STUDI KOMPARATIF PANDANGAN TOLERANSI BERAGAMA BERDASARKAN
RUMPUN KEILMUAN
DI UNIVERSITAS GADJAH MADA
Adhitya Rangga Permana*
Vincentia Seane Levina**
Firsiyanda Lismiramdani***
Rizky Iskar Amaldo****
Ghamdan Ghazi Hasyidan A. A.*****
Ilham Rakha Adyatma******
*Universitas Gadjah Mada, Indonesia
**Universitas Gadjah Mada, Indonesia
***Universitas Gadjah Mada, Indonesia
****Universitas Gadjah Mada, Indonesia
*****Universitas Gadjah Mada, Indonesia
******Universitas Gadjah Mada, Indonesia
*E-mail:
adhityaranggapermana@mail.ugm.ac.id
**E-mail:
vincentiaseanelevina@mail.ugm.ac.id
***E-mail:
firsiyandalismiramdani@mail.ugm.ac.id
****E-mail: rizkyiskaramaldo@mai.ugm.ac.id
*****E-mail:
ghamdanghazihasyidanafifiantikno@mail.ugm.ac.id
******E-mail: ilhamrakhaadyatma@mail.ugm.ac.id
Abstract
This study investigates the comparative
perspectives on religious tolerance among students from different academic disciplines—Social-Humanities
(Soshum) and Science-Technology (Saintek)—at Universitas Gadjah Mada. Using a
quantitative comparative method, data were collected via an online
questionnaire using a five-point Likert scale. The study involved 60 purposively
selected respondents from both clusters. Results from the Shapiro-Wilk test
indicated non-normal distribution in both groups, prompting the use of the
Mann-Whitney U test. Although descriptive data showed that Soshum students
tended to have higher and more consistent tolerance scores, the inferential
analysis found no statistically significant difference between the two groups
(p = 0.279). Visual data further indicated a broader variation in Saintek
students' tolerance levels. The findings suggest that while disciplinary
background may influence perspectives, the multicultural campus environment
acts as a moderating factor. Theoretical frameworks of objective conservative
and subjective liberal tolerance supported these interpretations. The study
recommends cross-disciplinary character education programs to foster inclusive
attitudes in higher education.
Keywords: religious tolerance; scientific cluster;
higher education; intergroup comparison; inclusive values
Abstrak
Penelitian ini mengkaji perbandingan
pandangan mengenai toleransi beragama di kalangan mahasiswa dari rumpun
keilmuan Sosial-Humaniora (Soshum) dan Sains-Teknologi (Saintek) di Universitas
Gadjah Mada. Dengan pendekatan kuantitatif komparatif, data dikumpulkan melalui
kuesioner daring menggunakan skala Likert lima poin. Sebanyak 60 responden
dipilih secara purposif dari masing-masing rumpun. Hasil uji Shapiro-Wilk menunjukkan
bahwa data tidak terdistribusi normal, sehingga analisis menggunakan uji Mann-Whitney
U. Meskipun data deskriptif memperlihatkan mahasiswa rumpun Soshum memiliki
skor toleransi yang lebih tinggi dan konsisten, analisis inferensial
menjelaskan tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara kedua
rumpun (p = 0,279). Visualisasi data mengungkapkan variasi yang lebih besar
dalam tingkat toleransi pada mahasiswa rumpun Saintek. Temuan ini
mengindikasikan bahwa latar belakang keilmuan mempengaruhi sudut pandang, namun
lingkungan kampus yang multikultural turut berperan sebagai faktor moderasi.
Kerangka teori toleransi konservatif objektif dan liberal subjektif mendukung
interpretasi temuan. Hasil studi merekomendasikan program pendidikan karakter
lintas disiplin untuk menumbuhkan sikap inklusif di lingkungan pendidikan
tinggi.
Kata Kunci: toleransi beragama; rumpun keilmuan;
pendidikan tinggi; perbandingan antar kelompok; nilai inklusif.
