhadap setiap dinamika yang
terjadi. Misalnya, ketika menghadapi keterbatasan anggaran, madrasah memilih
untuk memfokuskan pengembangan digitalisasi pada bidang-bidang yang paling
berdampak langsung terhadap proses pembelajaran, seperti penggunaan Learning Management System (LMS)
internal, pembuatan konten digital berbasis nilai-nilai Islam, serta sistem
administrasi berbasis daring untuk efisiensi layanan.
Dengan
semangat kolaboratif, pendekatan yang humanis, serta dorongan inovatif,
madrasah ini perlahan namun pasti membangun fondasi kuat menuju terciptanya
ekosistem pendidikan Islam yang digital, inklusif, dan berdaya saing tinggi.
Kolaborasi antarwarga madrasah menjadi kunci penting
dalam menutupi berbagai keterbatasan yang ada. Guru-guru saling membantu dalam
berbagi keterampilan digital, tenaga administrasi berinovasi dengan sistem
layanan daring sederhana, dan siswa ikut dilibatkan dalam pengelolaan konten
media madrasah sebagai bentuk pembelajaran kontekstual.
Lebih
dari itu, keterbatasan justru menjadi pemicu munculnya inovasi baru. Kepala
madrasah mendorong budaya problem solving di
setiap lini kerja, di mana setiap tantangan bukan dihindari, melainkan
dijadikan peluang untuk berkreasi. Semangat ini menjadikan MTsN
2 Kota Palembang tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi madrasah yang resilien di tengah keterbatasan sumber daya. Digitalisasi
di madrasah ini bukan hanya produk dari ketersediaan teknologi, tetapi hasil
dari kolaborasi, kepemimpinan visioner, dan komitmen kolektif untuk terus
belajar dan beradaptasi.
Dengan
demikian, pengalaman MTsN 2 Kota Palembang
menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak semata bergantung
pada besar kecilnya anggaran, tetapi lebih pada bagaimana sebuah lembaga mampu
mengelola potensi yang ada dengan bijak, kreatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Kepemimpinan transformasional yang berpadu dengan
strategi pengelolaan keuangan adaptif menjadi fondasi utama dalam menciptakan
ekosistem madrasah digital yang mandiri, inovatif, dan bernilai islami.
3.
Strategi
Kepemimpinan Menghadapi Tantangan
Menjawab
berbagai tantangan dalam proses digitalisasi, kepala MTsN
2 Kota Palembang merumuskan sejumlah strategi konkret dan berkelanjutan.
Strategi ini dirancang tidak hanya untuk mengatasi hambatan teknis dan sumber
daya, tetapi juga untuk membangun semangat kolektif dan kesiapan kultural dalam
menghadapi perubahan. Pendekatan yang digunakan bersifat kolaboratif, bertahap,
dan berbasis pada potensi internal madrasah.
Upaya
strategis yang dilakukan mencakup penyelenggaraan pelatihan berkala bagi tenaga
pendidik dan staf. Fokus pelatihan diarahkan pada pemahaman penggunaan berbagai
platform digital, seperti sistem manajemen pembelajaran, layanan Google untuk
institusi pendidikan, serta aplikasi digital lain yang mendukung proses belajar
dan tata kelola madrasah. Dengan jadwal yang terstruktur dan materi yang
aplikatif, pelatihan ini mendorong guru untuk lebih percaya diri dalam
mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya guru mata
pelajaran, staf tata usaha dan pengelola administrasi juga dilibatkan, sehingga
transformasi digital tidak hanya terjadi di kelas, tetapi juga dalam sistem
kerja keseharian madrasah.
Untuk
menjawab persoalan infrastruktur, kepala madrasah menjalin kolaborasi aktif
dengan komite madrasah dan mitra eksternal, seperti lembaga sosial, alumni,
serta instansi pemerintah yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.
Melalui kerja sama ini, madrasah memperoleh dukungan berupa bantuan perangkat
teknologi, penguatan jaringan internet, hingga pendampingan teknis dalam
implementasi digitalisasi. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan
transformasi digital tidak bisa berdiri sendiri, melainkan perlu melibatkan
dukungan berbagai pihak.
