INTEGRASI ARTIFICIAL
INTELLIGENCE
DALAM
PENDIDIKAN ISLAM: TREN DAN ARAH PENELITIAN DALAM PERSPEKTIF BIBLIOMETRIK
Abur
Hamdi Usman**
Mohd Farid Ravi Abdullah***
*Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab
(STIBA) Makassar, Indonesia
**Fakulti Pengajian
Peradaban Islam, Universiti Islam Selangor (UIS), Malaysia
** Fakulti Pengajian
Peradaban Islam, Universiti Islam Selangor (UIS), Malaysia
*E-mail:
azwar.iskandar@gmail.com
**E-mail: aburhamdi@uis.edu.my
***E-mail: faridravi@uis.edu.my
Abstract
This study aims to provide a comprehensive understanding of
the development and research direction regarding the integration of Artificial
Intelligence (AI) in Islamic education. It focuses on analyzing and mapping
publication trends, researcher collaboration, institutional contributions, and
dominant and underexplored topics. Using a bibliometric approach, the study
draws on data from the Scopus database for the period 2015 to 2025. The
findings reveal a significant increase in publication volume in recent years,
with Indonesia emerging as the leading contributor, alongside institutions such
as Universiti Kebangsaan Malaysia, International Islamic University Malaysia,
and UIN Sunan Gunung Djati. Key contributors and the most influential works
were identified, with Taufik M.’s article recognized as the most cited. Keyword
mapping shows that research in this field centers on themes such as learning,
models, approaches, and educational processes, with emerging trends including
machine learning and AI-based evaluation. Several low-density topics, such as
Islamic perspectives and deep understanding, indicate promising areas for
future research. This study offers a valuable contribution to understanding the
evolving scholarly landscape at the intersection of intelligent technology and
Islamic educational values.
Keywords: artificial intelligence; Islamic education; bibliometric
Abstrak
Penelitian ini bertujuan
untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai perkembangan dan arah riset
terkait integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan Islam, melalui
analisis dan pemetaan tren publikasi, kolaborasi peneliti, kontribusi
institusi, serta topik-topik yang dominan dan belum banyak dieksplorasi.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan bibliometrik berdasarkan data dari
basis data Scopus, mencakup periode tahun 2015 hingga 2025. Hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah publikasi selama
beberapa tahun terakhir, dengan dominasi kontribusi dari Indonesia serta
institusi seperti Universiti Kebangsaan Malaysia, International Islamic
University Malaysia, dan UIN Sunan Gunung Djati. Penulis aktif dan karya paling
berpengaruh juga diidentifikasi, dengan artikel Taufik M. sebagai publikasi
paling banyak dikutip. Pemetaan kata kunci mengungkap bahwa fokus penelitian
meliputi aspek-aspek seperti pembelajaran, model, pendekatan, dan proses
pendidikan, serta tren baru seperti machine learning dan evaluasi berbasis AI.
Beberapa topik dengan kepadatan rendah, seperti perspektif Islam dan pemahaman
mendalam, menunjukkan potensi pengembangan riset di masa depan. Studi ini
memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika keilmuan di persimpangan
antara teknologi cerdas dan nilai-nilai pendidikan Islam.
Kata Kunci: kecerdasan buatan; pendidikan islam;
bibliometrik
PENDAHULUAN
Revolusi
Industri 4.0, yang ditandai dengan integrasi teknologi digital, fisik, dan
biologis (Alviz-Meza dkk., 2023), telah mengubah cara manusia bekerja,
berinteraksi, dan hidup, termasuk memberikan dampak signifikan pada sistem pendidikan
global (Butt dkk., 2020). Dalam era disrupsi ini, Artificial Intelligence (AI)
menjadi teknologi kunci yang meniru kecerdasan manusia dalam pengambilan
keputusan, analisis pola, dan pembelajaran dari pengalaman (Firdaus dkk., 2024;
Sodik, 2024; Xu dkk., 2021), sekaligus mendorong inovasi pendidikan seperti
pembelajaran adaptif, asisten virtual bagi guru, dan evaluasi otomatis untuk
meningkatkan mutu pengajaran (Firdaus dkk., 2024; Pratama dkk., 2024).
Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memungkinkan
pengalaman belajar yang lebih personal dan responsif terhadap kebutuhan peserta
didik (Butt dkk., 2020).
Dalam
bidang pendidikan Islam, yang dimaknai sebagai seluruh proses pendidikan yang
berorientasi pada pembinaan pemahaman, pengamalan, dan internalisasi ajaran
Islam, baik yang berlangsung pada lembaga pendidikan formal seperti madrasah
dan perguruan tinggi keagamaan Islam, maupun pada pendidikan non-formal seperti
pesantren dan lembaga pengajaran Al-Qur'an, adopsi AI memberikan kesempatan
yang signifikan untuk memperluas jangkauan dakwah dan pengajaran ajaran Islam.
Misalnya, aplikasi berbasis pengenalan suara untuk hafalan Al-Qur'an dapat
secara otomatis mengoreksi tajwid dan pelafalan siswa, yang mendukung proses
belajar mereka (Nurhayati
dkk., 2024). Selain itu, chatbot
keagamaan yang memanfaatkan pemahaman fiqh dan akidah menyediakan platform
interaktif bagi masyarakat untuk mencari informasi keislaman dengan lebih cepat
dan mudah (Sodik,
2024). Kemampuan AI dalam
mengelola konten pendidikan juga sangat bermanfaat untuk merekomendasikan
materi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, hal ini sangat penting
dalam pengajaran yang membutuhkan pemahaman mendalam seperti studi tafsir
Al-Qur'an dan fikih (Nurhayati
dkk., 2024)
Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa AI memiliki efektivitas tinggi dalam pendidikan,
dengan temuan Pratama dkk. (2024) dan Pratiwi dkk. (2022) yang menegaskan bahwa
teknologi ini mendorong metode pembelajaran inovatif dan adaptif, terutama
selama pandemi, sementara Pérez dkk. (2020) menunjukkan kemampuan chatbot dalam
meningkatkan interaksi, personalisasi, dan dukungan akademik meskipun masih
terdapat keterbatasan seperti integrasi kurikulum dan tantangan teknis; riset
Okonkwo & Ade-Ibijola (2021) juga mengungkapkan bahwa chatbot telah
dimanfaatkan dalam pembelajaran mandiri, bimbingan akademik, dan peningkatan
keterlibatan siswa, sehingga secara keseluruhan penerapan AI—termasuk dalam
pendidikan Islam—berpotensi besar mengubah proses belajar mengajar melalui
peningkatan personalisasi dan pengalaman belajar yang lebih relevan,
menjadikannya semakin krusial di era digital yang penuh tantangan dan peluang
baru.
Namun,
perlu dicatat bahwa studi-studi tersebut bersifat kualitatif atau berbasis
studi kasus, dan masih berfokus pada pendidikan secara umum. Beberapa artikel
ilmiah mungkin telah membahas aplikasi seperti AI dalam pembelajaran Al-Qur’an (Gunawan
& Arifin, 2025; Nopiyanti, 2025)
atau dalam pengajaran bahasa Arab (Aidah
Novianti Putri & Moh. Abdul Kholiq Hasan, 2022; Ramadhan, 2023),
namun belum dilakukan pemetaan secara sistematis terhadap keseluruhan tren
penelitian yang ada, seperti analisis bibliometrik. Padahal, pendekatan ini
penting untuk memetakan sejauh mana riset-riset ilmiah telah membahas integrasi
AI dalam pendidikan Islam, siapa saja aktor kunci dalam pengembangan wacana
ini, serta bagaimana tren dan arah riset ke depan.