PENDAHULUAN
Moderasi
beragama merupakan salah satu upaya untuk menjaga keharmonisan sosial dan
memperkuat kehidupan berbangsa di tengah keberagaman keyakinan yang ada di
Indonesia. Adanya keberagaman menjadikan
Indonesia memiliki dinamika yang besar dalam menjaga harmoni antarumat beragama
(Akhmadi, 2019). Dalam konteks ini, moderasi beragama menjadi sangat penting
karena Indonesia adalah negara multikultural dengan beragam agama dan
kepercayaan yang setiap kelompoknya memegang teguh nilai dan tradisinya.
Moderasi beragama menekankan keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama dengan
menghindari sikap ekstrem baik ke arah liberalisme yang mengesampingkan
nilai-nilai keimanan maupun radikalisme yang menolak perbedaan dan keberagaman
(Azra, 2006).
Toleransi
beragama tidak dapat dipisahkan dari prinsip moderasi yang merupakan kunci
dalam menciptakan kerukunan dari tingkat lokal, regional, hingga global
(Saifuddin, 2019). Toleransi adalah hasil dari sikap moderat dalam beragama
yang menolak klaim kebenaran mutlak atas tafsir agama tertentu dan mengutamakan
sikap saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat (Amri, 2021). Selaras
dengan hal tersebut, Wiguna & Andari (2023) menegaskan bahwa moderasi
beragama menjadi dasar penting untuk menciptakan ruang publik yang inklusif dan
damai, serta menerima perbedaan sebagai bagian dari realitas sosial yang
membawa manfaat, bukan sebagai ancaman bagi kesatuan bangsa.
Dalam
lingkungan perguruan tinggi, khususnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang
dikenal dengan semangat pluralisme dan kebhinekaan, moderasi beragama menjadi
topik yang semakin relevan untuk dikaji. UGM sebagai perguruan tinggi terkemuka
di Indonesia menaungi sivitas akademika dari beragam latar belakang agama dan
disiplin ilmu. Kondisi tersebut menciptakan ruang interaksi sosial yang
kompleks dan dipenuhi dengan dinamika keberagaman (Putra, 2022). Dalam hal ini,
toleransi beragama tidak sekadar dipahami sebagai nilai sosial, tetapi juga
sebagai kompetensi kultural yang penting untuk dikembangkan melalui pendidikan
tinggi. Salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kompetensi tersebut adalah
dengan mengintegrasikan pendidikan toleransi antar agama yang berlandaskan pada
pemahaman antara identitas serta kemampuan interaksi secara lintas budaya
(Sembiring et al., 2024).
Pada
prosesnya, sudut pandang seseorang terhadap toleransi beragama sangat
dipengaruhi oleh latar belakang keilmuannya karena orientasi keilmuan tersebut
berperan penting dalam membentuk cara pandang terhadap toleransi dan
keberagaman (Thahir, 2023). Oleh karena itu, kajian komparatif terhadap
pandangan mahasiswa mengenai toleransi beragama berdasarkan rumpun keilmuan
menjadi relevan untuk mengetahui sejauh mana disiplin ilmu turut membentuk
kesadaran keberagaman yang inklusif di kalangan mahasiswa UGM.
Penelitian
ini bertujuan menganalisis dan membandingkan persepsi toleransi beragama di
kalangan mahasiswa berdasarkan rumpun keilmuan mereka, yaitu Sosial-Humaniora
(Soshum) dan Sains-Teknologi (Saintek). Temuan penelitian diharapkan mampu
berkontribusi bagi ekspansi kebijakan dan strategi pendidikan karakter di
perguruan tinggi, khususnya dalam membentuk pemahaman moderasi beragama yang
kontekstual sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.
Toleransi
beragama dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk penerimaan dengan sikap
sabar tanpa menghina dan mengganggu agama atau keyakinan berbeda yang dianut
oleh pemeluk agama-agama lain (Devi, 2020). Terdapat dua pendekatan utama yang
digunakan dalam memahami toleransi beragama, yakni teori toleransi konservatif
objektif dan teori toleransi liberal subjektif. Toleransi beragama dengan
pendekatan konservatif objektif diartikan sebagai penghormatan terhadap
kebebasan beragama dalam batasan prinsip moral dan keadilan yang disepakati
masyarakat pluralistik (Rawls, 1993). Toleransi tidak berarti menerima seluruh
praktik tanpa batas, tetapi juga harus menjaga stabilitas sosial dan identitas
agama dengan batasan tertentu. Adanya batasan-batasan yang dibuat bertujuan
agar tidak terjadi konflik moral dan sosial yang diwujudkan dengan tidak
mengganggu prinsip dan keyakinan lain, serta memberikan kebebasan formal kepada
orang lain untuk beribadah.