Selain
itu, kepala madrasah juga menerapkan sistem reward
atau penghargaan bagi guru yang menunjukkan inovasi dalam pembelajaran digital.
Guru-guru yang aktif mengembangkan media pembelajaran interaktif, membuat
konten digital, atau berhasil meningkatkan partisipasi siswa melalui platform
daring diberikan apresiasi dalam berbagai bentuk, mulai dari sertifikat,
insentif, hingga kesempatan mengikuti pelatihan lanjutan. Pendekatan ini
terbukti mampu memotivasi guru lain untuk ikut bergerak, serta menciptakan iklim
kompetisi sehat di lingkungan madrasah.
Langkah
strategis lainnya adalah membiasakan penggunaan teknologi dalam rutinitas kerja
sehari-hari di lingkungan madrasah.. Madrasah mulai membiasakan penggunaan
aplikasi digital dalam kegiatan internal, seperti rapat secara daring,
penggunaan presensi elektronik, penyampaian surat tugas melalui Google Drive, hingga pelaporan kinerja guru berbasis sistem
digital. Integrasi ini membentuk kebiasaan baru yang lebih efisien, transparan,
dan terdokumentasi dengan baik. Lambat laun, penggunaan teknologi menjadi hal
yang alami dalam aktivitas madrasah sehari-hari, bukan lagi sesuatu yang
dianggap rumit atau membebani.
Melalui
berbagai langkah yang ditempuh, kepala MTsN 2 Kota
Palembang menunjukkan bagaimana proses digitalisasi dapat dijalankan tanpa
mengabaikan sisi kemanusiaan para guru dan tenaga kependidikan. Hal ini tampak
dalam cerita para guru saat wawancara, yang menggambarkan bagaimana setiap
perubahan selalu diawali dengan penjelasan, simulasi, serta pendampingan yang
membuat mereka merasa dihargai dan tidak terbebani. Dari penuturan mereka,
terlihat jelas bahwa kepemimpinan kepala madrasah tidak hanya bertumpu pada
visi, tetapi juga pada kemampuan mengelola dinamika perubahan di tingkat
praktik sehari-hari.
Upaya
membangun pola pikir digital pun terlihat nyata dari observasi di lapangan.
Dalam beberapa kegiatan pelatihan, para guru terlihat aktif mencoba fitur baru
pada platform e-learning, saling berdiskusi,
dan meminta arahan kepada tim TIK. Dokumentasi internal madrasah menunjukkan
adanya peningkatan partisipasi guru dalam kegiatan peningkatan kapasitas
digital dari waktu ke waktu. Wawancara dengan tim TIK juga menegaskan bahwa
perubahan pola pikir ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi terbentuk melalui
proses panjang yang dipicu oleh konsistensi kepala madrasah dalam mengajak,
mengarahkan, dan memberi ruang bagi guru untuk bereksperimen dengan teknologi.
Dalam
berbagai forum, beliau sering menekankan bahwa transformasi digital bukan
sekadar tuntutan zaman, tetapi peluang untuk meningkatkan kualitas pelayanan
pendidikan Islam yang lebih efektif, cepat, dan adaptif terhadap kebutuhan
siswa masa kini. Digitalisasi bukan lagi sesuatu yang eksklusif atau hanya
untuk institusi besar, melainkan sebuah kebutuhan yang harus diinternalisasi
oleh setiap guru dan tenaga kependidikan. Pandangan ini menjadi dasar penting
bagi madrasah untuk menyiapkan diri menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0
dan era Society 5.0, di mana teknologi dan nilai
kemanusiaan harus berjalan beriringan.