Dari
pemaparan tersebut, tampak jelas adanya kekosongan ilmiah (research gap)
dalam kajian mengenai peran AI dalam pendidikan Islam, khususnya yang
dianalisis dengan pendekatan bibliometrik. Gap ini mencakup beberapa aspek
penting. Pertama, belum banyak studi yang secara khusus memetakan publikasi
ilmiah tentang AI dalam pendidikan Islam secara terintegrasi dan kuantitatif.
Kedua, tren publikasi, seperti pertumbuhan jumlah artikel, distribusi geografis
penulis, dan periode produktif, masih belum terdokumentasi dengan baik. Ketiga,
aktor-aktor kunci seperti penulis, institusi, dan negara yang paling
berkontribusi belum teridentifikasi secara sistematis. Keempat, belum tergambar jaringan kolaborasi antarpeneliti
dan korelasi topik yang relevan. Kelima, kanal publikasi utama juga belum
terpetakan, sehingga menyulitkan peneliti dalam menyusun strategi publikasi.
Oleh karena itu, dibutuhkan kajian ilmiah yang secara sistematis menganalisis
perkembangan publikasi akademik mengenai peran AI dalam pendidikan Islam agar
dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan, pengembangan kurikulum, serta
penguatan kapasitas digital di lembaga pendidikan Islam, dalam menyambut era
digital dengan prinsip wasaṭiyah dan
relevansi nilai-nilai Islam yang kontekstual.
Selain itu, penting untuk menegaskan bahwa kajian mengenai
integrasi Artificial Intelligence dalam pendidikan Islam memiliki
keterkaitan langsung dengan agenda global Sustainable Development Goals
(SDGs). Khususnya, penelitian ini mendukung pencapaian SDG 4: Quality
Education, yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas, inklusif, dan
berkeadilan melalui pemanfaatan teknologi yang inovatif. Integrasi AI dalam
pendidikan Islam dapat memperluas akses terhadap pembelajaran bermutu,
meningkatkan kualitas proses pembelajaran, serta mengurangi kesenjangan
pendidikan melalui pendekatan yang adaptif dan personal. Selain itu, kajian ini
juga secara tidak langsung berkontribusi pada SDG 9: Industry, Innovation,
and Infrastructure, melalui penguatan inovasi teknologi pada sektor
pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam yang dituntut adaptif dalam era
digital. Artinya, penelitian ini selaras dengan upaya global untuk mendorong
pemanfaatan teknologi dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih responsif,
modern, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan utama untuk
memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai perkembangan dan arah riset
terkait peran Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan Islam. Secara
lebih spesifik, penelitian ini bertujuan untuk memetakan lanskap keilmuan
terkait peran Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan Islam. Fokus
utama dari kajian ini adalah mengidentifikasi tren utama dalam publikasi
akademik, termasuk pola pertumbuhan publikasi dari waktu ke waktu, topik-topik
yang paling sering dibahas, kontribusi dari institusi dan peneliti yang paling
aktif, serta arah riset yang mulai muncul dan bidang-bidang yang masih jarang
dieksplorasi. Dengan pendekatan bibliometrik, penelitian ini menyajikan
gambaran mengenai dinamika riset yang berkembang pada titik temu antara
teknologi kecerdasan buatan dan pendidikan keislaman.
Penelitian
ini menawarkan kebaruan sebagai kajian bibliometrik pertama yang secara khusus
dan sistematis menyoroti topik Artificial Intelligence dalam Pendidikan Islam,
menggunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis bibliometrik berbantuan VOSviewer
dan data Scopus sehingga mampu menghadirkan statistik akurat serta pemetaan
visual interaksi antarpeneliti, topik, dan institusi, yang membuka ruang baru
bagi kajian interdisipliner antara teknologi cerdas dan pendidikan Islam;
temuan penelitian ini sekaligus menyediakan manfaat strategis bagi akademisi
dalam mengidentifikasi research gap, bagi institusi pendidikan Islam dalam
merancang strategi integrasi AI ke dalam kurikulum dan metode pembelajaran,
bagi pengambil kebijakan dalam menyusun regulasi yang adaptif terhadap
perkembangan teknologi digital, serta bagi pengembang edutech dalam menciptakan
inovasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks keislaman.
METODE
Penelitian
ini menggunakan pendekatan analisis bibliometrik untuk memetakan perkembangan
riset mengenai peran Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan Islam.
Metode bibliometrik dipilih karena mampu memberikan gambaran sistematis dan
kuantitatif terkait tren penelitian, pola kolaborasi antarpeneliti, serta
kontribusi ilmiah yang signifikan berdasarkan data publikasi ilmiah Gambar
1. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data
(Ozturk, 2021; Öztürk
dkk., 2024). Data utama dalam
studi ini diambil dari Scopus, salah satu basis data ilmiah internasional yang
terpercaya dan memiliki cakupan luas terhadap jurnal-jurnal bereputasi.
Pencarian
data difokuskan pada artikel-artikel yang diterbitkan dalam kurun waktu 2015
hingga 2025 untuk mendapatkan gambaran tren terbaru dan relevan di bidang ini.
Proses pencarian menggunakan query khusus, yaitu: (TITLE-ABS-KEY
(artificial AND intelligence) OR TITLE-ABS-KEY (machine AND learning) OR
TITLE-ABS-KEY (natural AND language AND processing) OR TITLE-ABS-KEY (deep AND
learning) AND TITLE-ABS-KEY (islamic AND education) ) AND PUBYEAR > 2014 AND
PUBYEAR < 2026
Tahapan
analisis dimulai dengan pengumpulan data yang mencakup informasi bibliografis
seperti judul, abstrak, kata kunci, nama penulis, institusi, negara asal, serta
tahun publikasi. Selanjutnya, data ini diproses dan dianalisis menggunakan
perangkat lunak bibliometrik, khususnya VOSviewer, untuk
mengidentifikasi pola kolaborasi antarpeneliti, tren publikasi, serta
kontribusi geografis dari berbagai institusi dan negara (Van-Eck &
Waltman, 2010, 2022).
Prosedur
pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan
sistematis. Pertama, ditentukan kata kunci relevan terkait AI—seperti
artificial intelligence, machine learning, natural language processing, dan
deep learning—yang dikombinasikan dengan istilah Islamic education. Kedua,
dipilih basis data Scopus sebagai sumber utama karena cakupan dan
kredibilitasnya. Ketiga, diterapkan kriteria inklusi berupa publikasi jurnal
internasional terindeks Scopus tahun 2015–2025 serta pengecualian artikel
editorial atau non–peer-review. Keempat, dilakukan pembersihan data untuk
menghilangkan duplikasi, memastikan konsistensi metadata, dan mengategorikan
topik publikasi secara akurat.
Analisis
bibliometrik mencakup identifikasi tren publikasi tahunan, penulis paling
produktif dan berpengaruh, pemetaan institusi dan negara kontributor, serta
analisis kata kunci untuk mengungkap fokus penelitian. Seluruh hasil analisis divisualisasikan dalam peta jaringan, grafik, dan
tabel guna memudahkan interpretasi. Validitas dan reliabilitas diperkuat
melalui triangulasi dengan literatur tambahan dan sumber relevan lainnya
(Donthu dkk., 2021; Gera dkk., 2024; Mukherjee dkk., 2022; Öztürk dkk., 2024). Pendekatan ini
memberikan gambaran komprehensif tentang lanskap penelitian Artificial
Intelligence dalam pendidikan Islam serta arah pengembangannya di masa depan.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Perkembangan Publikasi
Setelah melakukan penarikan dan
pemetaan database publikasi ilmiah terkait AI dan Pendidikan Islam pada database Scopus, diperoleh data
Perkembangan Jumlah Publikasi sebagaimana pada Grafik 1.