Teori
toleransi liberal subjektif mendefinisikan toleransi sebagai pengakuan penuh
atas pluralitas agama dan budaya dengan menghormati kebebasan individu atau
kelompok untuk menjalankan keyakinannya tanpa diskriminasi (Kymlicka, 1995).
Hal tersebut diwujudkan dengan adanya ruang inklusif dan interaksi antarumat
beragama. Toleransi beragama menekankan pada pengakuan hak individu untuk
menyakini dan menjalankan ajaran agama dan keyakinannya secara bebas. Huriani et
al. (2021) menegaskan bahwa toleransi beragama berfokus pada penghormatan
kebebasan beragama setiap individu yang tidak mengharuskan untuk membenarkan
dan meyakini bahwa agama atau keyakinan lain.
Kerangka
teori tersebut digunakan untuk menggambarkan asumsi hubungan antara cara
pandang keilmuan terhadap toleransi beragama. Konsep toleransi dalam penelitian
ini dijabarkan melalui sejumlah indikator yang melingkupi: (1) sikap terhadap
kebebasan ibadah agama lain; (2) sikap terhadap dialog antaragama; (3) tingkat
penerimaan terhadap perbedaan doktrin; dan (4) keterbukaan terhadap
simbol-simbol agama dalam ruang publik. Universitas menjadi tempat interaksi
multidisipliner, sehingga cara pandang dan sikap toleransi mahasiswa dapat
dipengaruhi oleh mekanisme berpikir yang berkembang dalam rumpun ilmu yang
mereka pelajari. Dengan menggunakan indikator tersebut, kerangka teori ini
berfungsi untuk menjelaskan fenomena, membandingkan kecenderungan antar kelompok
Saintek dan Soshum, serta mengevaluasi kontribusi keilmuan terhadap pembangunan
nilai toleransi di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada.
METODE
Analisis
yang digunakan mengadopsi pendekatan kuantitatif berbentuk metode komparatif
untuk mengkaji perbedaan pandangan mahasiswa terhadap toleransi beragama
berdasarkan rumpun keilmuan di Universitas Gadjah Mada. Pendekatan ini dipilih
karena memungkinkan analisis yang terukur dan objektif terhadap sikap serta
persepsi responden secara statistik.
Sasaran
penelitian mencakup mahasiswa aktif dari dua rumpun utama, yaitu rumpun
Sosial-Humaniora (Soshum) dan rumpun Sains-Teknologi (Saintek). Rumpun
Sosial-Humaniora (Soshum) meliputi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas
Filsafat, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Hukum, Fakultas Psikologi, Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Sekolah Vokasi yang terdiri dari Departemen
Bahasa, Seni, dan Budaya, dan Departemen Ekonomika dan Bisnis.
Sementara
itu, rumpun Sains-Teknologi (Saintek) mencakup Fakultas Biologi, Fakultas
Geografi, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Kehutanan, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Peternakan, Fakultas Teknik, Fakultas
Teknologi Pertanian, serta Sekolah Vokasi yang terdiri dari Departemen
Teknologi Kebumian, Departemen Teknik Sipil, Departemen Layanan dan Informasi
Kesehatan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Departemen Teknik Mesin,
dan Departemen Teknik Elektro dan Informatika.


Gambar 1 Persebaran Responden Mahasiswa
Pengumpulan
data dilakukan melalui penyebaran kuesioner berbentuk google form yang mengukur
berbagai aspek sikap terhadap toleransi beragama. Kuesioner ini disusun
menggunakan instrumen Skala Likert lima poin untuk mengukur dimensi
penerimaan sosial, partisipasi lintas agama, dan persepsi terhadap berbagai
simbol serta praktik keagamaan. Skala Likert adalah instrumen pengukuran
yang berfungsi untuk mengukur persepsi, perilaku, atau pendapat seseorang
maupun sekelompok orang terhadap suatu peristiwa atau fenomena sosial tertentu
(Bahrun et al., 2018; Saputra & Nugroho, 2017).