Untuk
mewujudkan hal tersebut, kepala madrasah menerapkan strategi komunikasi yang
terbuka, dialogis, dan berkesinambungan. Dalam setiap kegiatan rutin seperti
rapat koordinasi, in-house training,
maupun workshop digitalisasi, beliau selalu
menekankan pentingnya perubahan paradigma dari “bekerja manual” menjadi
“bekerja cerdas berbasis teknologi”. Komunikasi yang dilakukan bukan bersifat
satu arah, melainkan partisipatif, di mana setiap
guru memiliki ruang untuk berbagi pengalaman, kendala, maupun ide-ide kreatif
yang bisa diimplementasikan bersama. Melalui pola komunikasi semacam ini,
muncul rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap visi digital madrasah.
Kepala
madrasah juga memanfaatkan media digital sebagai sarana komunikasi internal.
Grup WhatsApp, Google Workspace,
dan platform manajemen data madrasah digunakan tidak hanya untuk koordinasi
administratif, tetapi juga untuk berbagi sumber belajar, hasil refleksi, serta
inspirasi pembelajaran digital. Pemanfaatan teknologi dalam manajemen internal
ini menciptakan kebiasaan baru yang memperkuat digital literacy
di kalangan guru dan tenaga kependidikan. Lambat laun, terbentuk budaya kerja
baru yang lebih efisien, responsif, dan kolaboratif.
Pembangunan
digital mindset di MTsN
2 Kota Palembang juga dilakukan melalui pendekatan motivasional.
Kepala madrasah secara konsisten memberikan apresiasi terhadap setiap inisiatif
dan inovasi digital yang dilakukan guru, sekecil apa pun bentuknya. Apresiasi
ini menumbuhkan rasa percaya diri dan mendorong munculnya kreativitas. Guru
yang sebelumnya kurang percaya diri dengan teknologi kini mulai berani mencoba
hal-hal baru seperti membuat media pembelajaran interaktif, memanfaatkan learning apps, dan mengintegrasikan
nilai-nilai keislaman dalam konten digital. Dengan demikian, digitalisasi tidak
hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga memperkaya nilai
spiritual dalam proses belajar mengajar.
Selain
itu, pembangunan pola pikir digital di madrasah ini tidak hanya berorientasi
pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika
digital (digital ethics). Kepala madrasah
menekankan bahwa kemampuan mengoperasikan teknologi harus disertai dengan
pemahaman tentang tanggung jawab moral dalam menggunakannya. Dalam setiap
aktivitas daring, warga madrasah diarahkan untuk menjunjung tinggi kejujuran
akademik, menghormati hak cipta, menjaga keamanan data pribadi, serta
menggunakan media sosial dengan bijak dan santun. Pendekatan ini memastikan
bahwa transformasi digital di MTsN 2 Kota Palembang
tidak menjauh dari nilai-nilai Islam, tetapi justru menjadi sarana untuk
mengaktualisasikannya di ruang digital.
Kehadiran
kepemimpinan yang inspiratif juga membuat proses transformasi ini tidak terasa
sebagai tekanan, melainkan sebagai perjalanan bersama menuju kemajuan. Kepala
madrasah menumbuhkan semangat learning organization, di mana seluruh komponen madrasah didorong
untuk terus belajar, bereksperimen, dan berbagi pengalaman. Budaya reflektif
ini menjadikan digitalisasi sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas
diri, bukan sekadar program administratif.
Langkah-langkah
tersebut membuktikan bahwa keberhasilan digitalisasi madrasah tidak hanya
ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi lebih pada kepemimpinan yang
mampu menyatukan visi, membangun sinergi, dan menciptakan budaya kerja baru
yang progresif. Kepemimpinan transformasional yang
diterapkan kepala madrasah berhasil menggerakkan seluruh elemen madrasah untuk
beradaptasi tanpa kehilangan esensi pendidikan Islam. Dalam setiap perubahan,
nilai spiritualitas tetap menjadi kompas utama, sementara teknologi berperan
sebagai alat untuk memperkuat kualitas layanan pendidikan.