Grafik 1. Tren
Perkembangan Publikasi
Sumber: Scopus.Com (Data Diolah, 2025)
Grafik 1 menunjukkan perkembangan jumlah publikasi yang
membahas Artificial Intelligence (AI) dalam konteks pendidikan Islam pada
periode 2016 hingga 2025, berdasarkan data yang diolah dari Scopus. Secara
keseluruhan, terdapat 74 publikasi yang teridentifikasi selama rentang waktu
ini, dengan tren kenaikan yang cukup signifikan, terutama dalam beberapa tahun
terakhir.
Pada awal periode, jumlah publikasi masih relatif rendah,
yaitu hanya 2 publikasi pada tahun 2016 yang mewakili sekitar 2,7% dari total.
Jumlah ini kemudian meningkat secara fluktuatif dengan 6 publikasi pada 2018
(8,11%) dan kembali turun ke angka 2 publikasi pada 2019 (2,7%). Pada periode
2020 dan 2021, publikasi stabil dengan masing-masing 4 artikel atau sekitar
5,41%. Peningkatan yang lebih jelas mulai terlihat sejak tahun 2022 dengan 7
publikasi (9,46%), kemudian berlanjut dengan pertumbuhan yang signifikan pada
2023, di mana jumlah publikasi mencapai 11 artikel (14,86%). Puncak tertinggi
terjadi pada tahun 2024, dengan jumlah publikasi mencapai 25 artikel, atau
sekitar sepertiga dari total keseluruhan (33,78%). Tahun 2025 yang masih
bersifat proyeksi menunjukkan angka publikasi sebesar 13 artikel (17,57%), yang
menunjukkan tren positif dan minat yang terus meningkat terhadap topik ini.
Data ini mencerminkan bahwa perhatian akademik terhadap
pemanfaatan AI dalam pendidikan Islam semakin berkembang, terutama dalam lima
tahun terakhir. Lonjakan jumlah publikasi pada tahun-tahun terakhir menandakan
meningkatnya urgensi dan relevansi topik ini di tengah perkembangan teknologi
dan transformasi digital dalam dunia pendidikan Islam. Temuan ini menunjukkan
peluang besar bagi peneliti untuk mendalami berbagai aspek AI yang berpotensi
mendukung kemajuan pendidikan Islam di masa depan.
Penulis dan Kutipan
Dari sisi penulis, terdapat beberapa
penulis atau peneliti yang jumlah karyanya dominan.
Grafik 2. Jumlah Dokumen Publikasi Berdasarkan
Penulis (10 Besar)
Sumber: Scopus.Com (Data Diolah, 2025)
Grafik 2 di atas
menyajikan daftar sepuluh penulis dengan jumlah publikasi terbanyak berdasarkan
data yang diolah dari Scopus tahun 2025. Dari data tersebut, tercatat delapan
penulis memiliki jumlah publikasi yang sama, yaitu masing-masing dua dokumen.
Mereka adalah Hardaker, G.; Irfan, M.; Jamal, K.; Kurniawan, R.; Ramli, N.A.;
Sabki, A.; Sulaiman, S.A.; dan Wong-A-Foe, D. Frekuensi publikasi yang setara
menunjukkan kontribusi aktif dan berkesinambungan dari para penulis ini dalam
bidang kajian yang dianalisis. Sementara itu, dua penulis lainnya, yakni Ab
Razak, N.H. dan Abdelaal, H.M., masing-masing memiliki satu dokumen publikasi
yang tercatat dalam basis
data. Meskipun
jumlahnya lebih sedikit, keterlibatan mereka tetap memberikan kontribusi dalam
memperkaya literatur ilmiah yang relevan. Secara umum, grafik ini memberikan
gambaran awal tentang penulis-penulis yang paling produktif dan berpengaruh
dalam studi yang dianalisis, serta dapat menjadi rujukan bagi peneliti lain
untuk menjalin kolaborasi atau merujuk karya-karya mereka dalam pengembangan
riset serupa.
Tabel 1. Sepuluh Besar Jumlah Kutipan Terbanyak
|
Rangking |
Penulis |
Judul |
Tahun |
Media Publikasi |
Jumlah Kutipan |
|
1 |
Taufik M. |
Strategic Role of Islamic Religious
Education in Strengthening Character Education in The Era of Industrial
Revolution 4.0 |
2020 |
Jurnal Ilmiah Islam Futura |
21 |
|
2 |
Fahyuni E.F.; Wasis; Bandono A.;
Arifin M.B.U.B. |
Integrating Islamic values and
science for millennial students’ learning on using seamless mobile media |
2020 |
Jurnal Pendidikan IPA Indonesia |
10 |
|
3 |
Sabani N.; Hardaker G.; Sabki A.;
Salleh S. |
Understanding of Islamic pedagogy
for personalised learning |
2016 |
International Journal of
Information and Learning Technology |
10 |
|
4 |
Abdelghfar H.A.; Ahmed A.M.; Alani
A.A.; Abdelaal H.M.; Bouallegue B.; Khattab M.M.; Tharwat G.; Youness H.A. |
A Model for Qur’anic Sign Language
Recognition Based on Deep Learning Algorithms |
2023 |
Journal of Sensors |
9 |
|
5 |
Jamal K.; Kurniawan R.; Batubara
A.S.; Nazri M.Z.A.; Lestari F.; Papilo P. |
Text Classification on Islamic
Jurisprudence using Machine Learning Techniques |
2020 |
Journal of Physics: Conference
Series |
8 |
|
6 |
Asidik I.; Kusrini; Henderi |
Decision Support System Model of
Teacher Recruitment Using Algorithm C4.5 and Fuzzy Tahani |
2018 |
Journal of Physics: Conference
Series |
7 |
|
7 |
Abubakari M.S.; Shafik W.;
Hidayatullah A.F. |
Evaluating the potential of
artificial intelligence in Islamic religious education: A SWOT analysis
overview |
2024 |
AI-Enhanced Teaching Methods |
7 |
|
8 |
Kurniawan R.; Akbarizan; Jamal K.;
Nur A.; Ahmad M.Z.; Kholilah D. |
Advice-giving expert systems based
on Islamic jurisprudence for treating drugs and substance abuse |
2018 |
Journal of Theoretical and Applied
Information Technology |
7 |
|
9 |
Sulistio
B.; Ramadhan A.; Abdurachman E.; Zarlis M.; Trisetyarso A. |
The utilization of machine learning
in studying Hadith in Islam: A systematic literature review |
2024 |
Education and Information
Technologies |
6 |
|
10 |
Abdullah M.A. |
Islamic Religious Education Based
on Religious Intersubjectivity: Philosophical Perspectives and Phenomenology
of Religion |
2022 |
Jurnal Pendidikan Agama Islam |
5 |
Sumber: Scopus.com (Data Diolah, 2025)
Selain itu, Tabel 1 menampilkan sepuluh
artikel dengan kutipan tertinggi yang mengintegrasikan tema artificial
intelligence, teknologi, dan pendidikan Islam berdasarkan data Scopus tahun
2025. Daftar ini menunjukkan produktivitas akademik sekaligus arah perkembangan
kajian interdisipliner antara teknologi mutakhir dan nilai-nilai keislaman.
Artikel dengan kutipan tertinggi adalah karya Taufik M. (2020) berjudul Strategic
Role of Islamic Religious Education in Strengthening Character Education in the
Era of Industrial Revolution 4.0 dengan 21 kutipan, yang menekankan
pentingnya pendidikan agama Islam dalam membentuk karakter generasi muda di era
digital.