Mekanisme
yang diterapkan berbentuk dua klasifikasi pertanyaan, yaitu untuk mengukur
skala positif dan negatif. Nilai toleransi beragama yang tinggi diberikan pada
skala 5 untuk pertanyaan positif dan skala 1 untuk pertanyaan negatif. Secara
spesifik, bobot yang diberikan pada 15 pertanyaan pertama yaitu semakin tinggi
skala, maka semakin toleran. Sementara itu, 15 pertanyaan terakhir yaitu
semakin rendah skala, maka semakin intoleran. Pemilihan 30 pertanyaan sebagai
sampel uji validitas dilakukan untuk memastikan hasil pengujian mendekati
distribusi kurva normal (Sugiyono, 2009). Selain itu, bertujuan untuk melakukan
validasi kesesuaian tujuan penelitian.
Data
yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan statistik deskriptif dan
komparatif. Analisis deskriptif diterapkan untuk sebaran normalitas data (Shapiro-Wilk
test), visualisasi ringkasan data (median, kuratil, dan outlier),
dan pengelompokkan data berdasarkan nilai rata-rata. Selanjutnya, untuk menguji
perbedaan pandangan antara kelompok Soshum dan Saintek, digunakan uji t
independen (independent samples t-test) apabila data berdistribusi
normal, atau uji Mann-Whitney apabila data tidak terdistribusi normal dengan
tingkat signifikansi 0,05.
Shapiro
Wilk test adalah uji analisis regresi untuk
pemeriksaan asumsi normalitas residual melalui identifikasi ada tidaknya
distribusi normal pada suatu variabel acak (random variable)
(Kusumaningtyas et al., 2022). Data berdistribusi normal apabila nilai p-value
> 0,05 (Sarwono, 2016). Uji Independent Sample T Test merupakan
teknik statistik yang diterapkan untuk menunjukkan keberadaan perbedaan
rata-rata signifikan pada dua kelompok sampel yang independen satu sama lain.
Uji ini memerlukan pemenuhan dua asumsi dasar, yakni normalitas distribusi data
dan homogenitas varians kedua kelompok (Rozak & Hidayati, 2019). Uji Mann-Whitney
adalah salah satu teknik dalam analisis statistik nonparametrik yang
diterapkan untuk mengkomparasi kesamaan distribusi antara dua populasi
independen dengan asumsi bahwa distribusi kedua populasi berciri kontinu. Uji
ini menjadi alternatif terhadap ketidaknormalan distribusi data (Kolassa,
2020).
Perangkat
lunak R-Studio digunakan dalam analisis penelitian yang bertujuan untuk
memperoleh elaborasi derajat perbedaan dan mengetahui latar belakang yang
mempengaruhi pandangan mahasiswa secara objektif dalam derajat angka. Dari
total 89 responden, sebanyak 60 mahasiswa dipilih secara purposive sampling
yang terdiri atas 30 mahasiswa dari rumpun Soshum dan 30 mahasiswa dari rumpun
Saintek. Pemilihan dilakukan untuk memastikan keseimbangan jumlah dalam
analisis perbandingan antarkelompok. Perlu dicatat bahwa temuan dalam
penelitian ini hanya merepresentasikan sampel studi perbandingan, bukan
keseluruhan populasi dari masing-masing rumpun keilmuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Variasi Perspektif Mahasiswa
Analisis
tabulasi data yang dilakukan utamanya adalah uji normalitas data sebagai dasar
pengambilan keputusan terhadap uji komparatif. Responden dalam penelitian
menunjukkan hasil skor yang beragam, sehingga menggambarkan variasi perspektif
mahasiswa terhadap isu toleransi antarumat beragama di lingkungan kampus. Hasil
akumulasi skor tersebut adalah kunci interpretasi analisis data.