Dengan
terus melakukan evaluasi, berinovasi, dan berkolaborasi, MTsN
2 Kota Palembang optimis dapat menjadi pelopor madrasah digital yang tidak
hanya cakap teknologi, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keislaman dan
karakter kebangsaan. Digitalisasi di madrasah ini diharapkan tidak hanya
membentuk peserta didik yang melek teknologi, tetapi juga berkarakter,
berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Inilah bentuk konkret
dari pendidikan Islam modern—pendidikan yang mampu mengintegrasikan antara iman,
ilmu, dan amal dalam konteks digital.
Lebih
jauh, pola kepemimpinan semacam ini menunjukkan bahwa madrasah bukan lagi
institusi yang tertinggal, tetapi menjadi bagian penting dari ekosistem
pendidikan nasional yang adaptif dan berdaya saing global. Melalui penguatan
pola pikir digital, budaya kolaboratif, dan orientasi pada nilai keislaman, MTsN 2 Kota Palembang sedang menegaskan posisinya sebagai
madrasah yang visioner dan relevan dengan tuntutan abad ke-21.
Transformasi
digital yang berlangsung di MTsN 2 Kota Palembang
tidak hanya membawa perubahan pada sistem kerja, tetapi juga pada pola pikir,
etos kerja, dan budaya organisasi madrasah. Digitalisasi menuntut kecepatan,
ketepatan, dan keterbukaan, yang secara perlahan mengubah cara guru, tenaga
kependidikan, dan siswa berinteraksi serta melaksanakan tugasnya. Kepala
madrasah menyadari bahwa perubahan ini harus dikelola dengan pendekatan yang
bijaksana agar tidak menimbulkan kejutan budaya (culture
shock), terutama bagi guru-guru yang sudah
terbiasa dengan pola kerja konvensional.
Melalui
pendekatan bertahap dan humanis, kepala madrasah berusaha menciptakan
lingkungan yang nyaman untuk belajar teknologi. Setiap kesalahan atau
keterlambatan dalam adaptasi tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan bagian
dari proses belajar bersama. Pendekatan ini menciptakan atmosfer positif di
mana semua warga madrasah merasa aman untuk mencoba hal baru tanpa takut salah.
Guru yang awalnya canggung menggunakan aplikasi digital kini justru menjadi
pelatih bagi rekan sejawatnya. Perubahan ini memperkuat budaya saling belajar
dan tolong-menolong, yang menjadi ciri khas dari komunitas madrasah.
Selain
meningkatkan efisiensi kerja, digitalisasi juga berdampak signifikan terhadap
proses pembelajaran di kelas. Penggunaan teknologi mendorong munculnya
metode-metode pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan
menyenangkan. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi
berperan sebagai fasilitator yang memandu siswa dalam mencari, mengolah, dan
menafsirkan informasi dari berbagai sumber digital. Hal ini selaras dengan
prinsip pendidikan Islam yang mendorong pencarian ilmu secara aktif dan
bertanggung jawab.
Kepala
madrasah berupaya memastikan bahwa setiap inovasi pembelajaran digital tetap
berlandaskan nilai-nilai keislaman. Misalnya, penggunaan Learning
Management System (LMS) internal yang dirancang
dengan menampilkan konten-konten islami, jadwal pengingat waktu salat, serta
fitur doa sebelum belajar. Integrasi nilai spiritual ini membuat siswa tidak
hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran religius yang kuat
di tengah derasnya arus digitalisasi.
Dampak
digitalisasi juga terasa pada peningkatan kemandirian belajar siswa. Akses
terhadap sumber belajar yang lebih luas memungkinkan peserta didik untuk
mengeksplorasi topik di luar buku teks. Guru melaporkan adanya peningkatan
motivasi belajar, terutama ketika siswa dilibatkan dalam proyek berbasis
teknologi, seperti pembuatan video edukasi, media dakwah digital, atau majalah
madrasah online. Aktivitas-aktivitas ini bukan hanya
memperkaya keterampilan digital siswa, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir
kritis, kreatif, dan kolaboratif — kompetensi abad ke-21 yang sangat dibutuhkan
di dunia modern.