Dua artikel di
posisi selanjutnya masing-masing memperoleh 10 kutipan: tulisan Fahyuni E.F.
dkk. (2020) tentang integrasi nilai Islam dan sains dalam pembelajaran mobile
generasi milenial, serta karya Sabani N. dkk. (2016) mengenai pedagogi Islam
yang adaptif untuk pembelajaran personal. Pada peringkat keempat dengan 9
kutipan, penelitian Abdelghfar H.A. dkk. (2023) menawarkan model pengenalan bahasa isyarat Al-Qur’an
berbasis deep learning untuk mendukung akses bagi penyandang disabilitas.
Peringkat kelima diisi oleh artikel Jamal K. dkk. (2020) dengan 8 kutipan yang
membahas klasifikasi teks fiqih menggunakan machine learning. Tiga artikel
berikutnya masing-masing memiliki 7 kutipan: model sistem pendukung keputusan
perekrutan guru oleh Asidik I. dkk. (2018), analisis SWOT penerapan AI dalam
pendidikan agama Islam oleh Abubakari M.S. dkk. (2024), serta sistem pakar
berbasis fiqih untuk menangani penyalahgunaan zat oleh Kurniawan R. dkk.
(2018).
Di posisi kesembilan, artikel Sulistio
B. dkk. (2024) dengan 6 kutipan meninjau penerapan machine learning dalam
kajian hadis. Peringkat kesepuluh ditempati artikel Abdullah M.A. (2022) dengan
5 kutipan yang mengusung perspektif filosofis dan fenomenologis dalam
pendidikan agama Islam.
Secara umum, tabel ini menunjukkan
meningkatnya minat akademik terhadap integrasi AI dan teknologi dalam
pendidikan Islam, dengan tetap menekankan nilai-nilai etika, spiritualitas, dan
inklusivitas sebagai dasar inovasi.
Media Publikasi, Afiliasi, dan Negara
Berdasarkan penelusuran terhadap 48
publikasi yang diperoleh dari penelusuran melalui database Scopus, dari
sisi media publikasi, ditemukan 10 besar media publikasi sebagaimana
ditunjukkan oleh Grafik 3 berikut.
Grafik 3. Sepuluh Besar Media dan Jumlah Publikasi
Sumber: Scopus.Com (Data Diolah, 2025)
Grafik 3 menunjukkan sepuluh media
publikasi teratas dalam penelitian terkait pendidikan Islam dan AI berdasarkan
data Scopus 2025. Lecture Notes in Networks and Systems menempati posisi
pertama dengan 5 publikasi, menandakan kuatnya minat pada tema jaringan dan
sistem dalam konteks pendidikan dan keislaman.
Di posisi berikutnya, AIP Conference
Proceedings dan Journal of Physics: Conference Series masing-masing
mencatat 3 publikasi, menunjukkan peran penting forum ilmiah interdisipliner
dalam mendiseminasikan riset berbasis sains dan teknologi.
Lima media lain memuat masing-masing 2
publikasi, yakni Communications in Computer and Information Science,
International Journal of Learning, Teaching and Educational Research, IOP
Conference Series: Earth and Environmental Science, Lecture Notes in Computer
Science (termasuk LNCS, LNAI, LNBI), Nazhruna: Jurnal Pendidikan
Islam, dan Religions. Masuknya Nazhruna menegaskan kontribusi jurnal
nasional dalam pengembangan kajian pendidikan Islam berbasis nilai lokal. Di
posisi terakhir, GAST 2024 Proceedings muncul dengan 1 publikasi,
mencerminkan meluasnya kajian pendidikan Islam hingga ranah teknologi tinggi
seperti kedirgantaraan dan satelit.
Secara umum, sebaran ini menunjukkan
karakter interdisipliner yang kuat, menghubungkan pendidikan Islam dengan
perkembangan teknologi modern melalui berbagai saluran publikasi nasional
maupun internasional.
Tabel 2. 10 Besar Institusi dengan Publikasi Terbanyak Bidang Kajian
Artificial intelligence dan Pendidikan Islam
|
No. |
Afiliasi |
Jumlah Publikasi |
|
1 |
Universiti Kebangsaan Malaysia |
4 |
|
2 |
International Islamic University Malaysia |
4 |
|
3 |
UIN Sunan Gunung Djati |
4 |
|
4 |
Prince of Songkla University |
3 |
|
5 |
Universiti Brunei Darussalam |
3 |
|
6 |
Universiti Pendidikan Sultan Idris |
3 |
|
7 |
Beyond Labels Ltd |
2 |
|
8 |
Universiti Utara Malaysia |
2 |
|
9 |
Universiteit Leiden |
2 |
|
10 |
Universiti Malaysia Pahang
Al-Sultan Abdullah |
2 |
Sumber: Scopus.com (Data Diolah, 2025)
Selanjutnya, Tabel 2 menunjukkan sepuluh
institusi dengan publikasi terbanyak dalam kajian artificial intelligence dan
Pendidikan Islam berdasarkan data Scopus 2025. Tiga institusi berada di posisi
teratas dengan masing-masing 4 publikasi: Universiti Kebangsaan Malaysia,
International Islamic University Malaysia, dan UIN Sunan Gunung Djati, yang
menegaskan komitmen kuat terhadap riset interdisipliner antara teknologi cerdas
dan pendidikan Islam. Kehadiran UIN Sunan Gunung Djati sebagai satu-satunya
institusi Indonesia di posisi puncak mencerminkan daya saing akademik nasional,
sementara dominasi dua institusi Malaysia menunjukkan posisi negara tersebut
sebagai pusat unggulan pendidikan Islam berbasis teknologi di Asia Tenggara.
Posisi selanjutnya diisi oleh Prince of
Songkla University, Universiti Brunei Darussalam, dan Universiti Pendidikan
Sultan Idris dengan masing-masing 3 publikasi, menunjukkan meluasnya perhatian
regional terhadap tema ini. Di peringkat berikutnya, empat institusi memiliki
masing-masing 2 publikasi, yaitu Beyond Labels Ltd, Universiti Utara Malaysia,
Universiteit Leiden, dan Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah;
kehadiran Universiteit Leiden menandai keterlibatan institusi Eropa dalam
kajian lintas disiplin ini.
Secara umum, data tersebut menunjukkan
bahwa riset AI dalam pendidikan Islam telah menarik perhatian luas di tingkat
regional maupun internasional, dengan kolaborasi dan pendekatan interdisipliner
sebagai pendorong utama kemajuannya.
Tabel 3. 10 Besar Negara dengan Publikasi Terbanyak Bidang Kajian
Artificial intelligence dan Pendidikan Islam
|
No. |
Asal Negara |
Jumlah
Publikasi |
|
1 |
Indonesia |
33 |
|
2 |
Malaysia |
18 |
|
3 |
United Kingdom |
5 |
|
4 |
United States |
5 |
|
5 |
Saudi Arabia |
4 |
|
6 |
Thailand |
4 |
|
7 |
Brunei Darussalam |
3 |
|
8 |
Netherlands |
3 |
|
9 |
Egypt |
2 |
|
10 |
Iraq |
2 |
Sumber: Scopus.com (Data Diolah, 2025)
Gambar
2. Sebaran
Geografis Publikasi Berdasarkan Afiliasi Negara Para Penulis (10 Besar)
Sumber: Scopus.Com (Data Diolah,
2025)
Dari sisi
kontribusi berdasarkan asal negara, Tabel 3 menunjukkan bahwa Indonesia
menempati posisi teratas dengan 33 publikasi dalam kajian artificial
intelligence dan pendidikan Islam, mencerminkan minat akademik yang tinggi
terhadap integrasi teknologi cerdas dalam pendidikan Islam. Malaysia menyusul
dengan 18 publikasi, sehingga kedua negara ini tampil dominan sebagai pusat
pengembangan riset pendidikan Islam berbasis teknologi di Asia Tenggara. United
Kingdom dan United States masing-masing mencatat 5 publikasi, menunjukkan
adanya ketertarikan lintas kawasan terhadap kajian interdisipliner ini. Di
posisi berikutnya, Saudi Arabia dan Thailand memiliki 4 publikasi, sementara
Brunei Darussalam dan Netherlands mencatat 3 publikasi, diikuti Egypt dan Iraq
dengan masing-masing 2 publikasi.