Tabel
1 Hasil Uji Normalitas Data
|
Shapiro-Wilk |
||
|
|
Statistic |
Sig. |
|
Skor Toleransi Beragama (Soshum) |
0.77139 |
0.000021 |
|
Skor Toleransi Beragama (Saintek) |
0.85157 |
0.000669 |
Merujuk
pada Tabel 1 hasil uji Shapiro-Wilk yang dilakukan, kedua kelompok
rumpun menunjukkan distribusi skor toleransi yang tidak normal secara
statistik. Kelompok rumpun Soshum memiliki nilai W = 0,77139 dengan p-value
= 0,00002059, sedangkan kelompok rumpun Saintek memiliki nilai W = 0,85157
dengan p-value = 0,0006689. Kedua p-value tersebut berada di
bawah tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menjelaskan tidak adanya normalitas
data untuk kedua kelompok, sehingga hipotesis nol ditolak. Meskipun demikian,
kelompok Saintek menunjukkan distribusi yang relatif lebih mendekati normalitas
dibandingkan kelompok Soshum, sebagaimana tercermin dari nilai W yang lebih
tinggi dan p-value yang lebih besar. Ketidaknormalan ini dapat
disebabkan oleh keberadaan outlier, distribusi yang miring atau
karakteristik inheren dari variabel skor toleransi yang diukur. Hasil uji
normalitas menjadi dasar pengambilan keputusan terhadap uji beda nonparametrik,
yaitu uji Mann-Whitney U untuk membandingkan distribusi skor toleransi
antara rumpun Soshum dan Saintek.
Komparasi
Perspektif Mahasiswa Saintek dan Soshum
Tabel
2 Hasil Uji Mann-Whitney U (Wilcoxon Rank Sum Test)
|
Wilcoxon Rank Sum Test |
|
|
|
|
W |
Sig. (2-tailed) |
|
Skor Toleransi Beragama |
376.5 |
0.279 |
Analisis
hasil uji beda Mann-Whitney U (Wilcoxon Rank Sum Test) Tabel 2
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik
dalam tingkat toleransi beragama antara mahasiswa rumpun Soshum dan Saintek
yang memiliki nilai W sebesar 376,5 dengan tingkat signifikansi (p-value)
senilai 0,279 (p>0,05). Dengan kata lain, meskipun terdapat perbedaan skor
yang secara deskriptif tampak sedikit lebih tinggi pada kelompok Soshum,
perbedaan tersebut tidak cukup kuat secara statistik untuk disimpulkan sebagai
perbedaan yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa secara umum,
mahasiswa dari kedua rumpun keilmuan memiliki tingkat toleransi beragama yang
relatif sebanding.
Derajat
Persebaran Tingkat Toleransi Beragama
Tidak
terdapatnya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok memberikan analisis
lanjutan berupa visualisasi secara spesifik terhadap persebaran skor. Dalam hal
ini, kedua kelompok diberikan derajat angka perbedaan level agar
memberikan komparatif yang lebih spesifik berbentuk boxplot pada Gambar
2. Boxplot digunakan sebagai metode visualisasi statistik yang
menggambarkan distribusi data melalui nilai minimum, kuartil pertama (Q1),
median (Q2), kuartil ketiga (Q3), dan nilai maksimum (Indrasetianingsih et
al., 2021).

Gambar 2 Boxplot
Perbandingan Toleransi Antar Rumpun
Secara
keseluruhan, kedua kelompok tersebut menunjukkan skor toleransi yang cukup
tinggi, tetapi terdapat variasi yang berbeda. Kelompok mahasiswa rumpun Soshum
tampak memiliki median skor toleransi yang sedikit lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok Saintek. Hal ini mengindikasikan bahwa secara keseluruhan
mahasiswa Soshum cenderung memiliki sikap toleran. Selain itu, rentang
interkuartil (IQR) pada mahasiswa Soshum terlihat lebih sempit yang menandakan
bahwa sebaran nilai toleransi mereka lebih konsisten dan seragam.
Sebaliknya,
kelompok Saintek menunjukkan distribusi data lebih luas dengan adanya beberapa
nilai ekstrim (outlier) yang cukup rendah, sehingga memberikan derajat
variasi lebih besar mengenai sikap toleransi. Analisis spesifik
menginterpretasikan adanya kecenderungan sikap intoleran karena memiliki skor
yang lebih beragam dan lebih tersebar dibawah rata-rata.