Lebih
jauh, keberhasilan ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan ancaman bagi
identitas pendidikan Islam, melainkan peluang untuk memperkuatnya. Melalui
teknologi, nilai-nilai Islam dapat disebarluaskan secara lebih luas, efektif,
dan menarik bagi generasi muda. Kepala madrasah memahami bahwa dakwah
pendidikan hari ini tidak hanya berlangsung di mimbar atau ruang kelas, tetapi
juga di ruang digital. Karena itu, madrasah diarahkan untuk menjadi pusat literasi digital islami, tempat di mana siswa tidak hanya
belajar mengoperasikan teknologi, tetapi juga belajar menggunakannya secara
bermartabat dan bernilai ibadah.
Dari
sisi manajerial, digitalisasi juga membantu meningkatkan transparansi dan
efisiensi tata kelola madrasah. Proses administrasi yang sebelumnya manual kini
beralih ke sistem berbasis daring, mulai dari absensi, pelaporan keuangan,
hingga manajemen data siswa. Kepala madrasah dapat memantau berbagai aktivitas
secara real time, sementara guru dan staf dapat
mengakses informasi dengan lebih cepat dan akurat. Hal ini tidak hanya
menghemat waktu, tetapi juga memperkuat akuntabilitas lembaga di mata publik.
Namun
demikian, kepala madrasah tetap menyadari bahwa transformasi digital harus
dijaga keseimbangannya agar tidak menimbulkan kesenjangan antarwarga
madrasah. Tidak semua guru memiliki kemampuan atau fasilitas yang sama,
terutama dalam hal perangkat pribadi dan akses internet. Karena itu, madrasah
berupaya menciptakan kebijakan yang inklusif dengan menyediakan fasilitas
bersama seperti laboratorium komputer, ruang digital learning,
dan pelatihan rutin. Dengan cara ini, digitalisasi tidak hanya menjadi milik
sebagian pihak, tetapi menjadi gerakan kolektif seluruh warga madrasah.
Kepala
madrasah juga terus mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, bukan
tujuan akhir. Nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kebersamaan tetap
menjadi pusat dari setiap inovasi. Madrasah digital yang diimpikan bukanlah
lembaga yang sepenuhnya bergantung pada mesin, melainkan lembaga yang mampu
memadukan kecanggihan teknologi dengan kehangatan nilai-nilai Islam. Inilah
yang membuat MTsN 2 Kota Palembang menonjol
dibandingkan lembaga lain: keseimbangan antara rasionalitas modern dan
spiritualitas tradisional yang berpadu dalam harmoni.
Ke
depan, kepala madrasah menargetkan agar madrasah ini tidak hanya menjadi
pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi pendidikan digital. Upaya
sedang diarahkan untuk mengembangkan platform pembelajaran mandiri berbasis
nilai-nilai keislaman, memperluas jejaring kolaborasi dengan madrasah digital
lain di Indonesia, dan memperkuat literasi digital
bagi seluruh siswa. Harapannya, MTsN 2 Kota Palembang
dapat menjadi pusat inovasi madrasah digital di Sumatera Selatan yang tidak
hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan
pendidikan Islam berbasis teknologi di tingkat nasional.
Keseluruhan
proses ini menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi madrasah bukanlah hasil
kebetulan, tetapi buah dari kepemimpinan yang visioner, strategi yang terarah,
serta komitmen bersama seluruh warga madrasah. Kepala madrasah sebagai pemimpin
perubahan telah berhasil mengubah tantangan menjadi peluang, keterbatasan
menjadi kekuatan, dan resistensi menjadi energi untuk bergerak maju. Dengan
visi yang kuat dan semangat kolektif yang tinggi, MTsN
2 Kota Palembang telah membuktikan bahwa madrasah juga mampu menjadi pionir
dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital tanpa kehilangan identitas
keislamannya.