Secara umum,
data ini memperlihatkan bahwa kajian AI dalam pendidikan Islam memperoleh
perhatian global, dengan Asia Tenggara sebagai kawasan paling produktif, namun
sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas dalam
pengembangan pendidikan Islam berbasis teknologi cerdas.
Peta Perkembangan Penelitian
Artificial Intelligence dan Pendidikan Islam
Pemetaan
perkembangan penelitian artificial intelligence dan Pendidikan Islam dengan
menggunakan VOSviewer menghasilkan visualisasi yang menunjukkan hubungan
antara berbagai topik yang sering muncul dalam literatur artificial
intelligence dan Pendidikan Islam. Dalam pemilihan type of data, peneliti menggunakan fitur create
a map based text data. Setelah itu, dalam data source menggunakan
pilihan read data from reference manager files dengan supported file
types RIS, pada aplikasi VOSviewer. Selanjutnya dengan counting
method menggunakan Binary Counting dengan minimum numbers of
occurences of term sebanyak 3 dan number of term be selected yang
terpilih sebanyak 133 item dari 74 dokumen. Hasil pemetaan topik artificial
intelligence dan Pendidikan Islam dengan Mode Tampilan Network Visualization
adalah sebagaimana tampak pada Gambar 3 berikut.
Gambar 3. Hasil Pemetaan Topik dengan Mode Tampilan Network
Visualization
Sumber: Hasil Olah Data (2025)
Gambar 3 menampilkan visualisasi
jaringan kata kunci dalam kajian Artificial Intelligence dan pendidikan Islam
menggunakan VOSviewer. Setiap simpul menunjukkan frekuensi kemunculan kata
kunci, sementara garis antarsimpul menggambarkan kekuatan keterkaitan antar topik.
Peta ini memperlihatkan ekosistem penelitian yang saling terhubung dan
membentuk beberapa klaster tematik utama.
Klaster merah berfokus pada nilai dan
proses inti pendidikan Islam, seperti religion, learning, practice, dan knowledge.
Tema ini menyoroti peran tradisi keagamaan, otoritas guru, dan pembelajaran
berbasis nilai, termasuk bagaimana AI digunakan untuk memperkuat fungsi-fungsi
tersebut.
Klaster hijau berisi kata kunci seperti approach,
research, teaching, dan challenge, yang mencerminkan perhatian pada
pendekatan metodologis dalam mengkaji pendidikan Islam. Klaster ini menekankan
penggunaan metode ilmiah untuk memahami tantangan internal maupun eksternal
pendidikan Islam di tengah perubahan teknologi.
Klaster kuning berkaitan dengan aplikasi
teknologi, mencakup system, application, development, dan evaluation.
Fokusnya adalah pengembangan sistem cerdas dan aplikasi berbasis AI yang
mendukung pembelajaran Islam secara praktis dan sesuai kebutuhan pendidikan.
Klaster biru muda menyoroti integrasi AI
dalam konteks pendidikan tinggi, dengan kata kunci seperti machine learning,
algorithm, data, dan higher education. Tema ini berkaitan dengan
penggunaan AI untuk analisis performa, personalisasi materi, dan pengembangan
kurikulum pada tingkat universitas.
Klaster ungu lebih teknis, dengan fokus
pada effectiveness dan accuracy, serta evaluasi tool pendidikan
oleh para ahli. Klaster ini berorientasi pada optimalisasi penggunaan teknologi agar
relevan, efektif, dan sesuai konteks lokal, khususnya di Indonesia.
Umumnya, pemetaan
ini menunjukkan bahwa kajian AI dan pendidikan Islam bersifat multidimensi dan
interdisipliner. Kata kunci dominan seperti learning, education, model, data,
dan research memperlihatkan bahwa bidang ini menghubungkan inovasi teknologi dengan
nilai-nilai pendidikan Islam, sehingga menuntut sintesis antara kecanggihan AI
dan prinsip keislaman untuk membangun sistem pendidikan yang adaptif dan
berakar pada nilai etis-spiritual.
Gambar 4. Hasil Pemetaan Topik dengan Mode Tampilan Overlay Visualization
Sumber: Hasil Olah Data (2025)
Selanjutnya, Gambar 4 menampilkan
pemetaan perkembangan topik riset AI dan pendidikan Islam melalui Overlay
Visualization VOSviewer. Warna biru menunjukkan topik yang dominan pada
periode awal (2016–2018), sementara hijau–kuning menandai topik yang lebih baru
hingga 2024. Kata kunci seperti education, learning, study, data, model,
dan application tampak sentral dan berfrekuensi tinggi, menunjukkan
posisi pentingnya dalam keseluruhan ekosistem penelitian.
Topik-topik bernuansa biru seperti religion,
form, practice, process, dan role menunjukkan fokus awal penelitian
pada aspek normatif dan pedagogis pendidikan Islam. Sebaliknya, kata kunci
kekuningan seperti deep learning, classification, topic modeling, dan
teknologi AI mutakhir menandakan masuknya pendekatan teknis seperti NLP dan
pembelajaran mendalam dalam diskursus pendidikan Islam. Munculnya kata tool,
outcome, dan implication menunjukkan perhatian terhadap efektivitas
penerapan teknologi tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, riset
semakin bergeser ke arah teknologis dan aplikatif, terlihat dari kata kunci
berwarna kuning seperti educator, course, machine learning, insight,
evaluation, dan stakeholder. Ini mencerminkan perhatian baru pada
desain kurikulum digital, peran pendidik, analisis data pembelajaran, evaluasi
berbasis data, serta keterlibatan banyak pihak dalam ekosistem pendidikan.
Selain itu, warna kuning pada kata machine,
algorithm, subject, dan higher education menegaskan bahwa
integrasi AI telah meluas ke konteks pendidikan tinggi—meliputi personalisasi
pembelajaran, analisis performa mahasiswa, dan pengembangan kurikulum
responsif.
Secara umum, visualisasi ini menunjukkan
pergeseran paradigma riset dari fokus konseptual tradisional menuju pendekatan
berbasis teknologi dan data. Peta ini menjadi rujukan penting untuk memahami
dinamika perkembangan penelitian serta arah strategis pengembangan AI dalam
pendidikan Islam yang tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Gambar 5. Hasil Pemetaan Topik dengan Mode Tampilan Density Visualization
Sumber: Hasil Olah Data (2025)
Gambar 5 menggambarkan hasil pemetaan
visual topik-topik kajian yang muncul dalam literatur terkait Artificial
Intelligence (AI) dan pendidikan Islam, yang dianalisis menggunakan
aplikasi VOSviewer dalam mode tampilan Density Visualization.
Mode ini memperlihatkan sebaran kepadatan kata kunci dalam bentuk gradasi
warna: dari kuning cerah (frekuensi sangat tinggi), hijau (frekuensi sedang),
hingga biru gelap (frekuensi rendah). Peta ini menjadi alat bantu penting untuk
mengenali tren dominan, wilayah kajian yang mapan, serta area riset yang masih
terbuka luas untuk eksplorasi lanjutan.