Distribusi
Kategori Tingkat Toleransi Beragama
Visualisasi
lanjutan terhadap persebaran data digunakan untuk memberikan validitas tingkat
toleransi beragama terhadap rumpun keilmuan. Mekanismenya berupa pengelompokan
dengan nilai rata-rata (mean) dari skor total toleransi beragama yang
diberikan oleh para responden. Tiga puluh (30) pertanyaan diakumulasi
berdasarkan hasil skala Likert. Selanjutnya, skor yang mencerminkan sikap
intoleransi, dilakukan pembalikan skor (reverse scoring) sebelum
dihitung totalnya. Hasil perhitungan digunakan sebagai acuan dalam menentukan
kategori tingkat toleransi.

Gambar 3 Distribusi
Kategori Toleransi Beragama Berdasarkan Rata-Rata Skor
Responden
dengan skor total di bawah nilai rata-rata diklasifikasikan sebagai memiliki
tingkat toleransi rendah, dan skor di atas rata-rata termasuk dalam kategori
toleransi tinggi. Pendekatan ini memungkinkan klasifikasi yang bersifat data-driven,
sehingga pembentukan kategori dilakukan secara proporsional berdasarkan
distribusi skor nyata dalam sampel penelitian.
Gambar
3 memperlihatkan bahwa distribusi tingkat toleransi belum merata, di mana
proporsi responden dalam kategori toleransi tinggi belum mendominasi. Selain
itu, hampir setengah dari responden Saintek tergolong dalam kategori toleransi
rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa rumpun Saintek cenderung
menunjukkan tingkat toleransi yang lebih rendah.
Hasil
mengilustrasikan perbedaan yang cukup signifikan dalam distribusi kategori
toleransi antar dua rumpun keilmuan. Pada kelompok mahasiswa Saintek, kategori
toleransi "Tinggi" (ditandai warna hijau) mendominasi dengan proporsi
sekitar 60–65%, sementara kategori "Rendah" (berwarna merah) mencakup
sekitar 35–40% dari keseluruhan responden. Di sisi lain, mahasiswa rumpun
Soshum menunjukkan dominasi yang lebih kuat pada kategori "Tinggi"
dengan proporsi sekitar 70–75%, sedangkan kategori "Rendah" hanya
sekitar 25–30%. Meskipun menunjukkan
keberagaman, pola ini tetap mengarah pada kecenderungan toleransi yang positif.
Keterkaitan
Teori dan Realita Dinamika Toleransi Beragama Berdasarkan Hasil Uji
Visualisasi
grafik konsisten dengan temuan dari analisis boxplot sebelumnya yang
mengindikasikan bahwa mahasiswa Soshum cenderung memiliki tingkat toleransi
lebih tinggi dibandingkan mahasiswa Saintek. Temuan ini dapat dimaknai bahwa
keterlibatan dalam isu-isu sosial, budaya, dan kemanusiaan dalam kurikulum
Soshum berperan dalam membentuk pandangan yang lebih inklusif dan terbuka
terhadap perbedaan agama. Sebaliknya, adanya variasi yang besar dalam kelompok
Saintek menunjukkan bahwa faktor-faktor non-akademik kemungkinan lebih berperan
dalam membentuk sikap toleransi beragama.
Analisis
korelasi antara hasil temuan dan kerangka teori menunjukkan adanya keterkaitan
yang saling menguatkan, meskipun hubungan tersebut tidak sepenuhnya bersifat
linier. Kerangka teori yang digunakan membedakan dua pendekatan dalam memahami
toleransi beragama, yaitu toleransi konservatif objektif (Rawls, 1993) dan
toleransi liberal subjektif (Kymlicka, 1995). Menurut teori tersebut, sikap
terhadap keberagaman dipengaruhi oleh pendekatan epistemologis masing-masing
rumpun. Ketidaknormalan data mengindikasikan adanya keberagaman sudut pandang
dan memperkuat teori bahwa latar belakang keilmuan berperan dalam membentuk
persepsi terhadap toleransi beragama.