KESIMPULAN
Penelitian
ini menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala madrasah menjadi elemen krusial dalam
menentukan keberhasilan implementasi kebijakan digitalisasi di tingkat satuan
pendidikan. Di MTsN 2 Kota Palembang, kepala madrasah
tidak hanya bertindak sebagai manajer administratif, tetapi juga sebagai
fasilitator perubahan yang menginspirasi seluruh warga madrasah untuk
beradaptasi dengan teknologi secara kolektif. Gaya kepemimpinan transformasional yang diterapkan meliputi dorongan inovasi,
penguatan kolaborasi, serta penanaman mindset
digital yang berkelanjutan. Meskipun dihadapkan pada tantangan seperti
keterbatasan infrastruktur, resistensi budaya, dan kesenjangan kompetensi,
strategi yang bersifat holistik dan humanis terbukti mampu mendorong
terciptanya ekosistem madrasah digital yang inklusif dan berdaya saing. Oleh
karena itu, rekomendasi kebijakan ke depan perlu menempatkan penguatan
kepemimpinan satuan pendidikan sebagai prioritas utama dalam roadmap transformasi digital madrasah di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, E. (2025).
Transformasi Digital Dalam Manajemen Pendidikan Islam: Peluang dan Tantangan di
Era Society 5.0. Jurnal Multidisiplin
West Science, 4(06),
850–859. https://doi.org/10.58812/jmws.v4i06.2400
Andri Sungkowo,
Aris Susanto, Arifannisa, Axelon
S Renyaan, & Erna Widyasari. (2024). Promote Innovation In Madrasah Through
The Use Of Educational
Technology. IJGIE (International Journal of Graduate of
Islamic Education), 5(1), 71–81.
https://doi.org/10.37567/ijgie.v5i1.2815
Dwi, M. A., Afandi, A.,
& Astuti, I. (2023). Kompetensi Digital Guru Dalam Meningkatkan Minat
Belajar Siswa Smk Di Kabupaten Sekadau. Akademika, 12(01), 1–11.
https://doi.org/10.34005/akademika.v12i01.2459
Kharis Sulaiman Hasri,
Wahyu Iskandar, & Suwandi Simangunsong. (2025). Bringing
Digital Learning to
Madrasah Ibtidaiyah: Undestanding
Its Influence on Student Motivation
and Engagement in Grades 4-6. Cendekiawan : Jurnal Pendidikan Dan Studi Keislaman, 4(1), 619–630.
https://doi.org/10.61253/cendekiawan.v4i1.323
Mustofa, M. A., &
Ramdhani, F. (2023). Islamic Education and Contemporary Challenges. Adabuna : Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran, 2(2), 109–127.
https://doi.org/10.38073/adabuna.v2i2.1156
Safiah, I., Fitri, A., Achdar, A. N., Kuala, U. S., Aceh, B., Intanafiauskacid,
E., Jl, A., Nyak, T., No,
A., Darussalam, K., Kuala, K. S., & Aceh, K. B. (2025). Pelatihan dan
Pendampingan Guru dalam Pengembangan Pembelajaran Deep
Learning Terintegrasi Media Digital untuk
Meningkatkan Literasi Digital di Sekolah Dasar Teacher Training and Mentoring in Developing Deep Learning Integrated with Digital Media to Impro. 5(September), 366–378.
Santosa, S., & Jazuli,
M. F. (2022). Digital Madrasah as It-Based on The Islamic Education. Jurnal
Pendidikan Islam, 5(2), 379–391.
Sungkowo, A., Munkizul,
;, Kau, U., Muhammadong, ;, Rozak, A., & Suryadi, Y. (n.d.).
Jurnal Ilmiah IJGIE International Journal Of Graduate Of
Islamic Education REVITALIZING RELIGIOUS LEARNING IN
MADRASAH THROUGH THE USE OF TECHNOLOGY. International Journal
Of Graduate Of Islamic Education, 82.
Widjaja, G., Supriani, Y.,
Badri, K. N. B. Z., Bangkara, B. M. A. S. A., & Zuhri, M. I. I. (2022). Improving The Quality of Madrasas Through
Financial Management. Nidhomul Haq : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(3), 330–343.
https://doi.org/10.31538/ndh.v7i3.2606