1. Konsentrasi Kajian Utama (Wilayah
Kuning Cerah di Pusat Visualisasi)
Pemetaan menunjukkan bahwa kata kunci
seperti study, research, education, data, model, learning, dan system
memiliki kepadatan tertinggi. Ini menegaskan bahwa literatur AI dalam pendidikan Islam
berfokus pada aspek konseptual dan teknis integrasi AI.
Kata kunci study,
research, dan education menunjukkan dominasi pendekatan akademik dan
teoretis, termasuk pembahasan etika, fondasi konseptual, dan dokumentasi
praktik inovatif. Sementara itu, data, model, dan system mencerminkan kuatnya
pengaruh paradigma data science, di mana pendidikan Islam dipahami sebagai
sistem yang dapat dimodelkan, diotomatisasi, dan dioptimalkan dengan algoritma
AI.
Aplikasi seperti
personalized learning, automated assessment, early warning system, serta
pengembangan konten keislaman berbasis NLP menjadi bagian dari ekosistem
teknologi yang berkembang dalam pendidikan Islam modern.
Secara
strategis, fokus literatur yang sangat kuat terhadap aspek model dan data
menunjukkan bahwa masa depan pendidikan Islam tampaknya tidak dapat dilepaskan
dari pendekatan teknologi yang menekankan pada pengukuran, efisiensi, dan
optimalisasi. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Hasanah (2024) yang menegaskan bahwa pendidikan
Islam dalam Society 5.0 mengalami pergeseran menuju pembelajaran
berbasis data dan otomatisasi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Penelitian Elihami dkk. (2024) juga menunjukkan pola serupa, di mana
manajemen mutu pendidikan Islam semakin bergeser ke arah data-driven decision
making melalui pemanfaatan teknologi cerdas dalam pengelolaan institusi. Di sisi lain, fokus literatur pada
optimalisasi melalui model dan analitik juga diperkuat oleh Zahraini dkk. (2025) yang mengidentifikasi bahwa modernisasi
kurikulum pendidikan Islam di era digital sangat bergantung pada kemampuan
institusi mengintegrasikan sistem teknologi yang berorientasi efisiensi.
Lebih lanjut,
temuan bahwa pendidikan Islam perlu menyiapkan kerangka konseptual yang mampu
menjembatani nilai-nilai Islam dengan logika sistemik teknologi AI juga
didukung oleh berbagai penelitian terdahulu. Othman & Yaakub (2025) menekankan bahwa lembaga pendidikan
tinggi Islam membutuhkan konsep Islamic knowledge management yang kompatibel
dengan digitalisasi agar tidak tertinggal dalam transformasi global. Demikian
pula, Pahrudin dkk. (2023) menegaskan bahwa pengembangan kurikulum
pendidikan Islam di era Internet of Things menuntut harmonisasi antara
nilai-nilai keislaman dengan desain sistem teknologi yang bersifat otomatis,
terukur, dan berbasis data. Jika penelitian-penelitian sebelumnya menyoroti isu
ini secara normatif, temuan bibliometrik penelitian ini memberikan bukti
kuantitatif bahwa kebutuhan integrasi nilai Islam dan logika kecerdasan buatan
telah menjadi arus utama dalam publikasi akademik, bukan sekadar wacana
teoretis. Oleh karena itu, posisi temuan penelitian ini tidak berdiri sendiri,
melainkan memperkuat kecenderungan literatur global sambil memberikan pemetaan
komprehensif yang belum dilakukan oleh studi-studi sebelumnya.
2. Penguatan Dimensi Teknologis dan
Algoritmik (Wilayah Hijau Kuning Sekitar Inti)
Kemunculan kata kunci seperti application,
machine, machine learning, algorithm, development,
dan evaluation dalam peta literatur menunjukkan adanya tren kuat menuju
integrasi teknologi canggih ke dalam struktur pendidikan Islam. Hal ini
menandakan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak lagi diposisikan hanya sebagai
topik kajian konseptual, tetapi telah mulai diimplementasikan secara nyata
dalam berbagai aspek pendidikan Islam.
Secara lebih
spesifik, kata kunci machine learning dan algorithm merujuk pada
pemanfaatan AI dalam tugas-tugas teknis seperti klasifikasi dan prediksi. Dalam
konteks pendidikan Islam, hal ini mencakup, misalnya, penentuan konten Islami
yang sesuai dengan tingkat usia atau jenjang pendidikan siswa, klasifikasi
teks-teks keislaman seperti tafsir dan hadits, serta proses verifikasi konten
keagamaan yang tersebar di internet untuk menjaga keaslian dan akurasi ajaran
yang disampaikan. Dengan demikian, AI mulai memainkan peran penting dalam
menjaga kualitas dan ketepatan materi ajar Islami di era digital.
Sementara itu,
kehadiran kata kunci evaluation dan application mengindikasikan
adanya kesadaran untuk secara terus-menerus menilai efektivitas penerapan AI,
terutama dalam konteks pendidikan yang berbasis nilai-nilai keislaman.
Teknologi tidak dipandang sebagai pengganti peran pendidikan, melainkan sebagai
alat bantu yang bertujuan untuk memperkuat fungsinya sebagai sarana pembentukan
karakter dan akhlak. Evaluasi terhadap aplikasi AI ini menjadi penting untuk
memastikan bahwa inovasi teknologi tetap berada dalam koridor etika dan tujuan
utama pendidikan Islam.
Secara konseptual,
integrasi AI ke dalam pendidikan Islam tidak hanya menuntut kompetensi teknis
dari para pengembang dan pendidik, tetapi juga membutuhkan sensitivitas
terhadap nilai, norma, dan konteks lokal umat Islam. Algoritma dan sistem AI
yang digunakan dalam lingkungan pendidikan Islam tidak dapat dikembangkan
secara netral, melainkan harus secara sadar menginternalisasi prinsip-prinsip
ajaran Islam. Hal ini mencakup pertimbangan etis, keadilan dalam akses
teknologi, serta relevansi budaya dan spiritualitas yang khas dalam dunia
pendidikan Islam.
3. Peran Kontekstual dan Sosial (Wilayah
Hijau Tua hingga Biru di Pinggiran Tengah)
Kata kunci seperti
teacher, practice, role, approach, dan process menunjukkan bahwa dimensi sosial
pendidikan—peran guru, strategi pembelajaran, dan interaksi pedagogis—tetap
diperhatikan meski tidak sedominan aspek teknis.
Kata teacher dan
role menegaskan bahwa guru masih menjadi aktor utama dalam pendidikan Islam. AI
dipandang bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai pendukung yang memperkuat efektivitas
guru, sekaligus mendorong perubahan peran mereka menjadi learning facilitator.
Transisi ini membutuhkan kurikulum adaptif dan pelatihan berkelanjutan.
Sementara itu, approach dan process
menandakan eksplorasi metode seperti blended learning, experiential learning,
dan model digital lainnya yang mengintegrasikan AI secara kontekstual.
Penting dicatat bahwa perubahan
ekosistem pendidikan akibat AI harus tetap mempertimbangkan relasi sosial dan
kultural dalam pendidikan Islam—khususnya hubungan guru–murid dan tradisi
transmisi ilmu. Karena itu, integrasi AI perlu dijalankan dengan kesadaran
terhadap nilai-nilai sosial, spiritual, dan kultural yang menjadi fondasi
pendidikan Islam.