Temuan
ini memberikan interpretasi bahwa pembentukan sikap yang lebih inklusif
kemungkinan lebih banyak dipengaruhi oleh pendekatan humaniora yang menekankan
pada isu-isu sosial dan interkultural. Hal ini sejalan dengan konsep toleransi
liberal subjektif yang mendefinisikan toleransi sebagai pengakuan penuh atas
pluralitas agama dan budaya dengan menghormati kebebasan individu atau kelompok
untuk menjalankan keyakinannya tanpa diskriminasi.
Sementara
itu, mahasiswa Saintek menunjukkan tingkat variasi yang lebih tinggi dengan
tingkat toleransi lebih rendah. Realita yang terjadi adalah kurikulum mahasiswa
Saintek di Universitas Gadjah Mada cenderung menekankan pada objektivitas
keilmuan yang pasti berbasis teknologi dan sains serta minimnya mata kuliah
humaniora yang ditawarkan. Dengan kata lain, tingkat toleransi yang rendah
terjadi karena minimnya paparan terhadap nilai-nilai pluralisme dalam
kurikulum Saintek. Dalam hal ini, mata kuliah humaniora yang dapat diampu hanya
pancasila, kewarganegaraan, agama, dan bahasa.
Dengan
demikian, pola persepsi yang muncul tetap mencerminkan relevansi teori dalam
menjelaskan bagaimana pendekatan epistemologis dari masing-masing bidang
keilmuan mempengaruhi sikap terhadap keberagaman agama, meskipun perbedaan
tersebut tidak signifikan secara statistik. Temuan ini juga mengindikasikan
bahwa lingkungan sosial di kampus UGM dapat berperan sebagai faktor moderasi
yang meredam perbedaan-perbedaan teoritis antara rumpun keilmuan. Secara
spesifik, hasil analisis relevan dalam konteks UGM sebagai institusi pendidikan
yang multikultural.
KESIMPULAN
Hasil
penelitian menjelaskan tidak adanya perbedaan yang sangat signifikan (p=0.279)
pada tingkat toleransi beragama di antara mahasiswa Sains-Teknologi (Saintek)
dan Sosial-Humaniora (Soshum) di UGM, namun terdapat perbedaan pada pola
distribusi tingkat dan angka toleransi. Mahasiswa Soshum cenderung menunjukkan
tingkat toleransi tinggi dan konsisten, sekitar 70 – 75%. Sementara itu,
mahasiswa Saintek menunjukkan tingkat toleransi lebih rendah sekitar 60 - 65%,
dan terdistribusi dominan memiliki keragaman toleransi beragama di bawah
rata-rata hingga terdapat outlier.
Pendekatan
teori toleransi dari Rawls yang bersifat konservatif dan objektif, serta
pendekatan liberal dan subjektif dari Kymlicka terbukti efektif dalam
menjelaskan perbedaan pandangan tentang toleransi yang dipengaruhi oleh latar
belakang keilmuan masing-masing. Hasil yang lebih intens terhadap isu-isu
sosial dan budaya dalam kurikulum rumpun Soshum berkaitan dengan munculnya
sikap yang lebih terbuka dan inklusif. Sementara itu, isu sains dan teknologi
yang lebih objektif dan kurangnya mata kuliah humaniora dalam kurikulum rumpun
Soshum memberikan hasil yang lebih dinamis. Dalam hal ini, keberadaan
lingkungan kampus UGM yang multikultural turut berperan sebagai faktor
moderasi, sehingga meredam perbedaan pandangan teoritis antar disiplin ilmu.
Terdapat
beberapa keterbatasan, khususnya terkait dengan ukuran sampel yang terdiri
hanya dari 60 responden dan cakupan fakultas yang tidak menyeluruh, sehingga
belum dapat merepresentasikan setiap proporsi fakultas. Apabila memungkinkan,
pendekatan metode campuran dapat diterapkan guna memperoleh pemahaman yang
lebih komprehensif mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi sikap responden
terhadap toleransi beragama.
Selanjutnya,
pengembangan program interdisipliner juga sangat penting dalam membantu
mahasiswa dari disiplin ilmu sains dan teknologi untuk memahami lebih banyak
tentang nilai keberagaman dan multikulturalisme serta toleransi di kampus.
Dalam hal ini, pembelajaran diberikan dalam kelas gabungan agar dapat
mempelajari diskusi terkait sudut pandang yang berbeda berbasis humaniora.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmadi,
A. (2019). Moderasi Beragama Dalam Keragaman Indonesia Religious Moderation in
Indonesia ’ S Diversity. Jurnal Diklat Keagamaan, 13(2), 45–55.