4. Dimensi Filosofis, Budaya, dan Nilai (Wilayah Pinggiran
Biru Tua)
Kemunculan
kata kunci seperti religion, culture, value, responsibility, principle, dan
understanding di area biru menunjukkan bahwa aspek filosofis, etis, dan
kultural pendidikan Islam masih jarang dibahas dalam kajian integrasi AI.
Padahal, nilai, akhlak, dan spiritualitas merupakan fondasi utama pendidikan
Islam.
Minimnya fokus pada religion dan value
menandakan adanya kekosongan konseptual terkait bagaimana nilai-nilai Islam
direpresentasikan atau dipengaruhi oleh sistem AI. Teknologi yang digunakan
dalam pendidikan Islam seharusnya tidak netral nilai, sehingga perlu kajian
kritis mengenai sejauh mana AI menjaga atau justru mengaburkan prinsip-prinsip
Islam.
Rendahnya kemunculan kata kunci
responsibility dan principle juga menunjukkan kurang berkembangnya diskursus
etika teknologi dalam pendidikan Islam. Padahal, isu seperti tanggung jawab
moral pengembang, transparansi algoritma, dan keadilan akses sangat penting
untuk mencegah dampak negatif AI.
Kondisi ini membuka peluang riset besar
untuk merumuskan kerangka yang mengintegrasikan etika Islam, filsafat
pendidikan Islam, dan AI ethics. Pendekatan ini penting agar teknologi cerdas
yang digunakan tidak hanya inovatif dan efisien, tetapi juga adil, bermakna,
dan selaras dengan nilai-nilai Islam.
5. Topik-topik Emerging dan Area Riset Masa Depan
(Pinggiran Luar Visualisasi)
Kata kunci seperti documentation,
review, lecturer, efficiency, higher education, Islamic perspective, dan deep
understanding muncul dengan frekuensi sangat rendah, menunjukkan adanya celah
penting dalam riset AI dan pendidikan Islam. Minimnya documentation dan review
menandakan kurangnya kajian sistematis atas praktik dan dampak penerapan AI.
Rendahnya fokus pada lecturer dan higher education menunjukkan bahwa peran
dosen dan konteks pendidikan tinggi belum banyak dieksplorasi, padahal keduanya
sangat strategis.
Kurangnya pembahasan tentang efficiency
dan deep understanding menunjukkan bahwa efektivitas AI dan pemahaman mendalam
terhadap materi maupun implikasi etisnya masih belum menjadi perhatian.
Sementara itu, lemahnya representasi Islamic perspective memperlihatkan bahwa
nilai-nilai Islam belum cukup dijadikan landasan dalam pengembangan teknologi
pendidikan.
Topik-topik ini membuka peluang riset
penting untuk memperkuat integrasi AI yang tidak hanya teknologis, tetapi juga
bernuansa nilai dan konteks. Diperlukan pendekatan yang lebih humanistik dan
kontekstual—seperti studi berbasis pengalaman pengguna, etnografi pendidikan,
dan sensitivitas lokal—agar integrasi AI dalam pendidikan Islam lebih
reflektif, etis, dan berakar pada nilai-nilai keislaman.
Peta density visualization ini
secara strategis bukan hanya menunjukkan isu yang dominan, tapi juga mengungkap
area yang belum tergarap namun sangat potensial. Beberapa poin penting yang
dapat disimpulkan:
1. Fokus riset masih teknis dan sistemik,
dengan dominasi pada data, model, dan sistem.
2. Aspek sosial, filosofis, dan nilai Islam
masih kurang mendapat perhatian.
3. Pendekatan kuantitatif mendominasi,
sementara studi kualitatif kontekstual masih sangat terbatas.
4. Eksplorasi berbasis wilayah, budaya, dan
keragaman lokal masih minim, padahal sangat relevan dalam konteks pendidikan
Islam.
5.
Dengan mengisi celah-celah ini, riset ke
depan dapat mendorong terciptanya integrasi antara kecanggihan teknologi dan
nilai-nilai keislaman yang kontekstual, inklusif, dan berdaya transformasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan temuan bibliometrik
mengenai perkembangan kajian Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan Islam, beberapa
kesimpulan utama dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Tren
Publikasi. Terdapat 74 publikasi terkait topik AI dalam pendidikan Islam,
dengan tren peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir, menunjukkan
meningkatnya minat akademik dan kebijakan pada tema ini.
2.
Kepenulisan dan Sitasi
a.
Terdapat
delapan penulis paling produktif dengan masing-masing dua publikasi.
b.
Artikel yang
paling banyak dikutip adalah karya Taufik M. (2020) dengan 21 sitasi, menandakan pengaruh kuat dalam diskursus
pendidikan Islam dan transformasi digital.
3.
Media,
Institusi, dan Negara Paling Produktif
a.
Lecture Notes in Networks and Systems menjadi outlet publikasi paling dominan (5 artikel).
b.
Universiti Kebangsaan Malaysia, International Islamic University Malaysia, dan UIN Sunan Gunung Djati menjadi
institusi dengan kontribusi publikasi tertinggi (masing-masing 4).
c.
Indonesia
adalah negara paling produktif dengan 33 publikasi, menggambarkan tingginya
perhatian terhadap integrasi AI dalam pendidikan Islam.
4.
Pemetaan
Topik
a.
Kata kunci
dominan meliputi learning, education, model, data, dan approach,
menunjukkan fokus kuat pada aspek teknis, model, dan pendekatan berbasis data.
b.
Kata kunci
yang mulai berkembang mencakup educator, machine learning, evaluation, dan stakeholder.
c.
Beberapa
tema seperti Islamic perspective, lecturer, documentation, dan deep understanding
masih jarang
d.
diteliti dan menjadi peluang riset lanjutan.
Kesimpulan ini menegaskan
bahwa integrasi AI dalam pendidikan Islam berkembang pesat, namun masih
menyisakan ruang eksplorasi ilmiah yang luas, khususnya terkait perspektif
keislaman, penguatan peran pendidik, serta pengembangan kurikulum berbasis
teknologi cerdas.
Keterbatasan
Penelitian dan Saran Penelitian Berikutnya
Penelitian ini
memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, data hanya
diperoleh dari database Scopus sehingga belum sepenuhnya menggambarkan
kontribusi riset dari jurnal nasional atau publikasi non-Inggris yang relevan
dengan pendidikan Islam. Kedua, pendekatan bibliometrik yang bersifat
kuantitatif tidak menggali kedalaman isi, metodologi, maupun analisis teoretis
setiap artikel, sehingga interpretasi hasil masih bersifat makro. Ketiga,
dinamika perkembangan teknologi AI yang sangat cepat dapat menyebabkan adanya
jeda antara temuan bibliometrik dan praktik aktual di lapangan.
Penelitian
selanjutnya disarankan untuk melengkapi analisis kuantitatif dengan pendekatan
kualitatif yang menggali pengalaman praktisi—guru, dosen, dan siswa—dalam
penerapan AI di pendidikan Islam. Integrasi nilai-nilai Islam dalam desain,
penggunaan, dan evaluasi teknologi cerdas juga perlu lebih diperdalam, termasuk
kajian etika dan filosofinya. Selain itu, perluasan sumber data ke basis data
nasional dan internasional lainnya akan memberikan gambaran yang lebih
komprehensif. Dengan demikian, arah pengembangan AI dalam pendidikan Islam ke
depan dapat lebih seimbang antara inovasi teknologi dan prinsip-prinsip keislaman.