Amri,
K. (2021). Moderasi Beragama Perspektif Agama-Agama di Indonesia. Living
Islam: Journal of Islamic Discourses, 4(2), 179–196.
http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/li/index
Azra,
A. (2006). Islam Nusantara dan Pluralisme Indonesia. Penerbit Kencana.
Bahrun,
S., Alifah, S., & Mulyono, S. (2018). Rancang Bangun Sistem Informasi
Survey Pemasaran dan Penjualan Berbasis Web. Jurnal Transistor Elektro Dan
Informatika, 2(2), 81–88.
Devi,
D. A. (2020). Toleransi beragama. In Jurnal Ushuluddin. Alprin.
Huriani,
Y., Rahman, M. T., & Haq, M. Z. (2021). Developing Gender-Based Justice
Relationships in Indonesian Families During the COVID-19 Pandemic. Equalita:
Jurnal Studi Gender Dan Anak, 3(1), 76.
https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8355
Indrasetianingsih,
A., Hapsery, A., Lusyanti, I. G., dan S., H. R. K. (2021). Pelatihan two way
ANOVA menggunakan software R (Studi kasus pertumbuhan panjang hipokotil tanaman
kedelai). Jurnal Pengabdian LPPM Untag Surabaya, 107–112.
https://doi.org/https://doi.org/10.30996/JPM17.V6I02.6234
Kolassa,
J. (2020). An Introduction to Nonparametric Statistics. Chapman and Hall.
Kusumaningtyas,
E., Sugiyanto, Subagyo, E., Adinugroho, W. C., Jacob, J., Berry, Y., Nuraini,
A., Sudjono, & Syah, S. (2022). Konsep dan Praktik Ekonometrika
Menggunakan Eview (M. P. Dr. Miftakus Surur (ed.); 1st ed.). Academia
Publication.
Kymlicka,
W. (1995). Multicultural Citizenship: A Liberal Theory of Minority Rights.
Oxford University Press.
https://doi.org/https://doi.org/10.1093/0198290918.001.0001
Putra.
(2022). Biarkan Kami Bermain : Siklus Orientasi Pers
Mahasiswa. 3(2),
134–154.
Rawls,
J. (1993). Political Liberalism. Columbia University Press.
Rozak,
A., & Hidayati, W. S. (2019). Pengolahan Data Dengan SPSS. Erhaka
Utama.
Saifuddin.
(2019). Moderasi Beragama (1st ed.). Badan Litbang dan Diklat
Kementerian Agama RI.
Saputra,
P. A., & Nugroho, A. (2017). Perancangan Dan Implementasi Survei Kepuasan
Pengunjung Berbasis Web Di Perpustakaan Daerah Kota Salatiga. JUTI: Jurnal
Ilmiah Teknologi Informasi, 15(1), 63.
https://doi.org/10.12962/j24068535.v15i1.a636
Sarwono,
J. (2016). Prosedur-prosedur analisis populer : aplikasi riset skripsi dan tesis dengan
EViews
(1st ed.). Gava Media.
Sembiring,
I. M., Ilham, Sukmawati, E., & Arifudin, O. (2024). Pendidikan Agama Islam
Berwawasan Global Sebagai Dasar Paradigma Dan Solusi Dalam Menghadapi Era
Society 5.0. Journal Of Social Science Research, 4(2), 305–314.
Sugiyono.
(2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (8th ed.).
Alfabeta.
Thahir,
M. (2023). Tantangan Dan Strategi Dalam Mengatasi Perbedaan Budaya Dan Agama Di
Indonesia. Dakwatun : Jurnal Manajemen Dakwah, 2(1), 132–143.
https://doi.org/10.58194/jdmd.v2i1.757
Wiguna,
I. B. A. A., & Andari, I. A. M. Y. (2023). Moderasi Beragama Solusi Hidup
Rukun Di Indonesia. Widya Sandhi Jurnal Kajian Agama Sosial Dan Budaya, 14(1),
40–54. https://doi.org/10.53977/ws.v14i1.949