DAFTAR PUSTAKA
Aidah Novianti Putri, & Moh. Abdul
Kholiq Hasan. (2022). Penerapan Kecerdasan Buatan sebagai Media Pembelajaran
Bahasa Arab di Era Society 5.0. Tarling : Journal of Language Education, 7(1), 69–80.
https://doi.org/10.24090/tarling.v7i1.8501
Alviz-Meza, A.,
Orozco-Agamez, J., Quinayá, D. C. P., & Alviz-Amador, A. (2023). Bibliometric Analysis of Fourth Industrial
Revolution Applied to Material Sciences Based on Web of Science and Scopus
Databases from 2017 to 2021. ChemEngineering, 7(1), 2.
https://doi.org/10.3390/chemengineering7010002
Butt, R., Siddiqui, H., Soomro, R. A., & Asad, M. M.
(2020). Integration of Industrial Revolution 4.0 and IOTs in academia: a
state-of-the-art review on the concept of Education 4.0 in Pakistan. Interactive
Technology and Smart Education, 17(4), 337–354.
https://doi.org/10.1108/ITSE-02-2020-0022
Donthu, N., Kumar, S., Mukherjee, D., Pandey, N., & Lim,
W. M. (2021). How To Conduct A Bibliometric Analysis: An Overview And
Guidelines. Journal of Business Research, 133, 285–296.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2021.04.070.
Elihami, E., Masuwd, M. A., Sheerly, S., Ismail, I., Sitonda,
S., & Sudirman, M. Y. (2024). Data-driven approaches in Islamic quality
management and education technology for advancing sustainable development
goals. Jurnal Pendidikan Progresif, 14(3), 1599–1616.
Fahimirad, M., & Kotamjani, S. S. (2018). A Review on
Application of Artificial Intelligence in Teaching and Learning in Educational
Contexts. International Journal of Learning and Development, 8(4),
106. https://doi.org/10.5296/ijld.v8i4.14057
Firdaus, M. R., Irawan, R. R., Mahardika, C. H. Y., Gaol, P.
L., & Prinaryanto, B. A. (2024). Tantangan Teknologi Artificial
Intelligence Pada Kegiatan Pembelajaran Mahasiswa. Indonesian Journal of
Education and Development Research, 2(1), 379–384.
https://doi.org/10.57235/ijedr.v2i1.1781
Gera, R., Chadha,
P., Saxena, A., & Dixit, S. (2024). A Scientometric and Bibliometric Review of Impacts and
Application of Artificial Intelligence and Fintech for Financial Inclusion. In Artificial
Intelligence, Fintech, and Financial Inclusion (pp. 82–111). CRC Press.
Gunawan, S., & Arifin, S. (2025). Implementasi Inovasi
Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Buatan dalam Meningkatkan Partisipasi Aktif
Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Al-Qur’an Hadis di
Madrasah Tsanawiyah. Jurnal Ilmu Pendidikan, 1(2), 114–124.
https://ojs.pustakapublisher.com/index.php/jurnalilmupendidikan/article/view/39.
Hasanah, N. A. (2024). Opportunities and Challenges for
Islamic Education in Society 5.0. Islam Transformatif: Journal of Islamic
Studies, 8(2), 264–281.
Mukherjee, D., Lim, W. M., Kumar, S., & Donthu, N.
(2022). Guidelines for advancing theory and practice through bibliometric
research. Journal of Business Research, 148, 101–115.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2022.04.042.
Nopiyanti, N. (2025). Analisis Pembelajaran Al-Qur’an dan
Hadis Berbasis Artificial Intelligence dalam Internalisasi Keterampilan Abad 21
di Madrasah Ibtidaiyah. AL-MANAR: Jurnal Komunikasi Dan Pendidikan Islam,
14(1), 45–55. https://doi.org/https://doi.org/10.36668/jal.v14i1.1253.
Nurhayati, R., Nur, T. B., Sudirman, P., Adillah, N.,
Sitompul, A. S., & Urva, M. (2024). Dinamika Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam Berbasis Artificial Intelligence (AI). Prosiding Seminar
Nasional Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan Iaim Sinjai, 3, 1–7.
https://doi.org/10.47435/sentikjar.v3i0.3131
Okonkwo, C. W.,
& Ade-Ibijola, A. (2021). Chatbots applications in education: A systematic review. Computers
and Education: Artificial Intelligence, 2, 100033. https://doi.org/10.1016/j.caeai.2021.100033
Othman, K., & Yaakub, M. B. (2025). Islamic Knowledge Management Reservoir
Adaptation to Information and Digitalize Technology for Global Islamic Higher
Education Institution. LECTURES: Journal of Islamic and Education Studies,
4(2), 205–223.
Ozturk, O. (2021). Bibliometric Review of Resource Dependence
Theory Literature: An Overview. Management Review Quarterly, 71(3),
525–552. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s11301-020-00192-8.
Öztürk, O., Kocaman, R., & Kanbach, D. K. (2024). How to
design bibliometric research: an overview and a framework proposal. Review
of Managerial Science, 1–29. https://doi.org/10.1007/s11846-024-00738-0.
Pahrudin, A., Wakidi, W., & Anggini, V. (2023).
Curriculum Development Management of Islamic Education in The Internet of
Things Era. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 11(2),
150–167.
Pérez, J. Q.,
Daradoumis, T., & Puig, J. M. M. (2020). Rediscovering the use of chatbots in
education: A systematic literature review. Computer Applications in
Engineering Education, 28(6), 1549–1565.
https://doi.org/10.1002/cae.22326
Pratama, E. B., Hendini, A., Yanto, Y., & Hidayat, W. F.
(2024). Menggali Potensi Belajar Mengajar Dengan Teknologi Ai (Artificial
Intelligence). Jati (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika), 7(6),
3530–3534. https://doi.org/10.36040/jati.v7i6.8956
Pratiwi, S. A.,
Bramastia, B., & Purnama, E. K. (2022). Integrasi Teknologi Dalam
Pendidikan Di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Kwangsan, 10(1), 131.
https://doi.org/10.31800/jtp.kw.v10n1.p131--146
Ramadhan, A. R. (2023). Strategi penggunaan
chatbot artificial intelligence dalam pembelajaran Bahasa Arab pada perguruan
tinggi di Indonesia. Jurnal Oase Nusantara, 2(2), 77–86.
https://ejurnal.kptk.or.id/oase/article/view/32.
Sodik, A. (2024).
Peran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Dalam Mendorong Inovasi
Manajemen Pendidikan Islam Di Era Revolusi Industri 4.0. An Naba, 7(1),
9–18. https://doi.org/10.51614/annaba.v7i1.388
Van-Eck, N. J., & Waltman, L. (2010). Software Survey:
VOSviewer, A Computer Program for Bibliometric Mapping. Scientometrics, 84(2),
523–538. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s11192-009-0146-3.
Van-Eck, N. J., & Waltman, L. (2022). VOSviewer
Manual: Manual for VOSviewer version 1.6.18. Universitet Leiden & CWTS
Meaningful Metrics.
https://www.vosviewer.com/documentation/Manual_VOSviewer_1.6.18.pdf.
Xu, Y., Liu, X., Cao, X., Huang, C., Liu, E., Qian, S., Liu,
X., Wu, Y., Dong, F., Qiu, C.-W., Qiu, J., Hua, K., Su, W., Wu, J., Xu, H.,
Han, Y., Fu, C., Yin, Z., Liu, M., … Zhang, J. (2021). Artificial intelligence:
A powerful paradigm for scientific research. The Innovation, 2(4),
100179. https://doi.org/10.1016/j.xinn.2021.100179
Zahraini, Z., Akib, A., Rosidin, R., & Sulaeman, O.
(2025). Islamic education reform in the digital age: Challenges and
opportunities for a modern curriculum. Journal of Noesantara Islamic Studies,
2(1), 1–11.